JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah menyiapkan Buku Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional Edisi 2026 sebagai kerangka strategis untuk mengintegrasikan prioritas pengembangan riset dan inovasi dengan arah pembangunan nasional secara terukur, bertahap, dan berorientasi pada dampak.
Dokumen tersebut diharapkan menjadi rujukan strategis yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan transformasi nasional berbasis sains, teknologi, dan inovasi.
Meski berfokus pada transformasi berbasis sains dan teknologi, agenda riset nasional dinilai tidak dapat dipisahkan dari dimensi sosial. Karena itu, bidang sosial humaniora juga diposisikan sebagai unsur penting dalam mendukung pengembangan industri strategis nasional.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Fauzan Adziman mengatakan, peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional Edisi 2026 disusun untuk memperkuat keterhubungan antara arah transformasi nasional jangka panjang dan agenda implementasi riset serta inovasi jangka pendek dan menengah.
”Kami menghimpun masukan dari berbagai pihak melalui konsultasi publik agar dokumen ini semakin kuat, terukur, dan berdampak,” ujar Fauzan dalam keterangan pers Kemendiktisaintek, Minggu (17/5/2026).
Buku Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional Edisi 2026 disusun Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dokumen itu akan terdiri atas dua bagian utama yang saling melengkapi.
Penyusunannya melibatkan 279 anggota tim, termasuk 230 pakar dari perguruan tinggi, kementerian/lembaga, dan industri dengan beragam bidang keahlian.
“Keterlibatan multipihak ini merupakan komitmen Kemendiktisaintek dan BRIN untuk memastikan arah riset dan inovasi nasional disusun secara inklusif, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan nyata pembangunan,” kata Fauzan.
Dokumen tersebut terdiri atas Buku 1 bertajuk Peta Jalan Riset Strategis Nasional 2026–2045: Pendekatan Dinamis dan Multi-Pihak yang memuat arah transformasi riset nasional jangka panjang. Adapun Buku 2, Agenda Riset dan Inovasi Strategis Nasional 2026–2029: Rencana Implementasi, berisi agenda implementasi yang lebih rinci, terukur, dan bertahap pada fase awal.
Pendekatan ini penting agar agenda riset dan inovasi nasional dapat mendukung pembangunan secara menyeluruh, inklusif, dan berkelanjutan.
Fauzan mengatakan, transformasi berbasis sains dan teknologi tidak dapat dilepaskan dari dimensi sosial, hukum, budaya, ekonomi, bisnis, pendidikan, seni, dan keagamaan. Karena itu, bidang sosial humaniora memiliki peran strategis untuk memastikan setiap agenda riset dan inovasi dapat diimplementasikan secara tepat dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Pada dokumen terkait Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional terbaru, lanjut Fauzan, bidang sosial humaniora menjadi bidang kunci dalam mendukung pengembangan industri strategis nasional. Penguatan riset dan inovasi di berbagai sektor tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga pemahaman tentang masyarakat, kebijakan, dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang ditimbulkan.
“Pendekatan ini penting agar agenda riset dan inovasi nasional dapat mendukung pembangunan secara menyeluruh, inklusif, dan berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN Boediastoeti Ontowirjo mengatakan pemerintah memakai pendekatan multipihak dalam merumuskan arah riset dan inovasi nasional. “Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional Edisi 2026 juga diharapkan menjadi acuan bersama bagi kementerian/lembaga, perguruan tinggi, industri, dan mitra pembangunan dalam menyelaraskan prioritas, mengarahkan penguatan riset, serta memperkuat koordinasi pelaksanaan,” kata Boediastoeti.
Secara terpisah, Kemendiktisaintek juga menggelar diskusi kelompok terpumpun bertema Review dan Validasi Peta Jalan Riset Bidang Pendidikan di Jakarta, Selasa (13/5/2026). Kegiatan itu merupakan bagian dari penyempurnaan Buku Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional.
Forum tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi perguruan tinggi, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), hingga asosiasi pendidikan.
Perwakilan tim penyusun bidang pendidikan dari Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Negeri Indonesia (ALPTKNI), Markus Diantoro, mengatakan pendidikan memiliki posisi mendasar dalam peta jalan riset nasional. Menurut dia, pembangunan berbagai sektor strategis pada akhirnya bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang menjalankannya.
Markus yang juga Guru Besar Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang menjelaskan, peta jalan riset bidang pendidikan disusun dalam tiga fokus utama. Pertama, menyiapkan lulusan pendidikan dasar dan menengah agar siap melanjutkan ke perguruan tinggi. Kedua, menyiapkan lulusan pendidikan tinggi agar adaptif terhadap perkembangan sains, teknologi, dunia kerja, dunia usaha, dan dunia industri. Ketiga, memperkuat pendidikan nonformal agar lulusannya memiliki akses, pengakuan, dan kesetaraan untuk melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, maupun berwirausaha.
“Kalau berbicara tentang bidang-bidang strategis, yang utama harus dibangun adalah manusianya. Keberhasilan teknologi, industri, produk, dan berbagai agenda strategis nasional sangat ditentukan oleh sumber daya manusia yang siap, adaptif, serta mampu mengikuti bahkan mendahului perubahan. Karena itu, pendidikan harus berjalan seiring dan menjadi fondasi penguatan bidang-bidang strategis menuju Indonesia 2045,” ujar Markus.
Dalam diskusi kelompok terpumpun tersebut juga mengemuka sejumlah isu penting, antara lain penguatan kualitas dan distribusi guru, peningkatan literasi, numerasi, serta kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Selain itu, peserta menyoroti pentingnya penguatan pendidikan anak usia dini dan perluasan akses serta pengakuan terhadap pendidikan nonformal.
Agenda riset pendidikan juga diharapkan lebih peka terhadap konteks daerah, pendidikan swasta, pesantren, kawasan tertinggal, serta kebutuhan dunia kerja.
Perwakilan sektor industri menekankan pentingnya pemetaan kebutuhan kompetensi industri serta penguatan soft skills lulusan. Selain itu, penguatan karakter dan wawasan kebangsaan juga menjadi perhatian.
Peserta diskusi turut menyoroti perlunya kajian mengenai pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial yang tidak hanya berfokus pada peluang, tetapi juga mempertimbangkan aspek etika, integritas akademik, dampak penggunaan gawai, serta perlindungan anak dalam ekosistem digital.





