Jakarta (ANTARA) - Seorang Generasi Z (Gen Z) asal Makassar, Sulawesi Selatan, Bulqis yang sempat hampir putus asa karena mencari kerja akhirnya menemukan titik terang berkat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bagi banyak orang, dapur mungkin hanya tempat memasak, tetapi, Bulqis merasakan bahwa dapur Program MBG adalah ruang belajar tentang hidup, proses, dan motivasi untuk menjadi lebih kuat.
Dalam keterangannya di Jakarta pada Senin, Bulqis mengaku sebagai bagian dari generasi muda, ia tidak betah hanya diam di rumah. Sebelum bergabung dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hari-harinya terasa kosong dipenuhi pencarian kerja yang tak kunjung membuahkan hasil.
"Senang karena ada kegiatan setiap hari," kata Bulqis.
Di dapur SPPG Biringkanaya 03, Makassar, ia menemukan ritme baru. Aktivitas yang padat, tim yang beragam usia, serta dinamika kerja yang tinggi justru membuatnya merasa hidup. Sebagai Gen Z, pengalaman ini terasa unik.
"Seru karena bisa ketemu banyak orang dan dapat banyak pengalaman," tuturnya.
Namun, Bulqis melanjutkan, di balik kata seru, ada proses yang tidak selalu mudah. Pekerjaan fisik yang dimulai sejak subuh, tekanan untuk tetap produktif, hingga tanggung jawab membagi waktu dengan kuliah menjadi tantangan tersendiri. Tidak jarang rasa lelah datang, tetapi Bulqis memilih cara sederhana untuk menghadapinya.
"Ikhlas dan sabar saja, nanti terasa mengalir," ucapnya.
Dari dapur itulah, ia belajar tentang arti ketekunan, yakni bagaimana menjalani sesuatu meski terasa berat, tetap bergerak, bahkan ketika keadaan tidak selalu mudah, sehingga pengalaman itu perlahan membentuk dirinya.
Bulqis merasa menjadi lebih disiplin, mandiri, dan percaya diri menghadapi masa depan. Program MBG, dalam pandangannya, bukan hanya memberikan manfaat bagi penerima makanan, melainkan juga menciptakan ruang pemberdayaan bagi anak muda agar bisa belajar, bekerja, dan bertumbuh. Ruang di mana seseorang seperti Bulqis bisa menemukan arah hidupnya.
Salah satu momen yang paling ia ingat adalah ketika menyadari bahwa pekerjaannya memiliki dampak nyata bukan hanya bagi orang lain, melainkan juga bagi dirinya sendiri. Dari dapur itu, ia tidak hanya mendapatkan penghasilan, tetapi juga makna.
Baca juga: Program MBG hidupkan kembali UMKM kue di Makassar
Baca juga: BGN minta SPPG utamakan produk lokal dalam Program MBG
Baca juga: BGN tambah 18 dapur SPPG di Pangkalpinang guna pemerataan layanan MBG
Bagi banyak orang, dapur mungkin hanya tempat memasak, tetapi, Bulqis merasakan bahwa dapur Program MBG adalah ruang belajar tentang hidup, proses, dan motivasi untuk menjadi lebih kuat.
Dalam keterangannya di Jakarta pada Senin, Bulqis mengaku sebagai bagian dari generasi muda, ia tidak betah hanya diam di rumah. Sebelum bergabung dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hari-harinya terasa kosong dipenuhi pencarian kerja yang tak kunjung membuahkan hasil.
"Senang karena ada kegiatan setiap hari," kata Bulqis.
Di dapur SPPG Biringkanaya 03, Makassar, ia menemukan ritme baru. Aktivitas yang padat, tim yang beragam usia, serta dinamika kerja yang tinggi justru membuatnya merasa hidup. Sebagai Gen Z, pengalaman ini terasa unik.
"Seru karena bisa ketemu banyak orang dan dapat banyak pengalaman," tuturnya.
Namun, Bulqis melanjutkan, di balik kata seru, ada proses yang tidak selalu mudah. Pekerjaan fisik yang dimulai sejak subuh, tekanan untuk tetap produktif, hingga tanggung jawab membagi waktu dengan kuliah menjadi tantangan tersendiri. Tidak jarang rasa lelah datang, tetapi Bulqis memilih cara sederhana untuk menghadapinya.
"Ikhlas dan sabar saja, nanti terasa mengalir," ucapnya.
Dari dapur itulah, ia belajar tentang arti ketekunan, yakni bagaimana menjalani sesuatu meski terasa berat, tetap bergerak, bahkan ketika keadaan tidak selalu mudah, sehingga pengalaman itu perlahan membentuk dirinya.
Bulqis merasa menjadi lebih disiplin, mandiri, dan percaya diri menghadapi masa depan. Program MBG, dalam pandangannya, bukan hanya memberikan manfaat bagi penerima makanan, melainkan juga menciptakan ruang pemberdayaan bagi anak muda agar bisa belajar, bekerja, dan bertumbuh. Ruang di mana seseorang seperti Bulqis bisa menemukan arah hidupnya.
Salah satu momen yang paling ia ingat adalah ketika menyadari bahwa pekerjaannya memiliki dampak nyata bukan hanya bagi orang lain, melainkan juga bagi dirinya sendiri. Dari dapur itu, ia tidak hanya mendapatkan penghasilan, tetapi juga makna.
Baca juga: Program MBG hidupkan kembali UMKM kue di Makassar
Baca juga: BGN minta SPPG utamakan produk lokal dalam Program MBG
Baca juga: BGN tambah 18 dapur SPPG di Pangkalpinang guna pemerataan layanan MBG





