Tuntutan ke Nadiem Makarim Picu Reaksi Artis dan Influencer Indonesia

eranasional.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM –  Kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook yang menjerat mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, terus menjadi perhatian publik. Tuntutan hukuman 18 tahun penjara terhadap mantan Mendikbudristek tersebut memicu reaksi luas di media sosial, termasuk dari sejumlah figur publik seperti Jerome Polin, Maudy Ayunda, hingga pedangdut Inul Daratista.

Banyak warganet menyoroti pernyataan para publik figur tersebut karena dianggap mencerminkan kegelisahan sebagian anak muda terhadap dunia pemerintahan dan penegakan hukum di Indonesia. Reaksi yang muncul tidak hanya berkaitan dengan sosok Nadiem Makarim, tetapi juga dampak psikologis terhadap orang-orang yang selama ini memiliki keinginan untuk berkontribusi di sektor publik.

YouTuber dan kreator konten pendidikan Jerome Polin menjadi salah satu tokoh yang paling awal menyampaikan pendapatnya secara terbuka. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Jerome mengaku kecewa dan sedih melihat tuntutan yang dijatuhkan kepada Nadiem Makarim.

Menurut Jerome, kasus tersebut dapat membuat orang-orang yang memiliki integritas dan niat baik menjadi takut bekerja sama dengan pemerintah. Ia khawatir kondisi tersebut justru akan membuat dunia pemerintahan kehilangan sosok-sosok berkualitas yang ingin membawa perubahan positif.

“Liat Mas Nadiem dipenjara 18 tahun, ujung-ujungnya semua orang berkualitas dan berintegritas takut masih ke atau bekerja sama dengan pemerintah, akhirnya diisi oleh orang-orang yang korup,” tulis Jerome Polin.

Unggahan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak pengguna internet ikut memberikan tanggapan, baik yang mendukung pendapat Jerome maupun yang meminta masyarakat tetap menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

Jerome juga mengaku dirinya selama ini memiliki impian untuk berkontribusi di bidang pendidikan Indonesia, bahkan bercita-cita menjadi Menteri Pendidikan di masa depan. Namun kasus yang menimpa Nadiem disebut membuat dirinya merasa takut dan kehilangan semangat.

“Sebagai orang yang punya impian untuk menjadi Menteri Pendidikan dan berkontribusi untuk pendidikan Indonesia, aku sedih dan patah hati banget,” tulis Jerome lagi.

Ia menyebut banyak anak muda yang memiliki niat tulus untuk membantu negara kemungkinan akan berpikir ulang jika melihat risiko hukum dan tekanan yang muncul dalam dunia pemerintahan. Jerome juga menyoroti tuntutan yang menurutnya terasa berat dibanding sejumlah kasus kriminal lain.

“Semua bukti di persidangan gak dianggap. Gak bisa nemuin kesalahan, tapi tetap dihukum. Bahkan hukumannya lebih berat dari banyak kriminal dan koruptor,” tulisnya.

Selain Jerome Polin, aktris dan penyanyi Maudy Ayunda juga ikut menyampaikan reaksinya. Maudy yang selama ini dikenal aktif di dunia pendidikan dan pernah terlibat dalam sejumlah kegiatan pemerintah mengaku merasa sedih dan marah melihat kasus tersebut.

Dalam unggahan di media sosial, Maudy Ayunda menulis bahwa dirinya merasa sangat terpukul melihat kondisi yang dialami Nadiem Makarim dan keluarganya. Ia juga mengaku kini akan berpikir berkali-kali sebelum bekerja di pemerintahan dalam kapasitas apa pun.

“Ini sangat memilukan dan membuat marah. Hatiku hancur untuk Nadiem Makarim dan keluarganya,” tulis Maudy Ayunda dalam bahasa Inggris.

Maudy juga menyoroti dampak yang lebih luas terhadap anak-anak muda Indonesia yang memiliki kemampuan dan niat baik untuk membangun bangsa. Menurut dia, kasus tersebut bisa memengaruhi keberanian generasi muda untuk terjun ke sektor publik.

