JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik deretan kendaraan yang lalu lalang di Jalan Matraman, Jakarta Timur, suara ketukan palu besi masih terdengar dari sebuah lapak kecil di pinggir jalan.
Di tempat sederhana itu, Erwin (59) duduk di balik etalase yang dipenuhi contoh pelat nomor kendaraan sambil menunggu pelanggan datang.
Wajahnya tampak lelah dimakan usia. Mengenakan kaus biru lusuh, Erwin sesekali memperhatikan arus kendaraan di depannya.
Baca juga: Model Diduga Dibegal di Jakbar, Polisi Tak Temukan Nama Korban di RS
Di sekeliling lapaknya tergantung berbagai contoh pelat nomor kendaraan berwarna hitam, putih, kuning, hingga merah.
Di atas lapaknya terpampang papan bertuliskan “STEMPEL”. Tepat di hadapannya tersusun contoh pelat kendaraan lengkap dengan nomor instansi hingga replika pelat dinas.
“Kurang lebih sudah 30 tahun,” kata Erwin saat ditemui Kompas.com di lapaknya di Jalan Matraman, Jakarta Timur, Jumat (15/5/2026).
Lapak milik Erwin merupakan satu dari sekitar 10 lapak sejenis yang berdiri memanfaatkan ruang sempit trotoar di sepanjang Jalan Matraman.
Pada bagian depan kios, terpampang deretan contoh pelat nomor beraneka warna yang digantung layaknya etalase berjalan.
Warna-warni pelat yang dipajang tampak kontras, mulai dari pelat hitam model lama, pelat putih kendaraan terbaru, pelat kuning angkutan umum, hingga pelat dengan garis biru di bagian bawah sebagai penanda kendaraan listrik.
Bahkan, di bawah papan bertuliskan “STEMPEL”, beberapa lapak nekat memajang replika pelat dinas berwarna merah dan hijau lengkap dengan logo instansi negara.
Proses pembuatan pelat di tempat ini seluruhnya masih mengandalkan tenaga manual tanpa bantuan komputer maupun mesin cetak modern.
Di atas meja kerja yang berantakan, tampak alat pangkul dan deretan letter, yakni besi cor berbentuk angka dan huruf, bergeletakan.
Lembaran aluminium yang telah dipotong sesuai ukuran digetok satu per satu menggunakan palu hingga membentuk kombinasi nomor kendaraan timbul.
Baca juga: GRIB Jaya Bantah Kepung Rumah Penulis Ahmad Bahar, Klaim Hanya Minta Klarifikasi
Setelah itu, pelat disemprot menggunakan cat kaleng secara manual lalu dijemur di bawah terik matahari.
“Masih manual pakai cara lama. Alatnya pakai pangkul, cetakannya pakai letter,” ujar Erwin.
Namun, suasana sentra pelat nomor Matraman kini jauh lebih lengang dibanding masa jayanya.
Beberapa pengrajin terlihat lebih banyak memainkan telepon genggam atau merapikan sisa potongan besi sambil menunggu pelanggan datang.
“Belakangan ini susah benar. Kadang sehari cuma dapat tiga pelanggan, kadang satu saja,” kata Erwin.
Menurut dia, perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu penyebab utama menurunnya pendapatan para pengrajin pinggir jalan.
“Kebanyakan sekarang orang pilih online,” ujar dia.
Dulu, kata Erwin, wilayah Matraman dipenuhi pengrajin serupa.
Meski demikian, Erwin memilih tetap bertahan. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah, tetapi keterampilan hidup yang sudah melekat selama puluhan tahun.
Ia mengaku, sebagian besar pelanggan datang karena pelat kendaraan rusak, patah, atau keropos akibat usia maupun banjir.
Baca juga: Anggota GRIB Jaya Sempat Geledah Rumah Cari Keberadaan Penulis Ahmad Bahar
“Kebanyakan mobil bus atau truk itu patah karena dudukannya enggak muat. Ada juga karena kecelakaan atau keropos kena banjir,” kata Erwin.





