BOGOR, KOMPAS.com – Di salah satu sudut ruangan Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Bogor, Jawa Barat, Ratih Hapsari (23) duduk dengan tatapan fokus.
Bersama belasan peserta lainnya, lulusan S1 jurusan Akuntansi ini menyerap setiap pemaparan dari instruktur dengan seksama.
Hari itu, suasananya sedikit berbeda.
Satu per satu peserta maju, mencoba menunjukkan kemampuan public speaking mereka, sebuah upaya nyata untuk meruntuhkan dinding pembatas rasa tidak percaya diri, baik di hadapan orang banyak maupun di depan bidikan kamera.
Baca juga: Warga Kota Bogor Bisa Kerja di Luar Negeri Lewat BLK, Ini Caranya
Bagi Ratih, ruangan ini adalah gerbang barunya.
Keputusannya untuk menyeberang dari dunia angka dan logika Akuntansi ke dunia kreatif digital didasari oleh satu mimpi besar: ia ingin mengembangkan bisnis di platform TikTok.
Ratih bercerita bahwa ia pertama kali mengetahui program pelatihan gratis ini melalui media sosial Instagram.
Rasa penasaran dan kebutuhan akan strategi digital yang matang membuatnya mantap melangkah ke BLK Kota Bogor.
Baca juga: Belajar Enggak Ada Batasan Usia, Kisah Risa Utami Peserta Tertua Kelas Tata Boga BLK Kota Bogor
"Sebelumnya juga kan pernah kayak buka bisnis gitu di TikTok. Cuma belum laku, karena mungkin enggak tahu strateginya dan harus mulainya tuh masih bingung gimana," ujar Ratih jujur, mengenang kegagalan bisnis pertamanya, Senin (18/5/2026).
Memilih interaksi tatap muka di era digitalDi zaman di mana semua tutorial bisa diakses lewat layar ponsel, Ratih justru sengaja memilih jalur pembelajaran tatap muka (offline).
Baginya, atmosfer sosial dan ikatan antarpeserta memberikan nilai tambah yang tidak bisa digantikan oleh video streaming.
Baca juga: Peminat Membeludak, 300 Orang Mendaftar Pelatihan Pemandu Gunung di BLK Semarang
Melalui interaksi langsung, ia tidak hanya belajar teknis produksi video, tetapi juga mengasah keterampilan interpersonal yang krusial bagi seorang kreator.
"Jadi menurut aku dengan latihan offline, selain belajar content creator, kan kita juga kayak belajar public speaking gitu, storytelling itu, jadi lebih banyak insight aja yang didapat kalau offline tuh. Berinteraksi juga kan, bersosialisasi," tutur Ratih mengenai alasannya memilih kelas offline.
Perjalanan karier Ratih memang sempat dinamis.
Sebelum menyandang gelar sarjana, ia pernah bekerja di bagian marketing.
Baca juga: Kisah Anak Buruh Kejar Mimpi Jadi Tenaga Profesional Lewat Pelatihan BLK Kolaka




