Amerika Serikat (AS) mengakhiri penangguhan sanksi untuk minyak mentah Rusia, meskipun pasokan global masih terdampak perang di Timur Tengah.
IDXChannel - Amerika Serikat (AS) mengakhiri penangguhan sanksi untuk minyak mentah Rusia, meskipun pasokan global masih terdampak perang di Timur Tengah.
Dilansir dari Bloomberg pada Minggu (17/5/2026), AS memberikan penangguhan sanksi untuk meredam guncangan pasokan akibat lumpuhnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Penangguhan itu memungkinkan negara-negara untuk membeli minyak mentah Rusia yang telah dimuat ke kapal tanker, terutama mereka yang selama ini bergantung kepada pasokan dari Timur Tengah.
Pemerintahan Donald Trump memulai penangguhan sanksi pada Maret, yang kemudian diperpanjang pada April.
AS awalnya hanya ingin menerapkan penangguhan sanksi selama sebulan. Namun, Washington kemudian memperpanjangnya sebulan lagi pada April setelah dilobi banyak negara.
Sama seperti pada April, lobi dari banyak negara dapat mendorong AS untuk kembali memberlakukan penangguhan sanksi.
Di sisi lain, kebijakan ini memicu kontroversi di Eropa, yang masih menghadapi invasi Rusia di Ukraina. Mereka merasa sanksi diperlukan untuk menghambat pendapatan minyak Rusia yang mendanai operasi militer di Ukraina.
Minyak mentah Brent, patokan global, telah melonjak sejak perang di Iran dimulai, mendorong harga bensin, solar, dan produk lain.
Iran menutup Selat Hormuz setelah AS dan Israel memulai agresi pada akhir Februari. Meski Teheran dan Washington telah menyepakati gencatan senjata, jalur maritim penting tersebut masih tertutup. (Wahyu Dwi Anggoro)





