Menjaga Urat Nadi Digital Bangsa

republika.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Suwatno, Guru Besar Komunikasi Organisasi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Hari ini manusia dapat bekerja, belajar, berdagang, bahkan membangun relasi sosial hanya melalui layar digital. Ketika jaringan internet terganggu beberapa menit saja, aktivitas ekonomi, komunikasi, hingga layanan publik dapat ikut lumpuh. Dunia modern ternyata hidup di atas sesuatu yang nyaris tak terlihat: urat nadi digital.

Momentum Hari Telekomunikasi dan Masyarakat Informasi Sedunia atau World Telecommunication and Information Society Day (WTISD) yang diperingati setiap 17 Mei menjadi pengingat bahwa komunikasi telah menjadi fondasi utama kehidupan modern.

Tema WTISD 2026, “Strengthening digital lifelines for a resilient and connected world”, menegaskan pentingnya memperkuat “urat nadi digital” untuk menciptakan dunia yang tangguh dan saling terhubung.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Istilah digital lifelines atau urat nadi digital merujuk pada jaringan dan infrastruktur yang menopang kehidupan masyarakat modern, seperti internet, kabel serat optik, satelit komunikasi, pusat data, dan sistem komunikasi digital lainnya.

Jika jaringan tersebut terganggu, aktivitas sosial dan ekonomi dapat ikut melemah. Karena itu, jaringan digital kini bukan lagi sekadar fasilitas teknologi, melainkan fondasi penting kehidupan kontemporer.

Sejarah telekomunikasi modern sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1865 ketika sejumlah negara di Eropa menandatangani Konvensi Telegraf Internasional dan membentuk organisasi yang kini dikenal sebagai International Telecommunication Union (ITU).

Sejak saat itu, dunia memasuki era percepatan komunikasi. Telegraf mempercepat pesan, radio mempercepat suara, televisi mempercepat gambar, dan internet mempercepat arus informasi global.

Kini, dunia memasuki era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Komunikasi tidak lagi hanya berlangsung antarmanusia, tetapi juga antara manusia dan sistem AI yang mampu menghasilkan teks, gambar, dan informasi secara instan.

Teknologi berkembang sangat cepat dan menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Indonesia, tema penguatan urat nadi digital menjadi sangat relevan. Sebagai negara kepulauan, konektivitas merupakan kebutuhan strategis nasional. Pada masa lalu, integrasi bangsa sangat bergantung pada jalur laut dan transportasi fisik.

Kini, integrasi nasional semakin ditentukan oleh jaringan internet, pusat data, satelit komunikasi, dan sistem digital yang menghubungkan masyarakat dari berbagai wilayah.

Pandemi Covid-19 menjadi bukti nyata pentingnya konektivitas digital tersebut. Ketika mobilitas masyarakat dibatasi, aktivitas nasional tetap berjalan melalui jaringan internet.

Dunia pendidikan beralih ke pembelajaran daring, rapat dilakukan secara virtual, dan transaksi ekonomi digital meningkat pesat. Kehidupan sosial dan ekonomi Indonesia terbukti sangat bergantung pada stabilitas jaringan komunikasi digital.

Ketahanan Digital Bangsa

Dalam konteks itulah, infrastruktur digital perlu dipandang sebagai bagian penting dari ketahanan nasional Indonesia. Selama ini ketahanan negara lebih sering dipahami dalam konteks militer, energi, atau pangan.

Padahal di era digital, keamanan siber, stabilitas jaringan komunikasi, dan perlindungan data juga menentukan daya tahan sebuah bangsa. Gangguan terhadap sistem digital dapat menimbulkan dampak yang luas.

Kebocoran data pribadi, serangan siber terhadap lembaga publik, hingga penyebaran hoaks menunjukkan bahwa ancaman digital semakin nyata. Negara yang tidak mampu menjaga infrastruktur digitalnya akan sangat rentan terhadap gangguan ekonomi, disinformasi, bahkan instabilitas sosial.

Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan besar dalam pembangunan digital. Kesenjangan akses internet antardaerah masih cukup tinggi. Banyak wilayah terpencil belum menikmati kualitas jaringan yang memadai.

