REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan izin pembangunan seaplane atau fasilitas pendaratan pesawat amfibi di Bendungan Batujai, Kabupaten Lombok Tengah, hingga kini masih berproses di pemerintah pusat.
Kepala Dishub NTB, Ervan Anwar, mengatakan seluruh dokumen pengajuan telah dikirimkan ke kementerian terkait dan saat ini pihaknya terus melakukan komunikasi intensif agar proses perizinan dapat segera tuntas.
Baca Juga
Pemerintah Yerusalem Peringatkan Rencana Israel Ambil Paksa Properti Dekat Masjid Al-Aqsa
Ratusan Kasus Muncul, WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo & Uganda Jadi Darurat Global
Stigma “Bank Syariah Sama Saja” Dinilai Masih Kuat di Masyarakat
“Sedang berproses. Tidak mungkin hari ini minta izin lalu hari itu juga langsung ditandatangani. Semua butuh proses, tapi kami tetap berkomunikasi,” ujar Ervan di Mataram, Ahad (17/5/2026).
Menurut dia, perizinan yang diajukan mencakup aspek perhubungan udara hingga pemanfaatan ruang perairan di Bendungan Batujai yang berada di bawah kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Sejak awal semua dokumen sudah kami kirim. Misalnya untuk izin pemanfaatan budidaya di bawah PU dan BWS, kemudian izin terkait pengoperasian pesawat dari Kemenhub. Sekarang tinggal menunggu prosesnya,” katanya.
Ervan menjelaskan konsep seaplane menggabungkan moda transportasi udara dan perairan sehingga tidak membutuhkan landasan pacu konvensional seperti bandara. Pesawat amfibi cukup menggunakan lintasan air sepanjang sekitar 400 meter untuk lepas landas maupun mendarat.
“Kalau di atas air tidak perlu runway panjang seperti bandara pada umumnya. Sekitar 400 meter sudah cukup untuk take-off dan landing,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan layanan ini nantinya dapat membuka konektivitas wisata antardestinasi di NTB, khususnya untuk kawasan-kawasan yang sulit dijangkau cepat melalui jalur darat maupun laut.
Rute yang diproyeksikan antara lain menuju gugusan Gili Tramena, kawasan wisata Sekotong, Lombok Timur, hingga Teluk Saleh di Pulau Sumbawa.
“Ini untuk mendukung destinasi wisata jarak pendek, sehingga wisatawan bisa mengunjungi lebih banyak tempat dalam waktu singkat,” kata Ervan.
Meski belum diketahui jenis pesawat amfibi yang akan dioperasikan, Ervan menyebut layanan ini menyasar wisatawan premium yang ingin menjelajahi banyak destinasi dengan waktu terbatas.