REPUBLIKA.CO.ID,BADUNG – Di bawah langit Badung, Bali, sebuah tubuh terhempas keras ke atas tanah berlumpur. Dialah Ferry Alberto Lesar, seniman sekaligus koreografer contemporary dance asal Manado, Sulawesi Utara. Dengan kondisi tubuh terikat material transparan, ia bergerak teatrikal, seolah sedang bertarung melawan jeratan yang tak kasat mata.
Namun, material transparan yang mengikat tubuh Eyi—sapaan akrabnya—bukanlah produk sintetis konvensional. Itu adalah TeloBag, kantong ramah lingkungan berbahan dasar singkong yang sengaja ia adaptasi menjadi kostum pertunjukan. Melalui karya terbarunya yang bertajuk Roller Coaster, seniman yang juga merupakan bagian dari Yayasan Seni Tari Indonesia (YSTI) ini tengah mengubah material menjadi tubuh, dan tubuh menjadi medium kritik.
Baca Juga
Pramono Ingin Sambungkan LRT Jakarta ke PIK 2, Potensi Wisata Jadi Pertimbangan
Aksi Cerdik Korban Gagalkan Begal Rebut Motornya
Pengasuh Pesantren yang Jadi Tersangka Pencabulan Santriwati di Pati Dipindahkan ke Rutan Polda
Kolaborasi unik antara seni gerak kontemporer dan inovasi ekologis ini lahir dari keresahan Eyi yang mendalam terhadap tanah Bali. Bagi Eyi, Pulau Dewata memiliki ruang yang teramat rapuh di balik keindahannya yang dipuja dunia."Bali adalah kota yang istimewa, dan seharusnya juga diperlakukan secara istimewa," ujar Eyi lewat keterangan tertulis, Ahad (17/5/2026).
Atas dasar keistimewaan itu, Eyi menilai inovasi ramah lingkungan seperti kantong singkong ini sudah sepatutnya mengambil alih peran plastik konvensional yang merusak bumi."Akan jauh lebih baik apabila seluruh gerai toko dan penggunaan plastik konvensional dapat perlahan diganti dengan material berbahan dasar singkong ini. Selain dapat larut di dalam air, material ini juga aman apabila termakan oleh organisme laut maupun darat,"kata dia.
.rec-desc {padding: 7px !important;} Janji yang "Dimuntahkan"
Gagasan ideal itu nyatanya masih sebatas karya di atas panggung. Pada kenyataannya, kepedulian pemerintah dan masyarakat terhadap isu ekologi dirasa masih sangat minim, sementara isu sampah di Bali semakin masif dan menumpuk di hampir setiap sudut kota.
Jarak yang lebar antara panggung seni dan realitas itulah yang dieksplorasi secara simbolis dalam Roller Coaster. Sebelum aksi utama dimulai, dua penari pria, David dan Malim, berkomunikasi dengan penonton mengenai keresahan mereka terhadap bumi. Penonton kemudian menuliskan harapan serta keresahan mereka di atas potongan kertas kecil.