MAKASSAR, FAJAR–Sepekan lagi, Golkar Sulsel menggelar musda. Rivalitas mengerucut.
Ada nama Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Munafri Arifuddin (Appi) di piramida atas persaingan. Tentu saja, nama-nama lain yang telah membawa pengaruh bagi Golkar Sulsel juga tak bisa dinapikan.
Pakar Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Sukri Tamma menilai, IAS sendiri merupakan figur representasi generasi senior. Dia banyak mendapat dukungan dari kader senior meski mereka bukan penentu dalam hal voting suara.
Sementara Munafri, dianggap sebagai representasi kalangan kader muda dan energik. Dia juga punya posisi strategis karena saat ini menjabat sebagai Wali Kota Makassar.
“Kalau saya melihat, dua nama ini mewakili dua generasi berbeda. Satu generasi muda, satu generasi yang lebih senior. Meskipun berbeda jalur, mereka punya kapasitas masing-masing yang dianggap mampu untuk memimpin Golkar ke depan,” tutur Sukri, pekan lalu.
Masing-masing memiliki pengalaman, kemudian kondisi saat ini mereka juga punya backing sosial politik yang cukup. “Suka atau tidak, itu hal yang memang harus dimiliki ketua partai pada level mana pun. Nah, dua-duanya punya itu,” sambungnya.
Meskipun masing-masing memiliki kelemahan, hal itu akan bergantung terhadap bagaimana hitungan mereka. Apakah kelebihan akan lebih terlihat daripada kelemahan, atau sebaliknya.
“Itu yang akan kelihatan dan akan memberi pengaruh. Karena pada ujungnya, sekali lagi kalau kita melihat, dua-duanya saya kira punya kapasitas untuk membawa Golkar lebih baik ke depan,” ucapnya.
Saat ini, hanya perlu melihat aspek mana yang akan diperhitungkan oleh para voters. Hal itu yang nantinya akan diputuskan oleh DPP. Dalam musda, peran DPP Golkar memiliki konsiderasi penting, bahkan penentu ketua.
“Jadi apakah kemudian lebih banyak melihat sisi baik yang mana begitu, ya, atau dengan melihat sisi kurang mana yang tidak menjadi pertimbangan untuk menentukan,” jelasnya.
Peran Sentral
Musda Golkar Sulsel menunjukkan bahwa partai ini tengah mencari figur yang tidak hanya kuat secara internal, tetapi juga memiliki daya tawar di level eksternal, dan nasional. Apalagi, Sulsel selama ini dikenal sebagai salah satu basis kuat Golkar.
Karena itu, sosok ketua yang akan terpilih harus mampu mengonsolidasikan kekuatan kader sekaligus memiliki pengaruh dalam konstelasi politik daerah.
“Golkar di Sulsel ini punya sejarah panjang sebagai kandang Golkar. Jadi figur ketua tidak cukup hanya diterima di internal, tapi juga harus punya posisi tawar yang kuat di luar, dihormati dalam lanskap politik daerah,” ujar Sukri.
Dekan FISIP Unhas ini melihat sejumlah nama yang mencuat saat ini memiliki keunggulan masing-masing. Munafri Arifuddin sebagai figur muda dengan tren elektorat yang meningkat dan basis sosial-politik yang kuat.
“Yang cukup dianggap rising star. Apalagi sekarang Pak Muanfri itu Ketua Golkar Makassar dan Wali Kota Makassar,” ucapnya
Sementara Ilham Arief Sirajuddin tetap dianggap tokoh senior berpengalaman, meskipun rekam jejaknya, termasuk pernah berpindah partai dan tersandung kasus hukum, menjadi catatan tersendiri.
Terkait pembatalan agenda konsolidasi IAS dengan DPD II kabupaten/kota dan organisasi sayap partai beberapa waktu lalu, menurut Sukri, langkah tersebut merupakan hitungan strategis IAS.
“Apakah memang penting untuk mengonsolidasikan para pemilik suara dalam musda saat ini, atau terus memantau kondisi saat ini baru kemudian menentukan langkah apa yang akan dilakukan,” jelas guru besar Unhas ini.
“Karena bagaimanapun juga setiap kandidat tentu sedang memantau betul kecenderungan sikap atau sinyal yang mungkin akan diberikan oleh DPP terutama ketua umum,” tambah Sukri.
Adapun Andi Ina Kartika Sari dipandang memiliki modal struktural dan genealogis yang kuat di Golkar, ditopang pengalamannya sebagai Ketua DPRD Sulsel dan kini kepala daerah.
“Background-nya jelas, ditambah representasi perempuan juga menjadi nilai lebih,” kata Prof Sukri.
Plt Ketua DPD I Golkar Sulsel Muhidin M. Said menilai
dinamika tinggi di Sulsel menunjukkan tingginya perhatian kader terhadap partai, namun tetap harus diarahkan agar tidak menjadi konflik internal.
“Dinamika itu bagus, artinya orang mencintai partai. Tapi yang mencintai itu harus kita satukan supaya satu bahasa,” bebernya. (wid-ams/zuk)





