jpnn.com - JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menarik perhatian ribuan orang pada momen peresmian Kelenteng Tian Fu Gong di Riverwalk Island, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, Minggu (17/5) sore.
Tidak sekadar meresmikan, mantan sekretaris kabinet itu juga berbicara tentang 12 altar dewa dan dewi di tempat ibadah yang namanya bermakna Istana Kemakmuran Agung tersebut.
BACA JUGA: Resmikan Kelenteng Tian Fu Gong PIK, Pramono Bicara Toleransi di Jakarta
Berpidato saat menyampaikan kata sambutan pada peresmian Tian Fu Gong, Mas Pram -panggilan kondangnya- mengaku tertarik soal dewa dan dewi yang diagungkan di kelenteng itu.
“Tadi ketika disampaikan dalam sambutan mengenai keunikan 12 altar yang ada di tempat ini, saya langsung terbayangkan,” katanya.
BACA JUGA: Dihadiri Ribuan Umat, Peresmian Kelenteng Tian Fu Gong PIK Berlangsung Khidmat
Syahdan, Gubernur ke-18 DKI Jakarta itu menyebut Yu Huang Da Di atau Tian Gong. Dia menggambarkan sosok tersebut sebagai Kaisar Langit dalam tradisi Tionghoa.
“Yu Huang Da Di atau Tian Gong itu Dewa Kaisar Langit,” ujarnya.
BACA JUGA: Bupati Tangerang Resmikan Penataan Makam Ki Mauk, PIK2 Dukung Pemugaran Kawasan
Pramono juga menyinggung tentang Tai Shang Lao Jun. Wakil Ketua DPR periode 2009-2014 itu menyebut Tai Shang Lao Jun termasuk salah satu figur utama karena berkaitan dengan kebijaksanaan dan spiritualitas.
“Tai Shang Lao Jun ini termasuk yang tiga utama, yaitu guru para suci, sumber kebijaksanaan dan spiritual,” ujar Pramono.
Dia kemudian menyinggung dewa yang berkaitan dengan jodoh. Dengan gaya santai, politikus senior itu mengatakan remaja yang belum memperoleh pasangan bisa datang ke altar Yue Xia Lao Ren.
“Bagi anak-anaknya yang belum dapat jodoh, kalau di sini harus datang ke tempatnya Dewa Yue Xia Lao Ren, dewa jodoh,” katanya.
Aplaus dari ribuan hadirin pun langsung menggema untuk merespons pernyataan itu. Selanjutnya, Pramono menekankan bahwa keberadaan altar di Tian Fu Gong memiliki nilai budaya dan spiritual yang penting.
Oleh karena itu, Pramono mengharapkan kelenteng tersebut tidak hanya menjadi tempat sembahyang, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran budaya bagi masyarakat, terutama generasi muda.
Menurut dia, penting bagi masyarakat untuk memahami kultur, budaya, dan asal-usul leluhur agar simbol-simbol keagamaan tidak hanya dilihat sebagai ornamen, tetapi dipahami maknanya.
Kelenteng Tian Fu Gong, imbuhnya, bisa menjadi tempat ibadah sekaligus ruang edukasi budaya yang memperkenalkan nilai kebajikan, spiritualitas, dan tradisi Tionghoa.
Pramono meyakini potensi wisata religi di Indonesia tidak kalah dari negara lain. Namun, dia menegaskan bahwa cara mengemas dan mempromosikan destinasi menjadi faktor penting.
Lebih lanjut Mas Pram menilai Tian Fu Gong berpotensi menjadi destinasi wisata religi dan budaya. Dia menyebut kawasan Riverwalk Island memiliki daya tarik karena menghadirkan fasilitas ibadah lintas agama dalam satu kawasan.
“Kalau melihat PIK2 sudah mempersiapkan seperti ini, ada Katolik, ada Islam, ada Buddha, ada Taoisme, saya yakin orang pasti akan datang ke tempat ini,” imbuhnya. (jpnn.com)
Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan




