Fenomena Side Hustle: Ketika Satu Gaji Tak Lagi Cukup, Ini Tips Keuangan untuk Gen Z

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Belakangan ini, cerita tentang pekerja yang memiliki pekerjaan sampingan semakin sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Ada pegawai kantor yang menjadi pengemudi ojek daring sepulang kerja, karyawan yang berjualan makanan ringan di kantor, hingga anak muda yang menawarkan jasa desain, editing video, atau menjadi afiliator media sosial.

Fenomena ini dikenal dengan istilah side hustle, yaitu pekerjaan tambahan di luar pekerjaan utama untuk memperoleh penghasilan tambahan.

Di era digital, side hustle berkembang sangat cepat karena teknologi membuat peluang mencari uang menjadi jauh lebih mudah. Seseorang kini tidak perlu membuka toko besar atau memiliki modal besar untuk memulai usaha sampingan. Dengan ponsel dan internet, orang bisa menjual produk, menawarkan jasa, atau membangun usaha kecil dari rumah.

Karena itu, side hustle sering dianggap sebagai simbol kreativitas ekonomi masyarakat modern. Banyak orang melihatnya sebagai tanda bahwa generasi sekarang lebih aktif, lebih fleksibel, dan lebih berani mencari peluang. Namun di balik gambaran tersebut, ada realitas ekonomi yang lebih dalam. Semakin banyaknya pekerja yang merasa perlu memiliki penghasilan tambahan sebenarnya juga menunjukkan bahwa pekerjaan utama sering kali belum cukup memberikan rasa aman secara finansial.

Mengapa Side Hustle Semakin Marak?

Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Dalam beberapa tahun terakhir, biaya hidup terus meningkat sementara banyak pekerja merasa pendapatan mereka tidak bertambah secepat kebutuhan sehari-hari.

Banyak pekerja, terutama dengan gaji setara UMR, mengalami kondisi yang sering disebut “gaji numpang lewat”. Baru beberapa hari menerima gaji, sebagian besar uang sudah habis untuk kebutuhan rutin seperti sewa tempat tinggal, transportasi, makan, cicilan, hingga kebutuhan keluarga. Setelah itu, hanya sedikit uang yang tersisa untuk tabungan atau dana darurat.

Di saat yang sama, gaya hidup perkotaan juga semakin mahal. Media sosial turut membentuk budaya konsumsi baru. Nongkrong di café, konser musik, healing, olahraga mahal seperti padel atau golf, hingga kebiasaan belanja impulsif karena promo digital menjadi pengeluaran yang semakin umum. Banyak orang akhirnya merasa harus mencari tambahan pemasukan agar kondisi keuangan tetap aman.

Fenomena ini juga berkaitan dengan kondisi pasar kerja di Indonesia. Data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa meskipun jumlah orang yang bekerja terus meningkat, tidak semua pekerjaan memberikan penghasilan stabil dan perlindungan kerja yang memadai. Banyak pekerja masih berada di sektor informal atau pekerjaan dengan pendapatan yang tidak pasti. Dalam kondisi seperti itu, memiliki lebih dari satu sumber penghasilan menjadi strategi bertahan hidup.

Karena itulah, side hustle bagi sebagian orang bukan lagi sekadar pilihan untuk menambah uang jajan atau mengejar gaya hidup, melainkan cara untuk menjaga kestabilan ekonomi keluarga.

Bagaimana Gen Z Menghadapi Kondisi Ini?

Generasi Z menjadi kelompok yang paling dekat dengan fenomena side hustle. Mereka tumbuh di era internet dan media sosial, sehingga lebih terbiasa melihat peluang ekonomi dari dunia digital.

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung fokus pada satu pekerjaan tetap, banyak Gen Z justru melihat fleksibilitas sebagai sesuatu yang penting. Mereka tidak selalu mengejar pekerjaan kantoran dengan pola kerja konvensional. Banyak yang memilih menggabungkan pekerjaan utama dengan pekerjaan freelance, bisnis online, atau proyek digital lain yang bisa dikerjakan secara fleksibel.

