Jakarta, VIVA – Bulan Dzulhijjah menjadi salah satu waktu yang paling istimewa bagi umat Islam. Selain identik dengan ibadah haji dan Hari Raya Idul Adha, sepuluh hari pertama di bulan ini juga disebut memiliki keutamaan besar untuk memperbanyak amal ibadah.
Hal tersebut dijelaskan oleh Buya Yahya dalam sebuah kajian yang ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam ceramahnya, Buya Yahya menegaskan bahwa 10 hari awal Dzulhijjah merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh.
“Tidak ada hari-hari yang lebih bagus untuk beramal melebihi dari 10 awal Dzulhijjah. 10 awal Dzulhijjah adalah istimewa. Hari-hari istimewa,” ujar Buya Yahya yang dikutip dari YouTube pada Minggu, 17 Mei 2026.
Ia bahkan menjelaskan bahwa jika tidak ada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan, maka keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah bisa melebihi 10 malam terakhir Ramadhan. Menurutnya, keistimewaan Ramadhan lebih terletak pada malam-malamnya, sementara Dzulhijjah memiliki keutamaan pada hari-harinya secara umum.
Dalam penjelasannya, Buya Yahya mengajak umat Muslim untuk tidak hanya fokus pada satu jenis ibadah saja. Ia menekankan bahwa semua amal saleh dianjurkan untuk diperbanyak selama memasuki awal Dzulhijjah.
“Perbanyak membaca takbir, tahlil, tasbih membaca tahlil, lailahaillallah. Takbir Allahu Akbar subhanallah,” jelasnya.
Selain dzikir, ada sejumlah amalan sunnah lain yang dianjurkan dilakukan, mulai dari membaca Al-Qur’an, bersedekah, menjaga silaturahmi, hingga melaksanakan puasa sunnah. Salah satu yang paling banyak dilakukan umat Islam adalah puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Buya Yahya menyebut puasa Arafah memiliki keutamaan besar karena diyakini dapat menjadi penghapus dosa-dosa kecil selama dua tahun.
“Nabi mengatakan, ‘Aku berharap Allah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang.’ Dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang,” katanya.
Namun, ia menegaskan bahwa puasa Arafah dianjurkan bagi umat Muslim yang tidak sedang menjalankan ibadah haji. Sementara jamaah haji di Tanah Suci justru dianjurkan tidak berpuasa agar memiliki tenaga menjalani rangkaian ibadah.
Selain puasa, Buya Yahya juga menyoroti pentingnya ibadah kurban saat Idul Adha. Ia meluruskan anggapan sebagian masyarakat yang mengira kurban cukup dilakukan sekali seumur hidup.





