Mendagri Tito Dorong Penguatan Penggunaan Soft Approach dalam Mencegah Ekstremisme dan Terorisme

viva.co.id
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mendorong penguatan penerapan strategi soft approach dalam mencegah penyebaran ekstremisme berbasis kekerasan dan terorisme. Menurutnya, langkah pencegahan perlu dilakukan secara kolaboratif, adaptif, dan menyasar akar persoalan, termasuk di ruang digital.

Hal itu disampaikan Mendagri saat menghadiri Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror (AT) Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) Tahun 2026 bertema “Strategi Kolaboratif Densus 88 AT Polri yang Presisi Guna Menanggulangi Ekstremisme Berbasis Kekerasan dan Terorisme dalam Rangka Menjaga Stabilitas Kamtibmas” di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.

Baca Juga :
Pemda Diminta Waspadai Dampak Geopolitik Global, Mendagri Apresiasi Capaian Inflasi 2,42 Persen
UU Hukuman Mati Teroris Mulai Berlaku di Israel

Dalam kesempatan itu, Mendagri menjelaskan penyebaran paham ekstremisme berbasis kekerasan berlangsung melalui pola komunikasi yang melibatkan pengirim pesan, penerima, saluran, hingga konteks sosial tertentu. Karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan dengan memutus rantai penyebaran tersebut.

“Kalau kita bisa mematahkan salah satu saja dari lima komponen ini, maka proses pemindahan pesan atau ideologi radikal, ideologi teroris yang dua itu dari pengirim kepada penerima enggak akan pernah terjadi,” ujarnya.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Mendagri menawarkan lima strategi yang dapat dijalankan secara paralel, yakni deradikalisasi, kontra radikalisasi, penguatan kontra ideologi, pemutusan saluran penyebaran paham radikal, serta penyelesaian persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, deradikalisasi penting dilakukan terhadap pihak yang telah terpapar paham radikal agar kembali kepada pemahaman moderat dan mendukung nilai-nilai kebangsaan. Sementara itu, kontra radikalisasi diperlukan untuk membangun daya tangkal masyarakat sejak dini terhadap penyebaran ideologi ekstremisme berbasis kekerasan.

Selain itu, Mendagri menilai penguatan kontra ideologi perlu dilakukan dengan melibatkan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh di lingkungan kelompok tertentu agar pesan moderasi lebih mudah diterima.

“Ini sangat efektif sekali, kenapa? Karena kelompok ini memiliki budaya, norma trust insider, enggak percaya pada orang luar, percaya kepada orang dalam,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat patroli siber dan kontra narasi di ruang digital untuk memutus saluran penyebaran paham radikal. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi membuat penyebaran ideologi ekstremisme kini berlangsung semakin cepat dan luas melalui berbagai platform digital.

Baca Juga :
Mendagri Tito Dampingi Presiden Prabowo Resmikan Operasionalisasi 1.061 KDKMP di Jawa Timur
Nadiem Heran Tuntutannya Lebih Besar Dari Pembunuh dan Teroris: Mungkin Sudah Jelas Saya Tak Bersalah
Penanganan Pascabencana Sumatera Masuk Transisi Fase Pemulihan, Masa Tanggap Darurat Terlewati

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG dan Rupiah Anjlok, Purbaya Pastikan Fiskal Indonesia Tetap Kuat
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
John Herdman Incar 6 Pemain Diaspora untuk Proyek Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030: Tersebar di Jerman, Belanda, AS, dan Australia
• 3 jam lalubola.com
thumb
Trump Peringatkan Iran Untuk Cepat Selesaikan Perundingan Damai, Ancam Teheran Tak akan Bersisa
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Sudinhub Jaksel Evaluasi Titik Parkir CFD Rasuna Said Jelang Penerapan Efektif
• 11 jam lalupantau.com
thumb
FOMO: Saat Penghias Menjadi Prioritas
• 12 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.