TANGERANG, KOMPAS.com - Warga dan pedagang mengakui aktivitas nongkrong di kawasan Perimeter Utara Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, sebenarnya tidak diperbolehkan.
Meski begitu, kawasan tersebut tetap ramai didatangi warga yang ingin bersantai sambil melihat pesawat melintas di area bandara.
Salah seorang pedagang, Kiki (27), mengaku sadar bahwa lokasi tersebut bukan area resmi untuk berjualan maupun berkumpul.
“Kaga boleh sebenarnya, ini kan tanah mereka. Makanya kita mah kalau diusir-usirin kayak gini nurut aja. Mau gimana lagi kan,” kata Kiki saat ditemui Kompas.com di lokasi, Sabtu (16/5/2026).
Baca juga: Jajanan Murah dan Lihat Pesawat Jadi Daya Tarik Nongkrong di Perimeter Bandara Soetta
Ia mengatakan, saat petugas datang berpatroli, pedagang dan pengunjung biasanya langsung berpindah ke area belakang pagar pembatas.
“Ya kalau gini kita pindah nih ke belakang pagar. Itu masih boleh soalnya,” ujarnya.
Namun, Kiki menyebut sebagian pedagang kembali lagi ke titik semula setelah patroli selesai.
“Ya ada aja, soalnya orang yang dateng juga maunya kan nongkrong di sini,” kata dia.
Hal senada disampaikan Amin (35), warga yang datang bersama keluarganya. Ia mengaku sempat diminta berpindah saat berada di lokasi tersebut.
“Ya tadi juga di sana diusir sih makanya pindah ke sini,” ujarnya.
Baca juga: Perimeter Utara Bandara Soetta Jadi Tempat Nongkrong, Warga: Bisa Lihat Pesawat
Meski mengetahui lokasi tersebut tidak diperbolehkan untuk nongkrong, Amin tetap datang karena ingin melihat pesawat dari dekat.
“Gatau ya, mungkin emang sebenernya engga boleh karena takut bahaya tapi ya udah lah,” kata dia.
Pantauan Kompas.com di lokasi, petugas aviation security terlihat berpatroli di sepanjang kawasan Perimeter Utara Bandara Soekarno-Hatta untuk menertibkan warga dan pedagang yang berada di pinggir jalan.
Petugas menyisir satu per satu titik yang digunakan sebagai tempat nongkrong.
Sejumlah pedagang yang menggunakan gerobak atau sepeda motor langsung memindahkan dagangannya.
Sementara itu, pedagang yang menggunakan meja atau stand dibantu warga dan petugas mengangkat barang ke area belakang pagar pembatas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang