REPUBLIKA.CO.ID, JOHANNESBURG – Para ilmuwan global menilai pendekatan kebijakan dunia saat ini tidak lagi memadai untuk membaca masa depan bumi yang semakin kompleks. Krisis iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, hingga ketimpangan sosial ekonomi dinilai saling terhubung sehingga membutuhkan model analisis baru yang lebih sistemik.
Dalam makalah yang dipublikasikan di jurnal One Earth, para peneliti menyebut banyak skenario global masih mengacu pada asumsi lama bahwa persoalan masa depan tidak jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Pendekatan tersebut dinilai terlalu sempit untuk menjawab berbagai krisis yang berlangsung secara bersamaan.
- Jaga Bumi dengan Cara Sederhana Namun Berdampak Besar
- PGN Raih ISO 55001, Bukti Ketangguhan Pengelolaan Infrastruktur Gas Bumi
- Peringatan Hari Bumi, Warga Diajak Kelola Sampah Sejak dari Rumah
Para ilmuwan menilai model yang selama ini digunakan cenderung mempertahankan sistem ekonomi, struktur pemerintahan, serta norma sosial yang ada. Akibatnya, simulasi kebijakan lebih banyak memproyeksikan kondisi memburuk tanpa membuka kemungkinan perubahan besar yang dapat mengubah arah masa depan bumi.
Ilmuwan Earth Commission sekaligus penulis utama makalah,Laura Pereira, mengatakan skenario global selama ini lebih fokus memperbaiki masa depan tanpa menyentuh perubahan sistem. “Jika kita ingin jalan yang berhasil, kita membutuhkan alat yang dapat mengeksplorasi berbagai model ekonomi, berbagai struktur kekuasaan, dan berbagai hubungan antara masyarakat dan alam, tidak hanya teknologi yang berbeda,” kata Pereira seperti dikutip dari laman Phys.org, Sabtu (16/5/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}Menurut Pereira, dunia tidak menghadapi satu krisis tunggal, melainkan kumpulan krisis yang saling berinteraksi, mulai dari perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga kesenjangan sosial ekonomi. Namun model kebijakan yang ada belum mampu menggambarkan interaksi antar krisis maupun perubahan kekuasaan, institusi, dan nilai sosial yang membentuk masa depan bumi.
Earth Commission merupakan kelompok ilmuwan global yang dibentuk untuk mengidentifikasi ambang batas kritis bumi guna menjaga stabilitas iklim, ketersediaan udara dan air bersih, serta keberlanjutan keanekaragaman hayati melalui pendekatan lintas ilmu alam dan sosial.
Selama ini, para peneliti menggunakan Integrated Assessment Models (IAM) untuk memahami sistem bumi. Model tersebut menggabungkan aspek ekonomi, energi, iklim, dan lingkungan guna membantu pengambilan keputusan kebijakan global.
IAM menjadi rujukan pemerintah dan lembaga internasional dalam memprediksi dampak emisi karbon, kebijakan energi, hingga perubahan penggunaan lahan. Hasil simulasi model ini juga menjadi dasar asesmen global serta berbagai negosiasi internasional terkait iklim dan biodiversitas.
Namun, para peneliti menilai IAM memiliki keterbatasan karena sering memakai asumsi business as usual, yakni sistem ekonomi global dianggap stabil, struktur kekuasaan tidak berubah, pola konsumsi relatif sama, dan solusi lebih bertumpu pada teknologi serta efisiensi.
Pereira menilai banyak skenario global gagal menjawab pertanyaan mendasar mengenai distribusi manfaat dan biaya dari kebijakan transisi, termasuk siapa yang memiliki suara dalam menentukan masa depan bumi. Kekosongan perspektif Global South disebut menjadi salah satu titik lemah utama dalam perumusan skenario global selama ini.
Sebagai alternatif, para ilmuwan mendorong pengembangan “skenario transformasi terintegrasi” generasi baru yang menggabungkan agenda iklim, perlindungan keanekaragaman hayati, serta keadilan sosial. Pendekatan ini diusulkan disusun bersama aktor yang lebih luas, termasuk masyarakat adat dan komunitas lokal.
Makalah tersebut juga mengusulkan pembentukan sekretariat skenario yang dipimpin negara Global South guna memperkuat integrasi lintas disiplin ilmu sekaligus membuka ruang bagi pendekatan ekonomi alternatif dalam memahami masa depan bumi.
“Kami melihat ada kebutuhan nyata untuk melampaui pemodelan business-as-usual dan mulai menciptakan masa depan bersama yang mencerminkan keberagaman masyarakat, pengetahuan, dan nilai-nilai di seluruh dunia,” kata Direktur Sains Komisi Eropa Albert Norström.




