Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku optimistis tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan mulai mereda pada pekan ini.
Hal itu disampaikan Purbaya saat dipanggil Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara pada Senin (18/5/2026).
"Saya pikir pertengahan minggu ini juga sudah mulai berkurang [sentimen yang menekan rupiah]. Pemerintah sudah masuk ke bond market sedikit-sedikit, asing juga sudah mulai masuk, sehingga tekanan di bond mestinya berkurang," kata Purbaya.
Dia menjelaskan bahwa biasanya apabila tekanan di pasar obligasi atau bond market berkurang, sentimen negatif terhadap nilai tukar rupiah pun berkurang.
Purbaya pun menjelaskan bahwa dalam konferensi pers APBN Kita, pemerintah akan membeberkan kondisi ekonomi sampai April 2026. Dalam laporannya itu, menurutnya ekonomi RI berada dalam kondisi yang positif.
"Itu [ekonomi Indonesia] hasilnya bagus, pasti di luar perkiraan para-para pengamat itu. Jadi pondasi kita memang betul-betul bagus," tuturnya.
Baca Juga
- Rakyat di Desa Tak Pakai Dolar, Ini Respons Purbaya Soal Prabowo
- Momen Prabowo Singgung Soal Dolar ke Purbaya
Dia pun menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir atas kondisi nilai tukar rupiah yang tengah melemah. Sebab, fundamental ekonomi Indonesia serta fiskal pun dinilai menunjukan kinerja yang positif.
Strategi pemerintah pun menurutnya bukan hanya mengelola belanja, tapi mengaktifkan sektor swasta. Alhasil, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,61% per kuartal I/2026.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi itu mulai bergerak bukan hanya dari sisi belanja pemerintah.
"Jadi yang masih, yang men-drive dan memberi kontribusi paling penting menyumbang terbesar ke pertumbuhan adalah belanja masyarakat, artinya daya belinya masih cukup bagus. Jadi jangan khawatir," katanya.
Adapun, jebloknya nilai tukar rupiah telah menjadi perhatian pasar. Berdasarkan data Trading View, rupiah ditutup melemah sebesar 1,12% ke level Rp17.655 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026).





