FAJAR, BARCELONA — Performa Veda Ega Pratama di Moto3 Catalunya 2026 kembali memperlihatkan satu hal yang mulai menjadi ciri khasnya musim ini: agresif, nekat, tetapi tetap efektif.
Start dari posisi ke-20 di Circuit de Barcelona-Catalunya, Montmelo, pembalap muda Indonesia itu sukses finis di posisi kedelapan setelah menyalip 11 pembalap dalam balapan yang berlangsung ketat sejak lap awal.
Namun hasil tersebut terasa sedikit antiklimaks.
Sebab, aksi heroik Veda Ega sepanjang balapan pada akhirnya belum cukup untuk menyalip dua rival yang terus dibandingkan dengannya musim ini, yakni Hakim Danish dan Brian Uriarte.
Keduanya justru finis di depan Veda dalam pertarungan rombongan besar yang berlangsung sangat rapat hingga garis akhir.
Padahal, awal balapan Veda benar-benar eksplosif.
Begitu lampu start padam, rider Honda Team Asia itu langsung melesat tujuh posisi hanya dalam satu lap. Dari posisi ke-20, ia naik ke peringkat ke-13.
Momentum itu menjadi fondasi kebangkitan luar biasa.
Pada lap ketiga, Veda sudah masuk posisi ke-11. Ia kemudian terus menjaga ritme dan mulai memperlihatkan keberanian khasnya saat masuk tikungan cepat Catalunya.
Beberapa manuver overtaking dilakukan di racing line yang sangat sempit—sesuatu yang musim ini mulai identik dengan gaya balap Veda.
Tak heran jika banyak pengamat mulai mengaitkannya dengan gaya agresif ala Valentino Rossi.
Veda bukan tipe pembalap yang hanya menunggu kesalahan lawan. Ia cenderung menciptakan celah sendiri, bahkan di titik yang secara naluriah dihindari pembalap lain.
Namun di Catalunya, keberanian itu belum cukup menghasilkan hasil maksimal.
Saat mulai masuk persaingan tujuh besar, ritme balapan berubah semakin brutal. Posisi terus berganti hampir di setiap tikungan, sementara slipstream memainkan peran besar di lintasan panjang Catalunya.
Di fase inilah Hakim Danish dan Brian Uriarte tampil lebih efisien.
Brian Uriarte berhasil finis keempat, sementara Hakim Danish mengakhiri balapan di posisi ketujuh.
Sementara Veda harus puas finis kedelapan dengan selisih kurang dari satu detik dari pemenang balapan.
Yang membuat hasil ini terasa “nyaris” ialah jarak antar pembalap di rombongan depan sangat tipis.
Veda finis hanya +0,984 detik dari pemenang balapan, Maximo Quiles.
Artinya, meski start dari posisi ke-20, ia sebenarnya tetap berada dalam kelompok utama perebutan podium hingga lap-lap akhir.
Sayangnya, momentum terakhir tidak sepenuhnya berpihak kepadanya.
Beberapa duel di tikungan akhir membuat Veda kehilangan kesempatan menyalip Hakim Danish dan Brian Uriarte.
Meski begitu, hasil ini tetap sangat penting bagi perjalanan rookie Indonesia tersebut.
Tambahan poin membuat Veda kini mengoleksi 58 poin di klasemen sementara Moto3 2026. Angka itu memperlihatkan perkembangan signifikan untuk pembalap debutan yang baru menjalani musim penuh pertamanya di level Grand Prix.
Yang paling menarik, performa Veda kini mulai memperlihatkan pola konsisten.
Bukan lagi sekadar pembalap yang sesekali mencuri perhatian lewat aksi agresif, tetapi rider yang mulai mampu menjaga ritme kompetitif hampir di setiap seri.
Dan Catalunya menjadi bukti lain bahwa Veda Ega bukan lagi sekadar “rookie kejutan”.
Ia mulai tumbuh menjadi ancaman nyata di Moto3.
Kini tantangan berikutnya bukan hanya soal keberanian melakukan overtake ekstrem, tetapi bagaimana mengubah agresivitas itu menjadi efisiensi untuk benar-benar bertarung di podium secara reguler.
Sebab jika proses itu berhasil dilewati, maka julukan “rookie berbahaya” mungkin tak akan cukup lagi untuk menggambarkan siapa sebenarnya Veda Ega Pratama musim ini.
- Maximo Quiles – 32 menit 28,964 detik
Alvaro Cape
David Munoz
Brian Uriarte
David Almansa
Marco Morelli
Hakim Danish
Veda Ega Pratama
Adrian Fernandez
Casey O’Gorman
Eddie O’Shea
Valentín Perrone
Adrian Cruces
Matteo Bertelle
Ryusei Yamanaka





