Aslinda Bangun Usaha dari Sambal Rumahan

harianfajar
6 jam lalu
Cover Berita

Kegemaran membuat sambal membawa Aslinda membangun usaha rumahan sejak 2018. Kini, Cemilan Bu Lin menghadirkan aneka produk camilan lokal.

Edward AS
Kecamatan Panakkukang

Suara minyak yang mendidih terdengar dari dapur rumah sederhana di Jalan Adipura I, Karuwisi Utara, Kecamatan Panakkukang, Makassar. Di ruangan itulah Aslinda memulai langkah kecil yang kemudian berkembang menjadi usaha rumahan bernama Cemilan Bu Lin.

Di atas meja dapur, beberapa toples sambal tersusun rapi. Di sudut lain, keripik keladi yang baru selesai digoreng masih dibiarkan dingin sebelum dikemas. Aktivitas itu kini menjadi bagian dari keseharian Aslinda.

Namun, perjalanan usaha tersebut tidak lahir begitu saja. Aslinda mengaku memulai usahanya karena kondisi ekonomi keluarga yang saat itu menuntut dirinya ikut membantu mencari penghasilan tambahan. Ia tidak ingin seluruh beban kebutuhan rumah tangga hanya ditanggung suaminya.

“Waktu itu kebutuhan keluarga banyak. Saya tidak mau membebani suami,” kata Aslinda.

Keinginan untuk mandiri membuatnya mulai memikirkan usaha yang bisa dijalankan dari rumah. Dari berbagai ide yang muncul, sambal menjadi pilihan pertama.

Bukan tanpa alasan. Sejak lama, Aslinda memang gemar membuat sambal untuk keluarga.

“Awalnya memang suka sambal,” ujarnya sambil tersenyum.

Pada 2018, ia mulai memproduksi aneka sambal secara sederhana. Modalnya tidak besar. Produksi dilakukan menggunakan peralatan dapur yang ada di rumah.

Awalnya, sambal buatannya hanya dipasarkan di lingkungan sekitar. Beberapa karyawan tempatnya bekerja dan tetangga mulai membeli setelah mencoba rasanya.

Dari usaha kecil itu, ia perlahan belajar memahami kebutuhan pelanggan dan cara mempertahankan kualitas rasa. Hari-harinya diisi dengan rutinitas memasak, mengemas produk, hingga mengantar pesanan. Semua dikerjakan bersama keluarga.

Meski dimulai dari skala kecil, Aslinda tidak pernah berhenti mencari peluang baru. Pada 2020, ia mulai mencoba memproduksi keripik keladi.

Ide itu muncul ketika melihat bahan baku lokal yang cukup mudah ditemukan di sejumlah daerah di Sulsel. “Kenapa tidak coba diolah sendiri,” katanya mengingat awal mula produksi keripik tersebut.

Bahan baku keladi diperoleh dari beberapa wilayah seperti Malakaji, Rumbia, dan Bantaeng. Menurut Aslinda, memanfaatkan bahan lokal menjadi salah satu cara agar biaya produksi tetap terjangkau sekaligus mendukung hasil pertanian daerah.

Proses produksi keripik dilakukan secara bertahap. Mulai dari memilih keladi berkualitas, mengiris tipis, hingga menggoreng dengan tingkat kematangan tertentu agar menghasilkan tekstur renyah.

Selain keripik keladi, Cemilan Bu Lin juga memproduksi kue sus dan minuman soya. Beragam produk tersebut dipasarkan secara langsung kepada pelanggan maupun melalui jaringan reseller.

Menurut Aslinda, distribusi menjadi bagian penting dalam menjaga penjualan tetap berjalan.

“Kalau selesai produksi, langsung kami sebar,” tuturnya.

Untuk menjaga kualitas sambal, keluarga mereka juga memiliki kebun lombok di kampung. Kebun tersebut menjadi salah satu sumber bahan baku cabai yang digunakan dalam produksi. Bagi Aslinda, kualitas rasa menjadi hal utama yang harus dijaga agar pelanggan tetap percaya.

Di tengah perkembangan usahanya, Aslinda menyadari bahwa kemampuan produksi saja tidak cukup. Ia mulai aktif mengikuti berbagai pameran UMKM untuk memperluas jaringan pemasaran.