Bagi Gen Z, memiliki beberapa sumber penghasilan dianggap lebih aman dibanding hanya bergantung pada satu pekerjaan. Apalagi mereka tumbuh di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, mulai dari pandemi, gelombang PHK, hingga naiknya biaya hidup di perkotaan.

Di sisi lain, generasi muda saat ini juga mulai lebih sadar terhadap pentingnya pengelolaan keuangan. Konsep seperti frugal living, dana darurat, investasi, dan penghasilan pasif semakin populer di media sosial. Hidup hemat tidak lagi dipandang sebagai simbol kekurangan, melainkan sebagai pilihan rasional untuk menjaga kestabilan finansial.

Meski begitu, tantangan yang dihadapi Gen Z juga tidak sedikit. Banyak anak muda mengalami tekanan untuk terlihat sukses di media sosial. Mereka merasa harus mengikuti tren gaya hidup tertentu agar tidak tertinggal secara sosial. Akibatnya, penghasilan tambahan dari side hustle terkadang justru habis kembali untuk memenuhi gaya hidup konsumtif.

Karena itu, tantangan terbesar generasi sekarang sebenarnya bukan hanya mencari uang tambahan, tetapi juga mengelola uang dengan lebih bijak.

Side Hustle dan Realitas Ekonomi Masa Kini

Fenomena side hustle menunjukkan bahwa dunia kerja sedang berubah. Pekerjaan tetap tidak lagi selalu dianggap cukup untuk memberikan rasa aman. Banyak orang merasa perlu membangun beberapa sumber pendapatan sekaligus agar lebih tahan menghadapi kondisi ekonomi yang tidak pasti.

Perkembangan teknologi memang membuka banyak peluang baru. Seseorang kini bisa menghasilkan uang dari keahlian sederhana seperti memasak, menulis, berbicara di depan kamera, desain grafis, atau bahkan dari hobi sehari-hari. Namun di balik peluang tersebut, ada kenyataan bahwa banyak pekerja masih harus bekerja lebih keras hanya untuk mencapai kestabilan finansial.

Karena itu, side hustle memiliki dua sisi sekaligus. Di satu sisi, ia menunjukkan kreativitas dan kemampuan adaptasi masyarakat terhadap perubahan zaman. Namun di sisi lain, ia juga menjadi tanda bahwa banyak orang merasa satu pekerjaan saja belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Tips Menghadapi Kondisi Ekonomi Sekarang

Agar tidak terjebak dalam siklus “gaji habis sebelum akhir bulan”, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:

Pada akhirnya, fenomena side hustle bukan hanya soal tren mencari uang tambahan. Ia menggambarkan bagaimana masyarakat, khususnya generasi muda, berusaha bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan ekonomi yang semakin kompleks. Jika pekerjaan utama mampu memberikan kehidupan yang layak, pekerjaan sampingan akan menjadi pilihan. Namun ketika satu penghasilan belum cukup menopang kebutuhan hidup, maka side hustle akan terus menjadi bagian dari realitas banyak pekerja masa kini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Timwas Haji DPR Minta Jemaah Waspadai Hantavirus: Hati-hati, Jaga Kesehatan
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Sherly Tjoanda Tak Tahan Lagi Lihat Anak Suku Togutil Kekurangan Gizi, Gubernur Malut Itu Kasih Instruksi: Bawa Dokter ke Sini
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
IPC TPK Panjang perbesar kapasitas bongkar muat dukung arus logistik
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Prabowo Sebut Brasil hingga India Ingin Impor Pupuk dari Indonesia
• 19 jam laluokezone.com
thumb
Bukan Begal, 3 Pria Dibacok hingga Motor Dirampas di Jakbar Diduga Sedang Tawuran
• 6 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.