JAKARTA, KOMPAS– Kondisi medis yang selama ini dikenal dengan istilah polycystic ovary syndrome atau PCOS kini telah resmi berubah nama menjadi polyendocrine metabolic ovarian syndrome atau PMOS. Perubahan nama tersebut bukan sekadar penggantian istilah medis, namun memberikan pemahaman yang benar guna memperbaiki diagnosis dan pengobatan yang diberikan.
Ahli endokrinologi yang juga profesor bidang kesehatan perempuan di Monash University Australia, Helena J Teede mengatakan, nama baru dari gangguan medis tersebut lebih tepat untuk menggambarkan kondisi penyakit tersebut. Para ahli pun sepakat bahwa nama untuk penyakit tersebut dinilai tidak akurat sehingga perlu diubah.
“Sangat jelas bahwa nama (PCOS) itu tidak akurat,” ujar Teede yang juga memimpin kelompok internasional terkait perubahan nama tersebut, seperti dikutip dari laman Live Science yang diakses pada 17 Mei 2026.
Pengumuman nama baru tersebut secara langsung diumumkan pada Selasa (12/5/2026) dalam European Society of Endocrinology Conference di Praha, Republik Ceko. Penggantian nama itu juga telah diumumkan lewat publikasi terbaru di jurnal medis The Lancet.
Teede mengatakan, istilah polycystic yang digunakan membuat banyak orang mengira bahwa orang dengan gangguan tersebut memiliki banyak kista abnormal di ovarium. Padahal, tidak semua orang dengan kondisi tersebut memiliki kista.
Nama PCOS awalnya digunakan untuk menggambarkan adanya gelombang menyerupai kista pada permukaan ovarium pasien. Namun, perkembangan ilmu kedokteran menunjukkan bahwa benjolan atau gelombang tersebut bukanlah kista sesungguhnya.
Penelitian terbaru mengungkap bahwa perempuan dengan kondisi yang saat ini disebut PMOS tersebut lebih banyak ditemukan dengan folikel atau kantung berisi cairan yang gagal matang akibat gangguan hormonal. Kondisi tersebut berbeda dengan kista nonkanker yang bisa membesar, pecah, dan menyebabkan perdarahan yang butuh tindakan operasi.
“Folikel yang berhenti berkembang bukan kista. Karena itu, istilah polycystic sebenarnya keliru,” ucap Teede.
Nama PCOS juga tidak tepat karena dapat mempersempit gangguan tersebut hanya sebagai gangguan ovarium.
Selain dianggap keliru secara medis, nama PCOS juga tidak tepat karena dapat mempersempit gangguan tersebut hanya sebagai gangguan ovarium. Padahal, sindrom tersebut dapat memengaruhi banyak sistem di tubuh, mulai dari metabolisme, hormon, reproduksi, kesehatan mental, hingga kesehatan kulit.
Dikutip dari The Lancet, kondisi PMOS berkaitan dengan gangguan pada hormon insulin, androgen, neuroendokrin, serta ovarium. Dampaknya bisa mengakibatkan obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan menstruasi, infertilitas, depresi, kecemasan, jerawat, hingga rambut rontok.
Sindrom tersebut berdampak besar terhadap kualitas hidup perempuan. Data global melaporkan sekitar 70 persen orang dengan dengan sindrom tersebut tidak terdiagnosis dengan benar karena kesalahpahaman definisi yang terbentuk.
Banyak pasien dan tenaga kesehatan mengira keberadaan kista ovarium menjadi syarat utama dari sindrom tersebut. Padahal, diagnosis dari sindrom itu bisa ditegakkan sekalipun tidak ada kista pada ovarium.
Kebingungan terkait kata kista yang digunakan membuat diagnosis menjadi tertunda serta komunikasi antara pasien dan tenaga kesehatan menjadi tidak tepat. Istilah tersebut juga dinilai mempersulit klasifikasi secara epidemiologi, perbandingan penelitian, serta pemberian kode dalam sistem kesehatan.
Dokter spesialis kebidanan dan ginekologi di Finlandia, Terhi Piltonen dikutip dari ScienceAlert menyampaikan, banyak perempuan dan tenaga kesehatan sebelumnya percaya bahwa ovarium dari pasien PCOS mengandung kista yang dapat pecah sehingga perlu perawatan pembedahan. Padahal, pada beberapa kasus kondisi ovarium tetap subur. Adanya folikel kecil juga tidak berkembang.
“Jadi, fokus pada ovarium telah menimbulkan kerugian yang membuat banyak perempuan diabaikan terkait gejala lain yang ditimbulkan, seperti dampak pada berat badan, tekanan mental, dan dampak pada kesehatan kulit,” tuturnya.
Teede menjelaskan, proses penggantian nama dari PCOS menjadi PMOS dilakukan sangat hati-hati. Selain para ahli, proses perubahan nama juga melibatkan komunitas pasien. Hal itu dinilai penting agar perubahan nama tidak diputuskan hanya oleh segelintir orang, melainkan dilakukan lewat kesepakatan bersama.
Penggantian nama sebenarnya sudah diusullan sejak tahun 1990-an. National Institutes of Health AS bahkan pada 2012 menyampaikan bahwa istilah PCOS telah membingungkan bagi dokter dan pasien.
Baru pada 2026 ini, nama PMOS disepakati untuk menggambarkan gangguan tersebut. Nama PMOS atau polyendocrine metabolic ovarian syndrome dianggap lebih menggambarkan gangguan multisystem yang terjadi pada pasien.
Istilah polyendocrine merujuk pada banyaknya hormon yang berpengaruh pada penyakit tersebut. Sementara metabolic menggambarkan kaitannya dengan gangguan obesitas, resistensi insulin, diabetes, dan penyakit kardiovaskular yang terjadi.
Istilah ovarian juga dipertahankan karena ovarium masih menjadi bagian penting pada kondisi tersebut. Namun, para ahli sepakat tidak menggunakan istilah reproduktif karena dapat menimbulkan stigma sosial di masyarakat.
Hal itu setidaknya disampaikan oleh Lorna Berry, pasien PMOS di ScienceAlert. Ia mengaku selama ini harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan diagnosis yang tepat di tengah informasi yang salah. Stigma akan gangguan fertilitas juga harus ditanggung selama ini.
“Perubahan nama ini diharapkan bisa memberikan hasil yang lebih baik bagi perempuan yang selama ini terdiagnosis sebagai PCOS,” katanya.





