Minat Baca Tinggi Gen Z Ditopang Komunitas Digital

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Hari Buku Nasional pada 17 Mei menjadi momentum mengakselerasi kembali minat baca yang selama ini masih rendah. Secercah harapan muncul dari generasi Z yang minat bacanya paling tinggi dibanding generasi milenial dan generasi X.

Tingginya minat baca generasi Z (gen Z) tidak terlepas dari peran media sosial yang ikut mendorong budaya literasi untuk kembali membaca buku. Seperti diketahui, gen Z merupakan generasi yang sangat kental dengan media sosial dan kini turut memopulerkan aktivitas membaca sebagai kegiatan yang ngetren, keren, cerdas, dan cerminan anak intelektual.

Bagi gen Z, aktivitas membaca buku kini dipandang sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan ajang pencarian jati diri atau identitas. Jadi, membaca tidak sebatas kegiatan akademik mencari literatur untuk mengerjakan tugas sekolah dan kuliah.

Hadirnya komunitas digital seperti BookTok di Tiktok dan Bookstagram di Instagram sangat positif dan dinilai berhasil memopulerkan budaya membaca buku sebagai kegiatan yang tidak membosankan. Bagi gen Z, kegiatan membaca bertransformasi sebagai simbol status dan identitas baru.

Algoritma media sosial seperti Tiktok dan Instagram berperan besar dalam memopulerkan aktivitas membaca dengan membingkainya sebagai sesuatu yang menarik, akademis, dan memiliki nilai emosional.

Gambaran tersebut selaras dengan hasil survei Jakpat, sebuah lembaga survei opini publik di Yogyakarta, periode semester kedua 2025 yang melibatkan 2.240 responden dari sejumlah wilayah di Indonesia. Hasil survei ini menunjukkan aktivitas membaca buku, komik, dan novel digital di kalangan gen Z tercatat mencapai 26 persen melampaui milenial dengan 20 persen dan gen X sebesar 18 persen.

Hal ini menjadi sinyal positif mengingat gen Z merupakan generasi yang sedang tumbuh secara identitas, emosi, dan kedewasaan yang mampu mengajak generasi lainnya untuk ikut bergerak. Gen Z juga memiliki keunikan dalam melihat masa depan dan memiliki kemauan belajar yang cukup tinggi.

Faktor pendorong lainnya tren tumbuhnya minat baca pada gen Z dipicu oleh rasa jenuh terhadap konten digital yang bersifat instan dan tidak mendalam. Generasi ini mulai mencari alternatif aktivitas yang lebih bermakna untuk mengisi waktu luang mereka serta tentu menambah wawasan dan ilmu.

Salah satu indikasinya, menurut survei Jakpat, adanya penurunan konsumsi media layanan streaming, seperti Netflix, Vidio, dan Viu, yang turun drastis dari 48 persen menjadi 14 persen dalam waktu hanya setahun. Pergeseran ini mengindikasikan, gen Z pun mulai bergeser kembali aktif membaca buku, novel, dan komik yang memerlukan pencernaan pemikiran sehingga aktivitas otak lebih aktif daripada sekadar pasif menonton tayangan film streaming.

Aspek inilah yang kembali mendorong gen Z kini cenderung mengalihkan waktu berlama-lama menatap layar smartphone mereka dari konsumsi konten sifatnya penerimaan pasif beralih menjadi aktivitas membaca yang dianggap lebih memberikan kedalaman makna dan meningkatkan kesehatan mental.

Kegemaran membaca

Menurut hasil survei Perpustakaan Nasional yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) masyarakat pada 2025 menempatkan Nusa Tenggara Timur (NTT) meraih nilai tertinggi dengan skor 62,05. Provinsi ini juga menunjukkan konsistensi tinggi pada seluruh tahapan membaca, termasuk skor setelah membaca yang mencapai 65,38.

Di posisi berikutnya terdapat Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan skor 61,19 diikuti Sumatera Selatan yang meraih 60,86. Keduanya menempati peringkat atas berkat performa kuat pada fase saat membaca dan setelah membaca.

