Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Peresmian itu berselang sekitar enam bulan dari penetapan Marsinah sebagai pahlawan nasional. Marsinah ialah tokoh buruh yang memimpin pemogokan di Sidoarjo, Jatim.
Marsinah dinyatakan hilang pada 5 Mei 1993. Saat itu adalah era Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto. Jenazah Marsinah ditemukan pada 8 Mei 1993 di suatu gubuk di Wilangan, Nganjuk, dengan tubuh penuh luka. Pelakunya belum terungkap hingga kini bahkan saat Marsinah ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
Museum itu berada di tepi jalan Dusun Nglundo. Bangunan bercat putih dengan enam pilar depan itu berada di samping timur rumah kelahiran dan masa kecil Marsinah. Rumah singgah dibangun di belakang museum dipisahkan teras dengan dua kolam dan air mancur yang indah.
Rumah keluarga, museum, dan rumah singgah itu berada sekitar 100 meter di timur laut gapura Desa Nglundo. Gapura berada di tepi Jalan Raya Nasional Madiun-Surabaya. Di seberang gapura berdiri Monumen Pahlawan Buruh Ibu Marsinah dengan kolam pancur bertingkat yang cantik.
Adapun makam Marsinah terletak sekitar 500 meter di utara museum sang tokoh buruh. Segala sesuatu tentang Marsinah ada di Nglundo dan menjadi kebanggaan warga desa sederhana yang memiliki pahlawan nasional.
Museum itu diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto, Sabtu pagi. Pada Sabtu, Presiden juga meresmikan Operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih secara nasional. Peresmian dilakukan di Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono, Nganjuk.
Saat museum itu didatangi, Sabtu sore, para pekerja sedang membongkar alas dan kerangka panggung, tata suara, penyejuk udara, dan tenda di pelatarannya. Museum dan rumah singgah dalam posisi terkunci. Namun, prasasti peresmian oleh Presiden masih ada di depan pintu museum.
Kompas sempat mencoba ke belakang museum atau rumah singgah, ternyata juga terkunci. Akhirnya, coba menemui keluarga Marsinah di rumah sebelah barat museum. Di sini, Kompas ditemui oleh Marsini, kakak Marsinah.
Dengan ramah dan gembira, Marsini meladeni pertanyaan dan rasa ingin tahu. ”Mas, tidak apa terlambat, malah kita bisa mengobrol leluasa. Kalau tadi, wah pasti enggak bisa,” ujarnya sambil menawarkan penganan lemper dan kue basah.
Marsini bercerita, rumah di sebelah museum adalah tempat kelahiran dan masa kecil Marsinah, anak kedua dari tiga bersaudara. Rumah singgah dahulu adalah rumah kerabat tetapi ari-ari Marsinah ditanam di sana.
”Setelah peristiwa itu, saya ingin agar rumah ini jangan sampai dijual. Saya kemudian membeli rumah pakde (bapak gede atau kakak dari orangtua) serta tanah di depannya untuk mengenang Marsinah,” kata Marsini, sang sulung.
Marsini melanjutkan, beberapa tahun terakhir, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) memperjuangkan agar Marsinah mendapat anugerah pahlawan. ”Saya menemui Andi Gani Nena Wea (Presiden KSPSI AGN) untuk mendorong dibangun sesuatu dan beliau setuju,” ujarnya.
Perjuangan buruh mendapatkan perwakilan sebagai pahlawan nasional pun berhasil. Untuk itu, keluarga dan KSPSI AGN sepakat membangun kenang-kenangan berupa museum dan rumah singgah.
Andi Gani, sebelum peresmian museum dan rumah singgah mengatakan, dana pembangunan mencapai Rp 3,8 miliar yang diupayakan secara mandiri oleh KSPSI AGN.
Menurut Andi Gani, KSPSI AGN mengelola jaringan koperasi buruh dengan aset yang kuat. Ia mengklaim jaringan unit koperasi dalam organisasi ini telah mencapai kekuatan aset senilai Rp 2,1 triliun.
Untuk itu, menurut Andi Gani, pembangunan museum dan rumah singgah merupakan wujud penghormatan terhadap Marsinah. Perempuan buruh ini sejak kematiannya ialah simbol perjuangan kaum buruh nasional.
"Museum dan rumah singgah ini wujud penghormatan kami kepada Ibu Marsinah sebagai pejuang buruh sehingga pembangunan secara gotong royong oleh keluarga besar KSPSI,” kata Andi Gani.
Museum Ibu Marsinah akan dibuka untuk umum secara gratis. Masyarakat dapat melihat sejumlah benda yang lekat dengan kehidupan Marsinah antara lain sepeda. Museum dibuka setiap hari pukul 10.00-17.00 WIB.
Marsini mengatakan, pembangunan museum dan rumah singgah itu membuat bangga keluarga dan sepatutnya warga Nglundo. Dari desa kecil di Nganjuk, telah lahir seorang pahlawan nasional buruh.
”Semoga menginspirasi warga untuk membangkitkan ekonomi lewat usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan pariwisata ke desa ini,” kata Marsini.





