Terkini, Makassar — Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan sekali seumur hidup bagi umat Muslim yang mampu. Namun di tengah realitas kemiskinan yang masih banyak ditemukan di masyarakat, muncul pertanyaan mengenai relevansi pelaksanaan haji berkali-kali dibandingkan dengan membantu kaum dhuafa dan masyarakat termarjinalkan.
Direktur Jamaica Muslim Center sekaligus Presiden Nusantara Foundation, Shamsi Ali, menyoroti fenomena tersebut melalui refleksi spiritual tentang makna haji yang sesungguhnya.
Menurutnya, tidak sedikit umat Islam yang rela menghabiskan ratusan juta rupiah demi menunaikan ibadah haji, bahkan hingga berkali-kali. Sebagian di antaranya rela menjual aset penting keluarga demi berangkat ke Tanah Suci.
“Padahal kewajiban haji hanya sekali seumur hidup bagi yang mampu. Ironisnya, ada yang justru jatuh miskin sepulang dari haji dan akhirnya menjadi beban sosial,” tulis Shamsi Ali dalam refleksinya di Makassar, Sabtu (17/5/2026).
Di sisi lain, ia menilai masih banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
“Realitas ini memunculkan pertanyaan, di tengah maraknya kemiskinan apakah wajar seseorang berhaji berkali-kali? Bukankah dana besar itu lebih utama disalurkan untuk membantu kaum mustadh’afin?” ujarnya.
Kisah Tukang Semir Sepatu dan Haji yang Diterima
Dalam tulisannya, Shamsi Ali mengangkat kisah ulama besar Abdullah bin Al-Mubarak atau Ibnu Mubarak yang diriwayatkan dalam literatur Islam klasik.
Dikisahkan, Ibnu Mubarak bermimpi mendengar percakapan dua malaikat setelah musim haji berlangsung.
Dalam mimpi itu disebutkan bahwa tidak ada satu pun jamaah haji yang diterima ibadahnya, kecuali karena keberkahan seorang tukang semir sepatu bernama Sa’id bin Muhafah dari Damaskus.
Merasa penasaran, Ibnu Mubarak kemudian mencari sosok tersebut hingga menemukannya dalam kondisi hidup sederhana di pinggiran kota Damaskus.
Kepada Ibnu Mubarak, Sa’id bercerita bahwa dirinya telah menabung selama bertahun-tahun untuk berhaji. Namun niat itu akhirnya dibatalkan setelah mengetahui tetangganya, seorang janda dengan enam anak, terpaksa memakan bangkai keledai karena kelaparan.
Sa’id lalu menyerahkan seluruh tabungan hajinya sebesar 350 dirham untuk membantu keluarga tersebut.
“Sambil menyerahkan uang itu, dalam hatinya Sa’id berkata: ‘Ya Allah, inilah hajiku. Ya Allah, inilah Makkahku’,” tulis Shamsi Ali.
Menurutnya, kisah tersebut menjadi gambaran bahwa haji mabrur tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual, tetapi juga kepedulian sosial dan pengorbanan untuk sesama.
Haji dan Makna Pengorbanan
Shamsi Ali menegaskan bahwa esensi haji bukan sekadar perjalanan spiritual ke Tanah Suci, melainkan juga pelajaran tentang empati dan pengorbanan.
“Haji mabrur adalah gabungan pengabdian vertikal kepada Allah dan pelayanan horizontal kepada sesama manusia,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar ibadah haji tidak dijadikan simbol prestise sosial atau ukuran kemuliaan seseorang di tengah masyarakat.
“Apalah arti haji berkali-kali jika kita abai terhadap penderitaan sesama di sekitar kita,” tegasnya.
Menurutnya, pengorbanan tertinggi terkadang bukan hanya dilakukan di Padang Arafah atau Tanah Haram, tetapi ketika seseorang rela mengutamakan kebutuhan orang lain dibanding kepentingan pribadinya.