Maluku Utara berada di kelompok lima besar dengan skor 60,66. Sementara itu, Kalimantan Barat (59,85) dan Sulawesi Selatan (59,84) mencatat capaian yang relatif berdekatan. Provinsi lain yang masuk dalam sepuluh besar adalah Sulawesi Tengah dengan skor 59,51, Sumatera Barat (59,42), Sumatera Utara (59,36), dan Kepulauan Riau dengan skor 59,33.

Sementara DKI Jakarta dan beberapa provinsi lain di Jawa justru angkanya tidak setinggi beberapa provinsi tersebut. DKI Jakarta di angka 57,23, Banten (56,53), Jawa Barat (59,19), Jawa Tengah (57,11), Yogyakarta (55,44), dan Jawa Timur (58,86). Hal ini perlu menjadi perhatian serius, mengingat Jawa saat ini masih menjadi sentra dunia pendidikan.

Survei TKM disusun berdasarkan tiga fase utama dalam aktivitas membaca, yakni fase sebelum membaca, fase saat membaca, dan fase setelah membaca. Fase sebelum membaca menilai ketersediaan bahan bacaan di rumah, dukungan orangtua dan guru, hingga lingkungan literasi yang kondusif. 

Sementara pada fase saat membaca, mengukur keterlibatan dan motivasi pembaca ketika berinteraksi dengan teks. Indikatornya, antara lain, durasi membaca, minat terhadap jenis bacaan tertentu, hingga penggunaan strategi membaca. 

Fase setelah membaca menilai sejauh mana membaca berdampak pada perilaku sehari-hari, apakah setelah membaca seseorang terdorong untuk berdiskusi, menulis, atau mengambil keputusan dengan lebih baik.

Kunjungan ke perpustakaan

Kunjungan perpustakaan menjadi salah satu indikasi seberapa besar masyarakat, termasuk gen Z memiliki minat baca. Berdasarkan data Perpustakaan Nasional (Perpusnas), data pengunjung Perpusnas tahun 2025 dibandingkan dengan 2024 mengalami peningkatan, dari 11.516 pengunjung di 2024 meningkat menjadi 13.835 pengunjung di 2025.

Memasuki 2026, tren kunjungan lebih positif, pada Januari 2026 tercatat 2.096 pengunjung, angka tertinggi di periode Januari setahun sebelumnya yang hanya 417 pengunjung. Tren yang sama terjadi pada Februari-April 2026 yang dua kali lebih banyak dibanding periode yang sama di tahun lalu.

Tren naiknya aktivitas membaca masyarakat, khususnya yang berkunjung di perpustakaan, tidak lepas dari kontribusi gen Z yang kembali mengalokasikan waktunya untuk membaca buku dibandingkan dengan menghabiskan waktunya untuk berlama-lama mengakses gawai dan mengonsumsi media sosial.

Ketika minat baca buku di kalangan gen Z meningkat, yang tumbuh bukan hanya pembacanya, melainkan juga ekosistem literasi di sekitarnya. Sebab, buku bukanlah produk tunggal, ia hadir bersama ruang lingkupnya, yakni komunitas baca, diskusi rutin mingguan atau bulanan, kegiatan literasi, perpustakaan sebagai ruang nyaman untuk membaca, dan beragam aktivitas sosial berbasis buku, seperti berbagi buku.

Tingginya minat baca di kalangan gen Z merupakan hal positif bagi masa depan Tanah Air karena bangsa yang maju adalah bangsa yang anak mudanya gemar membaca. Merekalah pemegang tongkat estafet negeri ini. (LITBANG KOMPAS)

Baca JugaMenentukan Arah Karier Gen Z


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ekspor Pupuk ke Australia, Mentan: Indonesia Dipercaya Jaga Stabilitas Pangan Kawasan
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kronologi Roy Suryo Cs & Polda Metro Saling Balas Terkait Permintaan Kasus Ijazah Jokowi Dihentikan
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Momen Prabowo Ziarah ke Makam Marsinah, Tabur Bunga dan Berdoa
• 4 jam laludetik.com
thumb
Selain Salmokji, Ini 5 Film Horor Thriller Korea 2026 yang Siap Bikin Susah Tidur
• 15 jam lalutabloidbintang.com
thumb
MBG Berhasil Dongkrak Ekonomi Desa, Prabowo: Uang Beredar Capai Rp10,8 Miliar
• 3 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.