Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Korea Selatan mulai menyiapkan langkah darurat untuk mencegah mogok massal pekerja Samsung Electronics yang dinilai berisiko mengguncang ekspor, pasar keuangan, hingga investasi nasional di tengah lonjakan permintaan industri cip kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dilansir kantor berita Yonhap, Perdana Menteri Korea Selatan Kim Min-seok mengatakan, pemerintah akan mempertimbangkan seluruh langkah yang tersedia, termasuk emergency arbitration atau arbitrase darurat, guna meminimalkan dampak terhadap perekonomian nasional.
Pernyataan itu disampaikan menjelang dimulainya kembali negosiasi antara manajemen Samsung Electronics dan serikat pekerja terbesar perusahaan pada Senin (19/5/2026) atau 4 hari sebelum rencana mogok massal dimulai.
“Pemerintah menyambut baik keputusan untuk melanjutkan dialog,” kata Kim dalam pernyataan resminya kepada publik, Minggu (18/5/2026).
Kim menegaskan perundingan Senin menjadi kesempatan terakhir untuk mencegah aksi mogok.
“Kedua belah pihak tidak boleh meremehkan pentingnya pertemuan ini,” ujarnya.
Baca Juga
- Penyebab 50.000 Buruh Samsung Electronics Rencanakan Mogok Kerja 18 Hari
- Rencana Mogok Kerja Buruh Samsung Electronics Berlanjut, Pasokan Cip AI Global Terancam
- Bursa Korsel Ambrol, Saham Samsung Jadi Sasaran Aksi Jual Investor Asing
Sebelumnya, serikat pekerja terbesar Samsung Electronics masih kukuh melanjutkan rencana aksi mogok kerja selama 18 hari.
Aksi tersebut sebelumnya diklaim akan diikuti oleh sekitar 41.000 pekerja yang telah menyatakan kesiapannya. Jumlahnya disebut berpotensi meningkat menjadi lebih dari 50.000 pekerja.
Ketua serikat pekerja Samsung Electronics Choi Seung-ho mengatakan, pihaknya tidak akan kembali berunding sebelum perusahaan memenuhi tuntutan utama terkait bonus berbasis kinerja.
“Kami bersedia berdiskusi setelah 7 Juni. Kami berniat menggunakan hak yang dijamin konstitusi,” katanya, mengutip kantor berita Yonhap, Jumat (15/5/2026).
Keputusan tersebut disampaikan Choi Seung-ho kendati manajemen Samsung Electronics telah mengajukan proposal baru untuk melanjutkan pembicaraan tanpa prasyarat.
Perselisihan terkait bonus kinerja membuat negosiasi antara pekerja dan manajemen kembali buntu, meski pemerintah Korea Selatan telah turun tangan sebagai mediator.
Pada Rabu (13/5/2026), pemerintah Korea Selatan sempat memimpin mediasi yang berlangsung selama 2 hari. Namun, hal itu berakhir tanpa kesepakatan.
Pemicu Aksi Mogok Kerja Massal Pekerja Samsung ElectronicsAdapun, rencana aksi tersebut dipicu oleh perbedaan posisi antara serikat pekerja dan manajemen terkait bonus kinerja.
Perselisihan utama berkaitan dengan skema bonus berbasis laba dari bisnis semikonduktor AI Samsung Electronics yang tengah menikmati lonjakan keuntungan seiring berlanjutnya tren peningkatan permintaan global.
Dalam proposal terbaru kepada serikat pekerja, manajemen Samsung menawarkan tetap mempertahankan sistem bonus yang sudah ada. Namun, perusahaan membuka opsi perhitungan bonus berdasarkan 10% laba operasi atau economic value added (EVA).
Samsung juga menawarkan skema kompensasi khusus yang disebut dapat menciptakan struktur insentif lebih fleksibel.
Sebaliknya, serikat pekerja menuntut bonus tetap sebesar 15% dari laba operasi divisi semikonduktor, sekaligus meminta penghapusan batas maksimum pembayaran bonus.
Dalam catatan Bisnis, cip AI menjadi salah satu lini bisnis andalan konglomerasi usaha global asal Korea Selatan tersebut.
Bahkan, Samsung Electronics berencana mengalokasikan dana investasi lebih dari 110 triliun won atau Rp1.247 triliun untuk ekspansi kapasitas dan riset cip AI pada 2026.
Alokasi ini menjadi komitmen modal tahunan terbesar dalam sejarah perusahaan untuk mengamankan posisi terdepan di tengah ledakan permintaan teknologi global.
Keterbukaan informasi perusahaan ini menunjukkan nilai investasi tersebut meningkat 21,7% dibandingkan realisasi belanja tahun lalu sebesar Rp1.024 triliun.
Angka ini juga menandai pertama kalinya pengeluaran tahunan raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut melampaui ambang batas 100 triliun won atau sekitar Rp1.134 triliun.
Strategi ekspansi Samsung melampaui perkiraan belanja modal Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) yang menetapkan dana sekitar US$50 miliar untuk tujuan serupa.


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F05%2F18%2Fa3bf78cc4c1e6d83c0261b0e74e3c73e-WhatsApp_Image_2026_05_18_at_6.16.29_PM_1_.jpeg)


