KUPANG, KOMPAS - Manfaat program perhutanan sosial kian dirasakan dampaknya oleh petani miskin pulau kecil seperti Pulau Pantar di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Mengolah lahan perhutanan sosial di tanah tandus seluas lebih kurang 200 hektar, petani setempat memanen hasil sekitar 150 ton jagung.
Banyak pihak berminat membeli jagung tersebut. Potensi nilai penjualan diperkirakan mendekati Rp 1 miliar. Inilah ikhtiar bersama untuk mengentaskan kemiskinan yang selama ini mengakar di kalangan petani setempat.
Kepala Balai Perhutanan Sosial NTT Erwin pada Minggu (17/5/2026) mengatakan, panen raya dilakukan Sabtu kemarin. Kebun jagung yang dipanen dikelola oleh Kelompok Tani Hutan Duyung Abbang yang berlokasi di Desa Aramaba, Kecamatan Pantar Tengah. Daerah terpencil itu dekat perbatasan.
Menurut Erwin, pengolahan kebun jagung itu merupakan Program Fasilitasi Agroforestry Pangan dan Energi Perhutanan Sosial. Balai perhutanan sosial NTT terlibat aktif mulai dari penetapan kawasan perhutanan sosial, persiapan lahan tanaman hingga bantuan benih, pupuk, dan pestisida.
Menurut Erwin, kegiatan panen raya menunjukkan, skema perhutanan sosial mampu mendukung penguatan ekonomi masyarakat, ketahanan pangan, serta pengelolaan kawasan hutan secara lestari dan berkelanjutan. Para petani miskin menjadi salah satu fokus program itu.
Ia mengatakan, panen raya merupakan simbol keberhasilan masyarakat memanfaatkan akses legal perhutanan sosial menjadi sumber penghidupan yang nyata. "Ketika masyarakat diberikan kepercayaan, pendampingan, dan kesempatan, maka masyarakat mampu menjaga hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraannya," kata Erwin.
Serial Artikel
Perhutanan Sosial di Sumbar Tekan Laju Deforestasi
Pemerintah didorong memperluas program perhutanan sosial karena berdampak positif pada hutan dan masyarakat pengelola.
Lahan jagung tersebut merupakan satu dari total keseluruhan 99.912 lahan perhutanan sosial yang dikelola oleh masyarakat di NTT. Lahan dimaksud terbagi dalam 403 surat keputusan, dengan jumlah penerima manfaat 32.156 keluarga. Adapun potensi lahan perhutanan sosial yang bisa dikelola sebanyak 690.000 hektar.
Kepala Desa Aramaba Efa Sukardi Magang Sau, di dalam siaran pers, berterima kasih kepada pemerintah yang telah mempercayai masyarakat untuk mengelola lahan perhutanan sosial. Kini terbukti lahan tersebut memberikan dampak ekonomi bagi petani setempat yang hampir semua hidup di bawah garis kemiskinan.
Jagung yang dipanen akan dijual ke berbagai pihak. Salah satunya adalah Perum Bulog dengan harga Rp 6.000. Terbuka kemungkinan juga ke pihak lain. Nilai penjualan 150 ton jagung diperkirakan mendekati Rp 1 miliar. "Petani akan terus bersemangat untuk mengolah lahan di sini," katanya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT, Sulastri HI Rasyid, mengatakan, pihaknya akan membantu mencari pasar jagung agar hasil petani dapat terserap dengan harga yang memuaskan. Ia juga mendorong pengolahan jagung menjadi produk turunan seperti pakan ternak.
Menurutnya, tahun ini Pemprov NTT membangun rumah produksi jagung di Kabupaten Alor. Ini untuk mempercepat hilirisasi hasil pertanian. "Tujuanya agar menambah nilai tambah dari hasil pertanian," ujarnya. Target sementara, rumah produksi dibangun di empat kabupaten.
Seperti diberitakan sebelumnya, gerakan perhutanan sosial gencar dilakukan di NTT. Pada Kamis (7/5/2026), sebanyak enam kelompok tani perempuan di Pulau Flores, menerima hak pengelolaan perhutanan sosial seluas 648,64 hektar. Di Indonesia, ini sejarah baru. Untuk pertama kalinya kelompok tani perempuan menjadi yang terbanyak, yakni 93 persen dari total 335 penerima manfaat.
Dibantu Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, enam kelompok tani perempuan itu tersebar di empat kabupaten. Dua kelompok di Manggarai Barat, satu di Manggarai, dua di Manggarai Timur, dan dua di Sikka. Surat keputusan itu diumumkan di Kampus Bambu Komodo, Labuan Bajo.
Serial Artikel
Sejarah Tercipta, Perempuan NTT Dominasi Penerima Perhutanan Sosial
Sebanyak 93 persen perempuan memegang hak pengelolaan hutan perhutanan sosial. Ini pertama di Indonesia. Berharap kesejahteraan bagi perempuan pun mengikuti.





