Dugaan Child Grooming di SMK Letris Pamulang, Ini yang Perlu Dipahami Orang Tua

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kasus dugaan child grooming mencuat di SMK Letris Pamulang setelah salah satu pejabat sekolah diduga melakukan manipulasi terhadap sejumlah siswi. Kasus ini terungkap setelah ada korban yang berani speak up dan kini tengah ditangani oleh Polres Tangerang Selatan.

Pihak sekolah disebut telah menonaktifkan terduga pelaku serta membentuk tim khusus untuk mendalami kasus tersebut. Peristiwa ini pun kembali mengingatkan pentingnya pemahaman orang tua mengenai child grooming dan tanda-tandanya pada anak.

Apa Itu Child Grooming

Child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa untuk membangun kepercayaan dan kedekatan emosional dengan anak di bawah usia 18 tahun.

Anggota UKK Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr. dr. Ariani Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, menjelaskan bahwa pelaku biasanya menyasar kedekatan emosional agar anak tidak merasa sedang dimanipulasi.

“Ini yang disasar kedekatan emosionalnya agar anak tidak merasa kalau dia dimanipulasi, tetapi tujuan akhir pelaku adalah eksploitasi seksual,” ujar Ariani.

Berbeda dengan kekerasan fisik yang terlihat jelas, grooming umumnya berlangsung perlahan, terencana, dan sering kali sulit dikenali sejak awal.

5 Hal Penting tentang Child Grooming

1. Terjadi secara Bertahap

Pelaku biasanya tidak langsung melakukan kekerasan. Mereka mendekati korban perlahan, membangun hubungan, lalu membuat anak merasa nyaman dan percaya.

2. Pelaku Membangun Kepercayaan

Tak hanya mendekati anak, pelaku juga bisa mencoba mengambil hati lingkungan sekitar korban, termasuk teman, keluarga, atau pihak sekolah.

3. Ada Manipulasi Emosional

Pelaku memanfaatkan kondisi emosional anak yang masih berkembang. Anak dibuat merasa dihargai, diperhatikan, atau dianggap spesial. Perasaan ini membuat korban semakin terikat secara emosional dengan pelaku.

4. Bisa Terjadi Secara Langsung Maupun Online

Child grooming tidak hanya terjadi lewat tatap muka, tetapi juga melalui media sosial, chat pribadi, atau platform digital lainnya. Percakapan yang terlihat biasa bisa menjadi awal manipulasi.

5. Berujung pada Eksploitasi Seksual

Tujuan akhir grooming adalah eksploitasi seksual terhadap anak. Dampaknya dapat berlangsung jangka panjang, mulai dari trauma psikologis, gangguan kesehatan mental, hingga masalah perkembangan sosial anak.

Anak Masih Jadi Kelompok Paling Rentan

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia menunjukkan sepanjang 2025 terdapat setidaknya 2.063 anak menjadi korban kekerasan. Dari jumlah tersebut, 1.464 anak mengajukan perlindungan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.

Sementara itu, jumlah korban dewasa tercatat sekitar 312 orang. Data ini menunjukkan anak masih menjadi kelompok yang sangat rentan mengalami kekerasan, termasuk kekerasan seksual dan manipulasi emosional seperti child grooming.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jumlah Penumpang Kereta Api Selama Long Weekend Kenaikan Yesus Kristus Tembus 393 Ribu dalam Dua Hari
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Operasi Cepat Bareskrim Gerebek 5 Tempat Hiburan Malam: B Fashion-Whiterabit
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Jadwal AVC Champions League 2026, Sabtu 16 Mei: Jakarta Bhayangkara Presisi Beraksi Lagi! Kali Ini Hadapi Jagoan Korea Selatan
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Link Live Streaming Malut United Vs Persita, Mulai Malam Ini Jam 19.00 WIB
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Kasat Narkoba Polres Kukar Terjerat Kasus Narkoba, Bareskrim Pantau Intensif
• 7 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.