Wakil Ketua Komisi VIII DPR Abdul Wachid menanggapi laporan jemaah haji yang terpisah dari rombongannya.
Laporan tersebut diterima melalui layanan kawalhaji.go.id yang diluncurkan Kementerian Haji dan Umrah. Abdul Wachid mengatakan, kejadian ini banyak terjadi pada jemaah pengganti atau susulan.
"Di antaranya, hal ini terjadi terutama pada jemaah pergantian. Sebenarnya, ini adalah proses bagi jemaah susulan yang menggantikan mereka yang tidak jadi berangkat, misalnya karena meninggal dunia atau alasan lain yang membuat mereka tidak diberangkatkan," kata Abdul di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (16/5).
Ia menilai persoalan ini berkaitan dengan belum sinkronnya data antara Indonesia dan Arab Saudi.
"Dengan begitu, hal ini tidak akan menjadi masalah bagi pelayanan di Saudi nantinya," kata dia.
Anggota Komisi VIII DPR Selly Andriany Gantina menyayangkan masih adanya jemaah yang terpisah dari rombongan.
"Saya justru menyayangkan apabila ada jemaah yang terlepas dari rombongannya, karena itu akan mengganggu pendistribusian makanan dan konsumsi," kata Selly.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi menyulitkan pihak katering dalam menyalurkan makanan sesuai jumlah jemaah di tiap kloter.
"Ini tentu akan menjadi evaluasi kami saat nanti rapat dengan Kemenhaj," ujarnya.
Selly menilai pemisahan jemaah dari kloter tidak seharusnya terjadi dan perlu ditelusuri penyebabnya.
"Tentu ini menjadi bahan evaluasi kami, kenapa sektor maupun Kadaker bisa memisahkan jemaah dari rombongannya. Dan yang terpenting, tidak boleh ada katering yang terpisah-pisah dari satu kloter," tambah dia.
Pengawasan Fokus di MadinahSelain itu, Selly menyebut DPR akan memantau sejumlah titik krusial di Madinah, khususnya kawasan sekitar Masjid Nabawi.
"Seperti yang kemarin sudah dirapatkan di DPR, bahwa ada beberapa titik-titik poin, terutama di sektor-sektor sekitaran Masjid Nabawi. Kemudian, kita juga akan memperhatikan beberapa titik krusial seperti halnya rumah sakit-rumah sakit yang menyangkut dengan isu kesehatan," kata Selly.
Pengawasan juga mencakup layanan kesehatan dan kualitas akomodasi jemaah.
"Selain itu, ada beberapa katering yang mungkin selera Nusantaranya juga memberikan rasa bosan kepada para jemaah, ini harus menjadi bahan evaluasi kami. Dan yang paling pasti, ada beberapa hotel yang kabarnya sangat tidak layak untuk dilanjutkan di beberapa tahun yang akan datang," kata Selly.