Dari satu pameran ke pameran lainnya, ia bertemu banyak pelaku usaha dan mendapatkan pengalaman baru tentang cara mengembangkan bisnis.

Perjalanan itu kemudian membawanya bergabung dengan Rumah BUMN BRI pada 2023. Melalui program tersebut, Aslinda mengikuti berbagai pelatihan offline maupun online yang membahas pengembangan UMKM.

Ia mengaku awalnya hanya mengira pelatihan tersebut berisi materi dasar tentang pemasaran dan motivasi usaha. Namun, setelah mengikuti program, ia justru mendapatkan banyak pengetahuan baru yang lebih luas.

“Ternyata lebih dari itu,” katanya.

Dari pelatihan tersebut, Aslinda mulai memahami strategi pemasaran digital, pengemasan produk, hingga penggunaan sistem pembayaran digital seperti QRIS. Menurutnya, penggunaan QRIS cukup membantu mempermudah transaksi dengan pelanggan, terutama saat mengikuti pameran atau penjualan langsung.

Selain itu, ia juga mulai memahami pentingnya membangun identitas usaha dan menjaga hubungan dengan pelanggan. Perkembangan usaha Cemilan Bu Lin kini turut ditopang oleh jaringan reseller.

Aslinda mengatakan ada reseller yang memulai usaha dengan modal sekitar Rp1 juta. Seiring berkembangnya penjualan, beberapa reseller bahkan mampu memperoleh omzet hingga sekitar Rp10 juta.

Hal itu menjadi motivasi tersendiri bagi dirinya untuk terus mempertahankan kualitas produk dan memperluas pasar.

Meski usaha yang dijalankan semakin berkembang, Aslinda mengaku proses membangun usaha tidak selalu mudah. Ada masa ketika penjualan menurun, bahan baku sulit diperoleh, hingga tantangan membagi waktu antara pekerjaan rumah tangga dan produksi.

Namun, ia memilih tetap bertahan dan terus belajar. Baginya, usaha kecil hanya bisa berkembang jika dijalankan dengan konsisten.Ia percaya keberanian mencoba menjadi langkah awal yang paling penting.

“Yang penting jangan takut mencoba,” ucapnya.

Kini, dari dapur rumah sederhana di Makassar, Cemilan Bu Lin terus berkembang sebagai usaha lokal yang memanfaatkan bahan baku daerah dan semangat kemandirian.

Perjalanan Aslinda menunjukkan bahwa usaha rumahan dapat tumbuh menjadi peluang ekonomi yang lebih besar ketika dijalankan dengan ketekunan, kemauan belajar, dan keberanian memulai dari hal kecil.

Koordinator Rumah BUMN Makassar, Ayu Anisela mengatakan, perkembangan usaha Cemilan Bu Lin menunjukkan bahwa UMKM lokal memiliki peluang besar untuk tumbuh. Apalagi jika didukung kemauan belajar dan pendampingan usaha.

“Bu Aslinda termasuk pelaku UMKM yang aktif mengikuti pelatihan dan terbuka terhadap pengembangan usaha. Dari awalnya usaha rumahan, sekarang produknya semakin berkembang dan pemasarannya juga meluas,” ujar Ayu.

Ia mengatakan Rumah BUMN BRI tidak hanya memberikan pelatihan pemasaran. Akan tetapi juga mendorong pelaku UMKM memahami digitalisasi usaha, pengemasan produk, hingga penggunaan transaksi non tunai seperti QRIS.

“Konsistensi menjadi salah satu kekuatan utama pelaku UMKM untuk bertahan di tengah persaingan usaha yang semakin berkembang,” ucapnya. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jakarta Bhayangkara Presisi Ukir Sejarah, Jadi Klub Voli Pertama di Indonesia Berlaga di Kejuaraan Dunia
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Kecewa Wacana Investor Asing, Peternak di Tulungagung Bagikan Telur Gratis
• 20 jam laluberitajatim.com
thumb
Man City Juara Piala FA Usai Taklukkan Chelsea
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Trump Buka Opsi Hubungi Presiden Taiwan usai Lawatan ke Tiongkok
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bahlil Lahadalia Tekankan SOKSI Sebagai Ujung Tombak Partai Golkar
• 12 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.