Soal Emisi Metana Bantargebang, Kenneth DPRD DKI Desak Revolusi Pengelolaan Sampah

detik.com
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan Hardiyanto Kenneth menyoroti kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, yang disebut menjadi salah satu penyumbang emisi gas metana terbesar di dunia sebagai ancaman serius yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Dia menyampaikan bahwa persoalan sampah di Jakarta kini bukan sekadar isu kebersihan kota, melainkan telah berkembang menjadi persoalan lingkungan hidup, kesehatan masyarakat, perubahan iklim, hingga menyangkut masa depan keberlanjutan DKI Jakarta dan wilayah penyangganya.

"Ini adalah alarm besar bagi DKI Jakarta. Ketika Bantargebang disebut sebagai salah satu penyumbang gas metana terbesar di dunia, maka kita tidak boleh lagi menganggap persoalan sampah hanya urusan pengangkutan dan pembuangan akhir semata. Ini sudah menjadi ancaman lingkungan yang sangat serius, ancaman kesehatan publik, sekaligus ancaman ekologis jangka panjang yang dampaknya bisa dirasakan lintas generasi," ujar Kenneth dalam keterangannya, Sabtu (16/5/2026).

Pria yang akrab disapa Bang Kent itu menjelaskan, gas metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki daya rusak yang tinggi terhadap atmosfer, jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida. Timbunan sampah organik yang terus menumpuk selama puluhan tahun di Bantargebang menghasilkan emisi metana dalam jumlah besar akibat proses pembusukan tanpa pengelolaan yang optimal. Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya volume sampah harian Jakarta yang mencapai ribuan ton per hari.

"Jakarta memproduksi sampah dalam jumlah sangat besar setiap hari, sementara pola pengelolaan kita masih bertumpu pada sistem kumpul-angkut-buang. Akibatnya, Bantargebang menjadi titik akumulasi sampah raksasa yang terus memproduksi gas metana. Kalau situasi ini dibiarkan tanpa transformasi kebijakan yang serius, maka kita sedang mewariskan bom waktu permasalahan lingkungan kepada anak cucu kita," kata Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta itu.

Kent menilai persoalan tersebut harus menjadi momentum bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, untuk melakukan perubahan total dalam sistem pengelolaan sampah. Selama ini, kata dia, fokus kebijakan masih terlalu banyak bertumpu pada hilir, sementara upaya pengurangan sampah dari sumbernya belum berjalan maksimal.

"Kita tidak bisa terus mengandalkan Bantargebang sebagai tempat pembuangan akhir utama. Kapasitasnya terbatas, beban lingkungannya sangat berat, dan masyarakat sekitar juga sudah terlalu lama menanggung dampaknya. Sudah saatnya Jakarta melakukan revolusi pengelolaan sampah berbasis pengurangan dari sumber, pemilahan rumah tangga, penguatan daur ulang, hingga pemanfaatan teknologi pengolahan modern yang ramah lingkungan," tutur Ketua IKAL (Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI) PPRA Angkatan LXII itu.

Baca juga: Puji Pramono, Waka DPRD DKI Sebut Sekolah Swasta Gratis Solusi Putus Sekolah

Ia juga menekankan pentingnya edukasi publik dan perubahan perilaku masyarakat. Menurutnya, persoalan sampah tidak akan pernah selesai apabila hanya dibebankan kepada pemerintah tanpa partisipasi aktif warga.

"Kesadaran masyarakat menjadi faktor penting. Kita harus mulai membangun budaya memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memperkuat ekonomi sirkular, dan menjadikan pengelolaan sampah sebagai gerakan kolektif warga kota. Kalau pola konsumsi masyarakat tidak berubah, maka volume sampah akan terus meningkat dan Bantargebang akan semakin terbebani," ucapnya.

Selain itu, Kent meminta Pemprov DKI mempercepat pengembangan fasilitas pengolahan sampah modern seperti Refuse Derived Fuel (RDF), waste to energy, pengomposan skala besar, serta optimalisasi penangkapan gas metana untuk dikonversi menjadi energi. Menurutnya, pendekatan teknologi harus berjalan berdampingan dengan penguatan regulasi dan pengawasan lingkungan.

"Kita harus berani berinvestasi pada teknologi pengolahan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan. Banyak negara sudah menjadikan sampah sebagai sumber energi dan sumber ekonomi baru, seperti Swedia, Singapura hingga Jepang dan China. Mereka memanfaatkan teknologi insinerator yang canggih untuk mengubah sampah menjadi listrik. Jakarta juga sudah harus bergerak ke arah sana. Skenario penangkapan gas metana salah satunya, jangan sampai hanya dibiarkan terlepas ke udara dan malah bisa memperparah pemanasan global," kata Beliau.

Kent turut menyoroti dampak sosial yang selama ini dirasakan masyarakat sekitar Bantargebang, mulai dari pencemaran udara, bau menyengat, gangguan kesehatan, hingga penurunan kualitas lingkungan hidup. Karena itu, menurutnya, pemerintah memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan warga sekitar mendapatkan perlindungan dan perhatian yang layak.

"Warga di sekitar Bantargebang sudah terlalu lama menjadi pihak yang menanggung beban dari sampah Jakarta. Maka negara dan pemerintah daerah harus hadir memastikan kualitas kesehatan mereka terjaga, lingkungannya diperbaiki, dan kesejahteraannya ditingkatkan. Jangan sampai ada ketimpangan ekologis di mana satu wilayah menanggung dampak demi kenyamanan wilayah lain," tegasnya.

Baca juga: KJP Plus-Sekolah Swasta Gratis Perluas Akses Pendidikan di Jakarta

Ia menambahkan, persoalan emisi metana dari sektor sampah juga berkaitan langsung dengan komitmen DKI Jakarta dalam menekan emisi gas rumah kaca dan menghadapi krisis iklim global. Oleh sebab itu, penanganan Bantargebang harus masuk dalam agenda prioritas pembangunan berkelanjutan.

"Isu ini bukan hanya isu Jakarta atau Bekasi, tetapi sudah menjadi bagian dari tantangan global menghadapi perubahan iklim. Karena itu penanganannya harus serius, terukur, dan melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, legislatif, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat sipil," ungkapnya.

Selain itu, Kent meminta seluruh pihak tidak saling menyalahkan dan mulai fokus membangun solusi jangka panjang yang konkret. Menurutnya, jika langkah besar tidak segera dilakukan, maka krisis sampah dan ancaman emisi metana akan menjadi persoalan yang jauh lebih sulit dikendalikan di masa mendatang.

"Ini bukan waktunya saling lempar tanggung jawab. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian mengambil langkah besar dan konsisten. DKI Jakarta harus mampu menjadi contoh kota modern yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masa depan bumi ini," tutupnya.




(akd/ega)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Detik-detik Kecelakaan Maut Kereta Barang dan Bus di Bangkok, 8 Orang Tewas dan 35 Orang Luka-luka
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Wajah Baby Soso Masih Disembunyikan, Syifa Hadju Sebut Anak Alyssa Daguise dan Al Ghazali sebagai Bayi Tercantik
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Kepala Sekolah Berkomentar Menohok soal Lomba Cerdas Cermat MPR: SMAN 1 Sambas Terpojok
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Dukung Swasembada Pangan, Polda Sumsel Lampaui Target Melalui Panen Raya di OKU
• 3 jam laludetik.com
thumb
Polisi Tangkap Ayah di Klaten Diduga Cabuli 2 Anak Kandung Sejak Kecil
• 20 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.