Ketimpangan tersebut berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan, ekonomi, dan akses informasi masyarakat. Karena itu, pembangunan digital tidak boleh hanya berpusat di kota-kota besar.

Negara perlu memastikan bahwa transformasi digital dapat dirasakan secara lebih merata oleh seluruh masyarakat Indonesia. Pemerataan konektivitas menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan nasional di era digital.

Selain pembangunan jaringan, Indonesia juga perlu memperkuat keamanan siber dan perlindungan data masyarakat. Di tengah derasnya arus digital global, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar teknologi. Indonesia harus mampu menjaga kedaulatan digitalnya sendiri, termasuk dalam pengelolaan data dan keamanan ruang digital nasional.

Transformasi digital memang membuka peluang ekonomi yang besar. Akan tetapi, tanpa kesiapan yang memadai, percepatan digital juga dapat melahirkan kerentanan baru. Karena itu, penguatan urat nadi digital harus dibangun secara seimbang antara aspek teknologi, keamanan, dan kepentingan manusia.

Menjaga Kualitas Manusia

Meski demikian, tantangan terbesar era digital sebenarnya bukan hanya soal teknologi, melainkan soal manusia itu sendiri. Dunia modern memang semakin terhubung, tetapi belum tentu semakin memahami satu sama lain secara mendalam.

Media sosial membuat komunikasi berlangsung tanpa batas ruang dan waktu, tetapi juga melahirkan budaya serba cepat, dangkal, dan reaktif.

Fenomena tersebut semakin terasa pada era AI saat ini. Teknologi mampu menghasilkan informasi dalam hitungan detik dan menawarkan efisiensi luar biasa. Akan tetapi, manusia juga berisiko semakin bergantung pada mesin dalam proses berpikirnya.

Ketika segala sesuatu dapat diringkas dan diotomatisasi, kemampuan merenung dan berpikir mendalam perlahan dapat melemah.

Di tengah arus informasi yang begitu cepat, masyarakat sering lebih mudah bereaksi daripada memahami. Ruang digital dipenuhi opini singkat, kemarahan sesaat, dan informasi yang bergerak tanpa proses verifikasi memadai. Akibatnya, kualitas dialog publik sering kali menurun.

Karena itu, pembangunan digital tidak boleh berhenti pada pembangunan kabel, jaringan internet, atau pusat data semata. Penguatan digital juga harus diiringi dengan penguatan literasi digital, etika komunikasi, dan kemampuan berpikir kritis masyarakat. Teknologi seharusnya membantu manusia menjadi lebih bijak, bukan justru kehilangan kedalaman nalar.

Pendidikan memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan tersebut. Sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan digital, tetapi juga perlu membangun karakter, etika, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Kemajuan teknologi tanpa kematangan moral justru dapat melahirkan krisis sosial baru.

Pada akhirnya, kemajuan telekomunikasi tidak hanya diukur dari seberapa cepat informasi bergerak, tetapi juga dari seberapa jauh teknologi mampu menjaga martabat manusia.

Sebab urat nadi digital yang paling penting sesungguhnya bukan hanya kabel dan jaringan internet, melainkan kualitas manusia yang menggunakannya. Dalam konteks itulah, penguatan digital bangsa harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat peradaban.

Sebagaimana diingatkan Albert Einstein, “Perhatian terhadap manusia dan masa depannya harus selalu menjadi tujuan utama dari setiap pengembangan teknologi.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
@font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Van Gastel ingin PSIM tutup laga kandang terakhir dengan kemenangan
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Ada Kirab Mahkota Binokasih di Bandung Sabtu Malam, Simak Rutenya
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Belkin BoostCharge Magnetic Power Bank 5K: Ringkas dan Andal
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Wamendagri Tegaskan Dana Otsus Papua 2026 Cair 100 Persen, Ini Faktanya
• 11 jam lalumatamata.com
thumb
DPR RI Targetkan RUU Ketenagakerjaan Rampung Sebelum Oktober 2026 Sesuai Putusan MK
• 17 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.