Uni Emirat Arab Ungkap Alasan Hengkang dari OPEC

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Energi Uni Emirat Arab (UEA) Suhail Mohamed Al Mazrouei menegaskan langkah negaranya untuk keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan aliansi OPEC+ disebut murni didasarkan pada visi ekonomi negara tersebut, bukan pertimbangan politik.

Menteri Energi UEA Suhail Mohamed Al Mazrouei mengatakan, keputusan itu diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan produksi nasional dan kemampuan produksi energi negara ke depan.

“Keputusan ini diambil semata-mata berdasarkan kepentingan nasional Uni Emirat Arab, tanggung jawabnya sebagai pemasok energi yang andal, serta komitmen teguh untuk menjaga stabilitas pasar,” ujar Mazrouei dalam unggahan di platform X, dikutip Senin (18/5/2026).

Mazrouei menegaskan keputusan itu tidak didorong oleh pertimbangan politik maupun mencerminkan adanya perpecahan antara UEA dan negara-negara mitranya di OPEC+.

Menurut dia, langkah keluar dari OPEC merupakan pilihan strategis dan kedaulatan negara yang didasarkan pada visi ekonomi jangka panjang, perkembangan kapasitas sektor energi, dan komitmen menjaga keamanan energi global.

"Setiap keputusan UEA bersifat berdaulat, strategis, dan berlandaskan kepentingan nasional, bukan spekulasi dari pihak luar," katanya.

Baca Juga

  • UEA Mendadak Hengkang dari OPEC Mulai 1 Mei, Apa Penyebabnya?
  • UEA Hengkang dari OPEC, Apa Dampaknya ke Harga Minyak?
  • OPEC+ Kembali Tambah Pasokan Minyak Mentah 188.000 bph per Juni 2026

Melansir CNBC International, UEA sebelumnya mengumumkan akan keluar dari kelompok produsen minyak OPEC, organisasi yang telah diikutinya sejak 1967, bahkan sebelum negara tersebut resmi berdiri.

Sebelum perang pecah, produksi minyak UEA berada sedikit di atas 3 juta barel per hari, sejalan dengan target produksi OPEC+. Abu Dhabi sebelumnya menargetkan kapasitas produksi mencapai 4,9 juta barel per hari.

Namun, akibat perang, produksi minyak UEA kini turun menjadi sekitar 1,8 juta hingga 2,1 juta barel per hari.

UEA selama ini dikenal sebagai anggota paling berpengaruh di OPEC setelah Saudi Arabia. Bersama Arab Saudi, UEA menjadi salah satu dari sedikit negara anggota yang memiliki kapasitas cadangan produksi signifikan untuk memengaruhi harga minyak dan merespons guncangan pasokan global.

Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy Jorge León mengatakan, kapasitas cadangan produksi merupakan volume produksi menganggur yang dapat segera diaktifkan saat terjadi krisis besar.

Arab Saudi dan UEA disebut menguasai mayoritas kapasitas cadangan minyak dunia yang mencapai lebih dari 4 juta barel per hari, sehingga kedua negara memiliki pengaruh besar terhadap pasar saat terjadi gangguan pasokan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wajahnya Sering Dirias, Gubernur Sherly Tjoanda Ungkap Cara Simpel Agar Tidak Mudah Jerawatan
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Kemenag Tetapkan Idul Adha Jatuh pada Rabu 27 Mei 2026
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Perancang Busana Modest Ungkap Rahasia Tampil Feminin, Elegan, dan Anggun 
• 3 jam laluerabaru.net
thumb
Sahroni Minta HDCI Kepri Perbanyak Aksi Sosial di Masyarakat
• 17 jam lalujpnn.com
thumb
Nilai Tukar Rupiah Anjlok ke Rp17.598 per Dolar AS, Sejauh Mana Dampaknya? | KOMPAS PETANG
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.