JAYAPURA, KOMPAS - Setidaknya 13 orang tewas akibat perang antarsuku di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Selain itu, 24 orang lainnya ditemukan tewas karena hanyut saat jembatan gantung yang diseberangi terputus saat situasi perang. Pencarian korban hanyut lainnya masih dilakukan.
Konflik horizontal ini terjadi sejak Rabu (6/5/2026) dan melibatkan sejumlah suku asli Wamena dengan suku Lani di sejumlah titik di Kabupaten Jayawijaya. Hingga Minggu (17/5/2026), kesepakatan damai dari masing-masing kubu belum tercapai.
Perang ini berawal dari ketidaksepahaman denda adat terkait perang suku yang terjadi pada Juni 2024. Saat itu, sejumlah suku asli Wamena didenda harus membayar kepada suku kepada Suku Lani. Lalu, pelunasan denda adat dilaksanakan pada 6 Mei 2026.
“Namun, (saat acara pembayaran) dari pihak suku Lani tidak ada kesepahaman karena denda yang dibayarkan tidak sesuai, sehingga menyebabkan ketidakpuasan dan terjadilah aksi penyerangan,” kata Kepala Polres Jayawijaya Ajun Komisaris Besar Anak Agung Made Satriya Bimantara, dalam keterangannya.
Selanjutnya, perang antarsuku pecah pada Rabu sore. Suku Lani yang akan menyerang lalu berjalan kaki melewati jembatan gantung di Kali Uwe, Distrik Wamena.
Namun, diduga akibat kelebihan muatan, jembatan tersebut roboh. Lebih dari 30 orang hanyut. Upaya pencarian kemudian dilakukan oleh masyarakat, TNI-Polri, serta dibantu Pencarian dan Pertolongan (SAR) Jayapura melalui pos SAR Wamena.
Pencarian dilakukan sejak Kamis (7/5/2026). Hingga Minggu sore, berdasarkan data dari SAR Jayapura, telah ditemukan 24 korban dalam kondisi tak bernyawa. Korban lainnya masih terus dicari.
“Kami di sini sifatnya hanya mem-backup polisi dalam upaya pencarian. Data pasti jumlah yang hanyut belum diketahui, tetapi infonya ada lebih dari 30 orang,” ujar Kepala Kantor SAR Jayapura Anton Sucipto.
(Saat acara pembayaran) dari pihak suku Lani tidak ada kesepahaman karena denda yang dibayarkan tidak sesuai sehingga menyebabkan ketidakpuasan dan terjadilah aksi penyerangan.
Berdasarkan laporan polisi, musibah warga hanyut ini sempat membuat perang terhenti. Masyarakat fokus untuk mencari korban hanyut.
Setelah beberapa hari, konflik kembali pecah. Peristiwa putusnya jembatan diduga turut memicu kemarahan lebih besar dari suku Lani hingga perang dengan massa yang lebih besar kembali terjadi.
Saling serang kembali terjadi pada Jumat (15/5/2026), yang melibatkan Suku Lani dengan sejumlah suku asli Wamena. Di sejumlah titik di dalam Kota Wamena, perang melibatkan suku Lani dengan Suku Hubla.
Selain itu, di daerah Muai, Distrik Hubikiak, perang melibatkan suku Lani dengan suku Dani. Massa menggunakan panah dan berbagai senjata tradisional lainnya.
Sementara itu, hingga Minggu sore situasi saling serang sudah tidak terjadi. Masing-masing kubu masih saling berjaga di wilayah masing-masing.
Berdasarkan data dari Polres Jayawijaya, akibat perang ini ada 13 orang korban tewas. Sementara itu, 3 orang mengalami luka berat serta 16 orang luka ringan. Para korban dirawat di RSUD Wamena.
Selain itu, Polres Jayawijaya juga mencatat ada 893 pengungsi akibat konflik ini. Sebagian besar posko pengungsian dipusatkan di Polres Jayawijaya.
”Masyarakat masih berjaga-jaga. Jadi status saat ini masih rawan-waspada. Belum ada kesepakatam damai. Namun, langkah-langkah untuk damai ini telah diambil oleh pemerintah daerah setempat yang melibatkan tokoh agama, adat, dan tokoh masyarakat,” kata Kepala Seksi Humas Polres Jayawijaya Inspektur Dua Efendi Al Husaini.
Sementara itu, Polda Papua telah menambah 100 personel. Saat ini, total ada 400 personel Polri yang mengamankan konflik horizontal di Jayawijaya ini. Selain itu, upaya pengamanan juga dipertebal dari pihak TNI.





