Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim pertemuan selama dua hari di Beijing dengan Presiden China Xi Jinping sukses besar meski belum banyak detail resmi yang diumumkan.
Trump menyebut, kedua negara telah mencapai kesepakatan dagang fantastis yang menguntungkan kedua negara, kendati belum secara resmi mengumumkan hasil pertemuan.
Melansir BBC, Sabtu (16/5/2026), Trump tiba di China pada Rabu untuk menghadiri pertemuan penting dengan Xi Jinping. Dia didampingi sejumlah CEO perusahaan besar dari sektor pertanian, penerbangan, kendaraan listrik, hingga chip kecerdasan buatan (AI).
Isu perdagangan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut, di tengah ketegangan terbaru terkait perang Iran. Pelaku bisnis mengharapkan kedua negara dapat mencapai kesepakatan penting sekaligus memperpanjang gencatan tarif dagang yang akan berakhir pada November mendatang.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, pada Jumat mengonfirmasi bahwa Xi akan mengunjungi Gedung Putih pada musim gugur tahun ini.
Meski demikian, kedua negara belum mengumumkan terobosan besar dalam perdagangan maupun kesepakatan bisnis signifikan.
Baca Juga
- Trump Klaim AS-China Capai Kesepakatan Dagang 'Fantastis'
- Xi Jinping dan Trump Sepakat Selat Hormuz Harus Tetap Dibuka
- Honda Catat Rugi Perdana dalam 70 Tahun Imbas Lesunya Pasar EV & Tarif Trump
Trump mengatakan kepada wartawan di pesawat Air Force One bahwa China setuju membeli 200 pesawat Boeing, dengan potensi tambahan pembelian hingga 750 pesawat lagi. Perusahaan pembuat pesawat Boeing juga mengonfirmasi kesepakatan tersebut.
Orang nomor satu di AS itu menyebut bahwa petani AS akan diuntungkan karena China disebut akan membeli kedelai senilai miliaran dolar AS. Kendati begitu, hingga kini pemerintah China belum memberikan konfirmasi resmi terkait pembelian tersebut.
Apabila terealisasi, pesanan Boeing ini akan menjadi kesepakatan besar pertama perusahaan itu dengan China dalam hampir satu dekade terakhir. Sebelumnya, Boeing sempat tersisih dari pasar penerbangan China akibat ketegangan dagang antara Beijing dan Washington.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, hanya mengatakan bahwa hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS pada dasarnya bersifat ‘saling menguntungkan dan win-win co-operation’.
Menurutnya, kedua negara perlu menjalankan kesepakatan penting yang telah dicapai para pemimpin demi menjaga stabilitas hubungan dagang bilateral dan ekonomi global.
Masih ada pertanyaan mengenai kelanjutan gencatan perang dagang yang disepakati pada Oktober lalu. Saat itu, Washington menunda kenaikan tarif tinggi terhadap barang-barang China, sementara Beijing melonggarkan pembatasan ekspor logam tanah jarang yang penting untuk industri manufaktur.
Menariknya, Trump mengaku dirinya dan Xi sama sekali tidak membahas tarif dalam pertemuan tersebut.
Meski begitu, Gedung Putih menyebut kedua pemimpin sepakat membentuk “Board of Trade” untuk mengelola hubungan perdagangan tanpa harus membuka kembali negosiasi tarif.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang memimpin negosiasi dagang dari pihak Washington, mengatakan ada kemajuan terkait mekanisme untuk mendukung investasi di masa depan.
Namun, pejabat AS mengingatkan masih banyak hal yang harus diselesaikan sebelum berbagai pengumuman tersebut benar-benar berlaku.





