Yusharto Huntoyungo Kepala Badan Startegi Kebijakan Dalam Negeri (Kemendagri) menyatakan, Jatim hingga kini masih menjadi daerah terinovatif di Indonesia dalam pengukuran inovasi daerah yang dilakukan Kemendagri.
“Jawa Timur bukan dalam posisi aman meskipun sudah menjadi daerah terinovatif. Daerah lain juga melakukan upaya yang sama bahkan bisa lebih kuat. Karena itu akselerasi inovasi harus terus dilakukan,” katanya dalam Sosialisasi dan Pemantapan Inovasi Daerah di Kantor Dindik Jatim, Surabaya, pada Senin (18/5/2026).
Yusharto menyatakan, inovasi murid di Jatim tidak hanya pada tingkat provinsi, tetapi rata-rata kabupaten dan kota di Jatim juga berada pada klaster tertinggi dalam penilaian pemerintah daerah inovatif di Indonesia.
Meski demikian, Yusharto menilai tantangan terbesar dalam pengembangan inovasi daerah saat ini adalah membangun budaya dan ekosistem inovasi yang kolaboratif. Menurutnya, inovasi masih sering dipandang berjalan sendiri-sendiri atau bersifat silo antarorganisasi perangkat daerah.
Ia mencontohkan perlunya kolaborasi antara Dindik dan Dinas Perhubungan (Dishub) dalam mendukung layanan transportasi pelajar. Dengan adanya sinergi tersebut, peserta didik dapat memperoleh akses transportasi yang lebih baik sehingga tidak kelelahan saat menempuh perjalanan menuju sekolah.
“Ekosistem inovasi perlu dibangun bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat dan penerima layanan,” katanya.
Yusharto menambahkan, saat ini Kemendagri masih berada pada tahap persiapan penilaian inovasi daerah tahun 2026. Pada tahap tersebut, pihaknya juga menyerap masukan dari pemerintah daerah maupun akademisi terkait perbaikan sistem penilaian inovasi.
Menurutnya, terdapat kemungkinan penentuan tema khusus dalam penilaian inovasi tahun 2026. Jika sebelumnya penilaian diarahkan pada inovasi yang mendukung delapan program prioritas pemerintah, maka ke depan tema inovasi dapat dikaitkan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) maupun program prioritas nasional pemerintahan Prabowo Subianto Presiden.
Saat ini, kata dia, terdapat 54 program kegiatan prioritas nasional yang membutuhkan dukungan inovasi daerah agar target pembangunan dapat tercapai sesuai waktu yang ditetapkan.
“Tanpa inovasi, akselerasi program tidak akan cukup tercapai hanya dengan cara-cara biasa,” ucapnya.
Ia menyebut, beberapa program prioritas yang memerlukan dukungan inovasi di antaranya pemenuhan target penerima manfaat MBG serta penyelesaian backlog perumahan nasional yang mencapai jutaan unit rumah.
Aries Agung Paewai Kepala Dindik Jatim mengatakan, kunjungan Kemendagri ke Jatim merupakan bagian dari penilaian langsung terhadap implementasi inovasi daerah yang telah dijalankan. Menurutnya, Jatim selama ini menjadi daerah dengan kontribusi inovasi terbanyak dalam ajang Innovation Government Award (IGA) Award.
“Tim dari Kemendagri berkeliling ke berbagai daerah, termasuk Jatim. Dindik Jatim memberikan dukungan jumlah inovasi terbanyak dalam IGA Award dan Jatim menjadi juara satu nasional,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dari total 398 inovasi yang diajukan, sebanyak 196 di antaranya telah mencapai tingkat kematangan tinggi. Penilaian tersebut didasarkan pada hasil validasi serta tingkat kebermanfaatannya bagi masyarakat.
Salah satu program unggulan Dindik Jatim lainnya ialah East Java Innovative Education Summit (EJIES), yang menjadi wadah bagi insan pendidikan di Jawa Timur untuk menampilkan berbagai inovasi pendidikan.
“Total ada sekitar 24 ribu inovasi yang masuk dalam EJIES,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menyatakan, Kemendagri juga melihat secara langsung berbagai program yang dibangun Dindik Jatim dan dampaknya terhadap lingkungan sekolah maupun masyarakat. Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong para guru agar tidak berhenti menciptakan inovasi pendidikan.
“Inovasi yang lahir merupakan jawaban atas persoalan yang ada di masyarakat. Tujuannya agar pendidikan benar-benar memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekolah dan masyarakat luas,” katanya.
Dyah Natalisa tim penilai yang merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi Manajemen Universitas Sriwijaya mengatakan, berbagai inovasi yang dikembangkan Jatim telah masuk dalam proses pembelajaran dan memberikan dampak positif terhadap murid maupun guru, bahkan mampu mendukung peningkatan ekonomi dan kebahagiaan peserta didik.
Meski demikian, Dyah mengingatkan pentingnya melembagakan inovasi agar program-program yang sudah terbukti berhasil tidak berhenti ketika terjadi pergantian pimpinan.
“Inovasi yang baik harus dilembagakan sehingga siapapun pemimpinnya, praktik-praktik baik yang sudah berdampak nyata tetap bisa dilanjutkan dan dikembangkan,” tegasnya.
Ia juga mendorong Dindik Jatim untuk memperkuat integrasi teknologi digital serta transformasi guru berbasis kewirausahaan dalam pengembangan inovasi pendidikan ke depan.
Selain itu, pihaknya juga menyarankan agar Dindik Jatim melakukan survei penerima manfaat terhadap berbagai program inovasi yang telah dijalankan, seperti Program Proteg maupun East Java Innovative Education Summit (EJIES), guna mengukur dampak langsung inovasi bagi masyarakat.(ris/iss)




