Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menegaskan ketenangan yang kini dirasakan di Ambon, Poso, dan Aceh tak lepas dari peran besar mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dalam mendamaikan daerah-daerah berkonflik.
Hal tersebut disampaikan Anies usai menghadiri Tasyakuran Milad JK ke-84 di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (16/04/2026).
"Kalau kita melihat hari ini Ambon yang tenang, kita melihat Poso yang tenang, kita melihat Aceh yang tenang, di situ ada sidik jarinya Pak JK," kata Anies, dikutip Minggu (17/5).
Menurut Anies, JK merupakan sosok teladan bangsa yang selama ini kerap dijadikan rujukan. Kontribusinya dinilai sangat besar bagi perdamaian Indonesia.
"Karena itulah kita merasa bersyukur memiliki bapak bangsa yang terus jadi teladan, yang terus jadi rujukan. Kita mendoakan Pak JK, Ibu Mufidah (istri JK), semuanya sehat dan bisa terus jadi penjuru bagi generasi baru," ujarnya.
Namun, di tengah apresiasi tersebut, JK juga tengah menghadapi sorotan publik setelah dilaporkan atas dugaan penistaan agama dan ujaran kebencian.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 itu dilaporkan oleh sejumlah kelompok masyarakat, di antaranya DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) bersama lembaga Kristen serta Forum Persatuan Islam Indonesia (FPII).
Baca Juga: Drama Hukum Nadiem–Ibam, Publik Kagum Strategi Catur Politik Anies
Baca Juga: JK Klarifikasi Ceramah di UGM, Tegaskan Pesan Perdamaian Bukan Penistaan Agama
Laporan tersebut berawal dari materi ceramah Ramadan yang disampaikan JK di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 5 Maret 2026. Ceramah itu dianggap mengandung unsur disinformasi teologis, menyinggung ajaran agama, serta berpotensi memicu kegaduhan sosial.
Menanggapi laporan tersebut, JK menegaskan dirinya tidak melakukan penistaan agama. Ia menyebut pernyataannya bukan membahas dogma atau ajaran, melainkan konteks sosiologi konflik masa lalu.




