JAKARTA, KOMPAS.com - Aroma gula merah yang menguar dari kukusan bambu langsung tercium hidung siapa saja yang melintas di depan Pasar Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan.
Harumnya gula merah itu berasal dari gerobak berwarna hijau milik pria bernama Suntana (38), yang menjual makanan tradisional dodongkal atau dongkal.
Di tengah gempuran dessert modern dan kue-kue viral yang silih berganti memenuhi media sosial, dodongkal kue tradisional khas Sunda ternyata belum kehilangan penggemarnya.
Bukan hanya diburu pelanggan usia tua yang ingin bernostalgia, jajanan berbahan tepung beras, kelapa, dan gula aren ini juga mulai dilirik anak muda yang penasaran dengan rasa tradisional dari kue itu.
Baca juga: Di Tengah Dessert Kekinian, Dodongkal Masih Dicari
Salah satu Gen Z bernama Yoyo (26) mengaku, suka kue dodongkal karena ciri khas rasanya yang manis dan gurih.
Bahkan ia menilai, rasa dodongkal tak kalah enak dengan kue kekinian.
"Kalau saya sih nilainya enakan dongkal dibanding kue kekinian. Karena kalau kue kekinian kadang rasanya aneh kebanyakan campuran, kalau ini kan bahannya alami, sudah gitu masaknya tradisional," kata Yoyo ketika diwawancarai Kompas.com di kawasan Pasar Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (15/5/2026).
Gen Z lain bernama Ica (22) juga mengaku, suka sekali dengan dongkal karena rasanya yang manis dan teksturnya mengenyangkan.
"Suka dongkal, karena rasanya mah manis kue ini terus juga mengenyangkan juga," kata dia di lokasi, Jumat.
Ia mengatakan, pertama kali mengenal kue dodongkal karena diperkenalkan orangtuanya.
Awalnya Ica mengaku tak tertarik untuk mencoba kue tradisional tersebut, namun dalam satu kali mencicipi langsung ketagihan.
Oleh karena itu, ketika ingin camilan manis, ia langsung membeli dodongkal di Pasar Bukit Duri.
Biasanya, Ica membeli dodongkal porsi sedang dengan harga Rp 20.000 per box-nya.
Bagi dia, harga tersebut sangat relatif murah, mengingat proses pembuatannya yang tak mudah.
Baca juga: Rahasia Dodongkal Tetap Laris di Jakarta: Dikukus Bambu dan Dimasak Pakai Dandang Tembaga
Ia berharap, makanan tradisional ini bisa bertahan dan terus beredar di pasaran sampai kapan pun.
"Semoga dongkal tetap ada ya di pasaran, ini kan makanan tradisional. Kalau bisa berinovasi pakai topping apa gitu, jadi kalau bosan gula merah ada pilihan lain," sambung dia.
Tak kalah dengan crumble cakeGen Z lain, Reyna (28), mengaku awal mula suka dodongkal karena diperkenalkan oleh ibunya ketika pergi ke pasar tradisional.
Ketika pertama kali mencoba, Gen Z itu langsung ketagihan karena rasa dari kue tradisional itu yang legit, gurih, manis, dan disajikan dalam bentuk hangat.
Legitnya dodongkal membuat Reyna menilai, makanan tradisional ini tak kalah rasanya dengan kue kekinian.
"Dia kayak crumble cake sih teksturnya kasar-kasar gitu ada remahan kelapanya, tapi kalau crumble cake kan tepung, mentega, gula (remahannya)," kata dia, Jumat.
Baca juga: Libur Panjang Idul Adha Mei 2026 Jadi 6 Hari, Berlanjut hingga 1 Juni





