Purwokerto, VIVA – Gaya hidup cashless kini sudah menjadi bagian dari keseharian banyak anak muda Indonesia. Mulai dari bayar kopi, belanja online, pesan makanan, hingga membeli tiket hiburan, semuanya bisa dilakukan hanya lewat ponsel dalam hitungan detik.
Namun di balik kemudahan tersebut, ternyata masih banyak generasi muda yang belum benar-benar memahami cara mengelola keuangan digital dengan baik. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 dari OJK dan BPS, indeks inklusi keuangan kelompok usia 18–25 tahun sudah mencapai 89,96 persen. Artinya, sebagian besar anak muda Indonesia telah terhubung dengan layanan keuangan digital.
Meski begitu, indeks literasi keuangannya masih berada di angka 73,22 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa akses terhadap layanan finansial tumbuh lebih cepat dibanding pemahaman dalam mengelola uang secara bijak.
Fenomena tersebut semakin terasa di tengah gaya hidup digital generasi muda saat ini. Kemudahan promo, pembayaran instan, hingga tren belanja online sering kali membuat banyak orang sulit mengontrol pengeluaran.
Karena itu, isu financial habits atau kebiasaan finansial mulai menjadi perhatian penting, terutama bagi mahasiswa dan generasi produktif yang mulai aktif menggunakan layanan fintech dalam kehidupan sehari-hari.
“Fintech hari ini bukan hanya soal kemudahan transaksi, tetapi juga bagaimana teknologi dapat membantu generasi muda membangun kebiasaan finansial yang kuat dan lebih sehat. Melalui Fintech Academy, OVO ingin mendorong mahasiswa agar tidak hanya aktif menggunakan layanan digital, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara bijak, aman, dan bertanggung jawab,” ujar Asep Haekal, Head of Strategy, Integrated Marketing Communication OVO, dalam keterangannya, dikutip Sabtu 16 Mei 2026.
Pembahasan mengenai gaya hidup finansial digital ini juga diangkat dalam sesi edukasi Fintech Academy yang digelar di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Purwokerto, beberapa waktu lalu.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa penggunaan fintech tidak hanya soal kemudahan transaksi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang membangun kebiasaan keuangan yang sehat sejak dini.
Mulai dari menyusun prioritas kebutuhan, membuat perencanaan pengeluaran, memiliki tujuan finansial, hingga mengevaluasi pola konsumsi menjadi hal penting yang mulai banyak dibicarakan anak muda saat ini.





