Aktivitas Permukaan Masih Tinggi, Status Gunung Semeru Bertahan di Level III Siaga

tvonenews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas vulkanik selama sepekan terakhir (periode 8-15 Mei), status Gunung Semeru yang terletak di perbatasan Lumajang dan Malang masih ditetapkan pada Level III atau Siaga. 

Tingginya aktivitas gunung setinggi 3.676 mdpl tersebut dikonfirmasi oleh Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria.

Dalam keterangan resminya pada Senin (18/5), Lana menjelaskan bahwa dinamika Semeru saat ini masih didominasi oleh fenomena di permukaan.

"Semeru pada periode 8-15 Mei memperlihatkan bahwa aktivitasnya masih didominasi oleh proses permukaan," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Lumajang.

Meskipun cuaca berkabut sering kali menghalangi pengamatan visual secara langsung, Badan Geologi mencatat bahwa erupsi, guguran lava, dan awan panas masih terus terjadi. 

Lana memperingatkan bahwa tumpukan material hasil letusan dapat sewaktu-waktu berubah menjadi ancaman serius.

"Akumulasi material hasil erupsi berupa letusan dan aliran lava maupun pembentukan 'scoria cones' berpotensi menjadi guguran lava pijar, atau pun awan panas," katanya.

Data kegempaan juga memperkuat fakta bahwa aktivitas di dalam perut gunung masih sangat dinamis. Berbagai jenis gempa seperti letusan, guguran, hingga tremor harmonik masih terekam dalam intensitas tinggi. 

Selain itu, adanya getaran banjir menunjukkan bahwa ancaman lahar di jalur sungai, khususnya Besuk Kobokan, masih sangat nyata.

Menariknya, Badan Geologi menekankan bahwa munculnya awan panas saat ini lebih disebabkan oleh ketidakstabilan material di permukaan, bukan karena dorongan magma baru.

"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh hingga 15 Mei 2025, maka tingkat aktivitas Gunung Semeru tetap pada Level III atau Siaga," kata Lana.

Sejalan dengan status Siaga tersebut, pihak otoritas mengeluarkan sejumlah rekomendasi ketat bagi masyarakat demi keselamatan jiwa. 

Masyarakat dilarang keras melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 km dari pusat erupsi.

Di luar radius 13 km tersebut, masyarakat juga diimbau tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. 

Hal ini dikarenakan adanya risiko perluasan awan panas dan aliran lahar yang bisa mencapai jarak 17 km dari puncak.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pelatih Ganda Putra Indonesia: Leo/Daniel Kini Lebih Kompak dan Berbahaya
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Kemenag RI Tetapkan 1 Dzulhijjah 1447 H Jatuh pada Senin 18 Mei 2026, Ini Daftar Amalan di Bulan Haji
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemerintah Tetapkan 1 Dzulhijjah 1447 H Jatuh pada 18 Mei 2026, Idul Adha 27 Mei
• 17 jam lalueranasional.com
thumb
Dugaan Pengeroyokan di Bantul, Polisi Temukan Fakta Berbeda
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Persib Selangkah Lagi Juara Super League Usai Kalahkan PSM, Marc Klok: Ini Kado Buat Bobotoh
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.