“Hatiku hancur untuk Indonesia dan orang-orangnya yang berbakat dan bermaksud baik. Yang sekarang pasti harus berpikir seribu kali sebelum bekerja di atau dengan pemerintah dalam kapasitas apa pun,” lanjutnya.

Pernyataan Maudy Ayunda kemudian menjadi perbincangan luas di media sosial. Banyak pengguna internet menilai ungkapan tersebut mencerminkan keresahan sebagian kalangan profesional muda yang ingin berkontribusi di pemerintahan namun khawatir terhadap risiko hukum dan tekanan politik.

Tak hanya dari kalangan pendidikan dan hiburan modern, komentar juga datang dari pedangdut Inul Daratista. Melalui unggahannya, Inul mengaku kasus tersebut mengingatkannya pada alasan dirinya selama ini menolak tawaran masuk ke dunia politik dan parlemen.

“Makanya dari dulu aku dirayu masuk parlemen dan anggota dewan, enggak mau,” tulis Inul Daratista.

Ia mengatakan dirinya pernah dijanjikan berbagai fasilitas dan dukungan jika bersedia masuk ke dunia politik. Namun Inul memilih menolak karena tidak ingin terlibat dalam hal yang menurutnya dapat merugikan rakyat.

“Biar dijanjiin dikasih duit miliaran, sampai dimentorin kalau enggak bisa akan di-back up dari belakang, aku tetap enggak mau,” tulisnya lagi.

Sementara itu, Nadiem Makarim sendiri mengaku sangat kecewa terhadap tuntutan yang dibacakan jaksa dalam persidangan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook tersebut. Usai sidang, Nadiem mengatakan dirinya sulit menggambarkan perasaan yang dialaminya.

“Ini adalah hari yang sangat, sangat mengecewakan. Mungkin tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan perasaan saya,” ujar Nadiem.

Ia juga menyoroti total ancaman hukuman yang menurutnya dapat mencapai 27 tahun jika digabung dengan pidana tambahan lainnya. Menurut Nadiem, situasi tersebut membuat dirinya mempertanyakan harapan bagi generasi muda yang ingin mengabdi untuk negara.

“Tapi yang ini terus terang hari ini, dengan efektif pidana 18 tambah 9 berarti 27 tahun ya. Saya sudah tidak tahu lagi apa harapan bagi anak-anak muda di negara ini,” katanya.

Selain pidana penjara, Nadiem juga dituntut membayar uang pengganti sebesar Rp5 triliun. Mantan CEO Gojek itu mengaku tidak memiliki dana sebesar yang dituntut dalam perkara tersebut.

“Dan mereka tahu saya tidak punya uang itu,” ujar Nadiem.

Kasus pengadaan laptop Chromebook sendiri sejak awal memang menjadi perhatian publik karena menyangkut anggaran pendidikan dalam jumlah besar. Program tersebut sebelumnya ditujukan untuk mendukung digitalisasi pendidikan nasional, terutama pada masa pandemi ketika pembelajaran jarak jauh diterapkan di berbagai daerah.

Kini proses hukum terhadap Nadiem Makarim masih terus berjalan dan menjadi perdebatan luas di masyarakat. Sebagian pihak meminta publik menghormati proses hukum yang sedang berlangsung, sementara sebagian lainnya menilai kasus tersebut berpotensi memengaruhi minat generasi muda profesional untuk terlibat dalam pemerintahan dan pelayanan publik di masa depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sampoerna Pertahankan Kepemimpinan Pasar di Tengah Tekanan Industri Tembakau
• 6 jam laludetik.com
thumb
Daftar Harga Mobil Listrik BYD Indonesia 18 Mei 2026, Atto 1 hingga Denza
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
KPKP DKI Perketat Monitoring Penjualan Hewan Kurban Jelang Iduladha
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sinopsis Drama China Pull Strings, Perjuangan Ao Ruipeng Raih Keabadian di Tengah Dunia Para Dewa
• 10 jam lalugrid.id
thumb
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Senin 18 Mei 2026
• 19 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.