Rupiah Indonesia mencapai titik terendah sepanjang masa, saham merosot, dan imbal hasil obligasi melonjak saat perdagangan dilanjutkan setelah libur dua hari, dengan pasar domestik tersapu oleh aksi jual global yang dipicu oleh kekhawatiran inflasi.
Bloomberg melaporkan rupiah merosot hingga 1,2 persen menjadi 17.669 per dolar pada hari Senin, kinerja terburuk di kawasan ini. Saham merosot 4,8 persen ke level terendah dalam lebih dari setahun, sementara imbal hasil obligasi acuan 10 tahun naik 17 basis poin menjadi 6,86 persen.
Penurunan aset Indonesia mencerminkan aksi jual di banyak pasar Asia lainnya yang sangat bergantung pada impor energi, sehingga perekonomian mereka rentan terhadap kenaikan harga minyak akibat perang di Iran.
“Para investor prihatin terhadap posisi fiskal Indonesia karena tingginya tagihan subsidi energi,” kata Khoon Goh, kepala riset Asia di Australia & New Zealand Banking Group.
Imbal hasil global yang lebih tinggi menambah “tekanan pada rupiah karena imbal hasil domestik perlu dinaikkan agar cukup menarik bagi arus masuk asing untuk dipertahankan,” katanya, seraya memperkirakan kenaikan suku bunga pada hari Rabu.
Fitch Ratings dan Moody's Ratings sebelumnya sama-sama menurunkan prospek peringkat kredit negara tersebut menjadi negatif tahun ini.
Bank Indonesia berada di bawah tekanan untuk meningkatkan upaya perlindungan terhadap rupiah, yang telah jatuh lebih dari 5 persen tahun ini, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk kedua di Asia setelah rupee India.
Pekan lalu, bank sentral berjanji untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing dan mengoptimalkan semua instrumen kebijakan moneter untuk mengurangi tekanan pada rupiah. Namun, beberapa analis mempertanyakan efektivitas langkah-langkah tersebut pada saat rupiah sedang terpukul oleh guncangan harga minyak dan kekhawatiran atas kebijakan fiskal domestik.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan pada akhir pekan bahwa tidak perlu khawatir tentang melemahnya rupiah karena penduduk desa tidak menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Kinerja aset Indonesia yang lebih rendah dibandingkan dengan aset-aset di kawasan ini kemungkinan mencerminkan fundamental domestik yang lebih lemah dan kehati-hatian investor yang berkelanjutan, kata Fesa Wibawa, manajer investasi di Aberdeen Group Plc.
“Posisi pada obligasi pemerintah Indonesia sudah terlihat ringan berdasarkan pergerakan harga baru-baru ini, tetapi ada tanda-tanda terbatas bahwa investor asing akan kembali terlibat secara signifikan pada tahap ini,” katanya. “Untuk saat ini, pasar mengamati dengan cermat perkembangan kebijakan moneter dan prospek fiskal, yang tetap menjadi jangkar utama kepercayaan pada aset Indonesia.”
Melemahnya rupiah menambah tekanan pada pasar saham Indonesia, yang telah jatuh lebih dari 25 persen tahun ini. Saham-saham yang terkait dengan beberapa miliarder terkaya di negara ini memperpanjang kerugian dan paling membebani Indeks Komposit Jakarta setelah MSCI Inc. mengeluarkan dari indeksnya dalam tinjauan triwulanan pekan lalu.
PT Amman Mineral Internasional, PT Dian Swastatika Sentosa dan PT Chandra Asri Pacific semuanya turun hingga batas hariannya sebesar 15 persen.
“Pasar masih mencerna ketidakpastian kebijakan baru-baru ini,” kata Felix Darmawan , analis di BCA Sekuritas. Sentimen penghindaran risiko yang lebih luas membebani rupiah dan aset pasar negara berkembang, tambahnya.





