Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah selatan Lebanon, meski gencatan senjata antara kedua pihak baru saja diperpanjang selama 45 hari.
Serangan tersebut disebut Israel menargetkan kelompok Hizbullah. Pemboman yang terjadi hanya sehari setelah kesepakatan perpanjangan gencatan senjata ini pun memicu keraguan publik terhadap peluang terciptanya perdamaian permanen di kawasan perbatasan.
Sebelum serangan dimulai, militer Israel diketahui mengeluarkan peringatan evakuasi untuk sembilan desa di Lebanon selatan. Tak lama berselang, rentetan serangan udara menghantam sejumlah titik di wilayah tersebut.
Situasi itu memperparah kecemasan ribuan warga Lebanon selatan yang sebelumnya telah mengungsi akibat konflik berkepanjangan antara kedua negara.
Baca Juga: Hubungan UEA-Iran Memanas, Abu Dhabi Bantah Terlibat Agresi AS dan Israel
Sebelumnya, Amerika Serikat mengumumkan bahwa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon diperpanjang selama 45 hari mulai Jumat (15/5).
"Penghentian permusuhan pada 16 April akan diperpanjang selama 45 hari untuk memungkinkan kemajuan lebih lanjut," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, melalui akun media sosial X.
Pigott mengatakan pemerintah AS masih akan melanjutkan upaya negosiasi politik demi mendorong stabilitas kawasan. Pertemuan lanjutan dijadwalkan berlangsung pada 2-3 Juni mendatang.
Selain itu, AS juga mengumumkan rencana pembentukan jalur keamanan yang melibatkan delegasi militer Israel dan Lebanon. Pertemuan awal terkait mekanisme tersebut akan digelar di Pentagon pada 29 Mei.
"Kami berharap diskusi ini akan memajukan perdamaian abadi antara kedua negara, pengakuan penuh atas kedaulatan dan integritas teritorial masing-masing dan membangun keamanan nyata di sepanjang perbatasan bersama mereka," ujar Pigott.
Baca Juga: Gencatan Senjata Tak Mempan, Netanyahu Akui Drone Hizbullah Bikin Israel Kewalahan di Lebanon
Namun di lapangan, kondisi justru menunjukkan eskalasi baru. Rentetan serangan udara yang terus berlangsung membuat banyak warga Lebanon semakin skeptis terhadap efektivitas gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat tersebut.





