Pemecatan Empat Pegawai KONI, Ketua DPRD NTT: Berempatilah kepada Orang Kecil

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

KUPANG, KOMPAS — Ketua DPRD Nusa Tenggara Timur Emelia Nomleni menyampaikan rasa prihatin atas pemecatan empat pegawai Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTT. Pemecatan tanpa alasan yang jelas itu dianggap menyakiti rasa keadilan publik, terutama orang kecil. 

”Bagaimana prosesnya sampai mereka harus dipecat? Apa salah mereka? Mereka ini, kan, sudah lama bekerja di situ, mereka punya jasa untuk kemajuan olahraga di NTT. Berempatilah kepada mereka, orang-orang kecil ini,” kata Emelia melalui sambungan telepon, Selasa (19/5/2026).

Menurut dia, pemecatan seseorang harus melalui proses seperti penilaian kinerja dan pemberian peringatan secara bertahap. Pemecatan yang datang secara tiba-tiba menandakan ada masalah dalam proses tersebut. Pemecatan itu agar dievaluasi kembali.

Emelia mengatakan, pimpinan DPRD NTT telah menugaskan Komisi V untuk menindaklanjuti persoalan tersebut. Terbuka kemungkinan, empat pegawai yang dipecat serta pengurus KONI NTT akan diundang dalam rapat dengar pendapat.

Lebih jauh ia mengingatkan tentang kepemimpinan yang bersifat mengayomi bagi semua pihak, terutama orang-orang kecil. Otoritas yang dimiliki seseorang seharusnya digunakan untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk kelompok atau golongan.

Empat pegawai itu adalah Maria Goreti Kara yang mengabdi selama 22 tahun, Yasinta Sanggu Doa mengabdi 14 tahun, Suryani Sinlae mengabdi 15 tahun, dan David Hadjoh mengabdi 5 tahun. Senin (18/5/2026) pagi, Kompas menjumpai mereka di salah satu kantor. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Suryani menuturkan, pemecatan dilakukan oleh Sekretaris Umum KONI NTT Alfons Theodorus. Ketika pemecatan berlangsung, Alfons didampingi pengurus bidang hukum KONI NTT di ruangan kerja kantor KONI pada 7 Mei 2026. 

”Waktu itu kami tanya apa alasannya, tetapi mereka tidak menjawab. Mereka bilang alasan itu tidak bisa mereka sampaikan. Itu yang membuat kami bertanya-tanya. Ini ada apa?” kata Suryani.

Menurut Suryani, pada saat itu Alfons menyampaikan bahwa pemecatan atas sepengetahuan Emanuel Melkiades Laka Lena, Ketua Umum KONI NTT yang juga Gubernur NTT. ”Mereka setega itu memecat kami tanpa alasan,” ucap perempuan yang dulu membela NTT dalam berbagai kejuaraan itu. Ia mantan atlet kempo.

Empat orang itu ingin kembali bekerja. Maria Goreti Kara terakhir bekerja sebagai petugas administrasi di bidang keuangan, Yasinta Sanggu Doa di bagian teknologi dan informasi, Suryani Sinlae di bagian administrasi organisasi, dan David Hadjoh sebagai petugas kebersihan.

Serial Artikel

Setelah Singkirkan Pegawai yang Mengabdi Puluhan Tahun, KONI NTT Membela Diri

Warga menilai masa depan olahraga NTT akan suram jika dicampuradukkan dengan kepentingan politik.

Baca Artikel

Kendati sudah puluhan tahun bekerja, lanjut Goreti, status kepegawaian mereka hanya kontrak dan diperpanjang setiap tahun. Besaran gaji per bulan menyesuaikan dengan standar upah minimum provinsi, yang saat ini Rp 2,4 juta per bulan.

”Apa kesalahan yang kami lakukan sampai kami harus menerima keputusan seperti ini. Kalau saya melakukan korupsi atau kejahatan lain, silakan pecat saya. Mereka tidak punya hati untuk kami,” kata Goreti.

Posisi empat orang yang dipecat itu diduga akan digantikan oleh empat orang yang didominasi oleh kader partai politik. Pada Pilkada 2024 lalu, mereka menjadi bagian dari tim sukses dan pendukung Melkiades.

Dalam siaran pers, KONI NTT menyampaikan klarifikasi atas pemberitaan media mengenai pemecatan empat pegawai itu. ”Perlu kami jelaskan bahwa langkah yang dilakukan pengurus KONI Provinsi NTT merupakan bagian dari proses penataan dan penyegaran organisasi di lingkungan Sekretariat KONI,” tulis Alfons Theodorus, Sekretaris Umum KONI NTT.

Menurut dia, empat tenaga staf itu bertugas berdasarkan surat keputusan (SK) yang berlaku selama satu tahun. Selanjutnya, dilakukan evaluasi secara berkala sesuai kebutuhan organisasi. Dalam proses evaluasi, terdapat beberapa staf yang SK penugasannya tidak diperpanjang untuk periode berikutnya.

”Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan penghargaan atas pengabdian mereka, KONI Provinsi NTT akan tetap memberikan perhatian dan membantu memfasilitasi komunikasi serta peluang kerja di lembaga atau bidang lain sesuai kemampuan dan pengalaman masing-masing,” tulis Alfons.

Seluruh jajaran pengurus, cabang olahraga, atlet, pelatih, dan pemangku kepentingan olahraga diminta terus bekerja bersama mempersiapkan NTT menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028. Ia mengajak semua pihak untuk menjaga suasana yang sejuk, konstruktif, dan mengedepankan dialog demi kepentingan besar olahraga NTT. 

”Sedih, orang-orang profesional yang sudah puluhan tahun diganti oleh para politisi. Rusak kalau olahraga dicampuradukkan dengan kepentingan politik,” kata Hermanus (36), warga Kota Kupang.

Menurut dia, masa depan olahraga di NTT terancam jika kepentingan politik mendominasi. Terlebih, saat ini NTT digadang-gadang akan menjadi tuan rumah PON tahun 2028. Penentuan tuan rumah PON akan diputuskan dalam waktu dekat.

Serial Artikel

Anak Buah Gubernur NTT Pecat Pegawai KONI yang Puluhan Tahun Mengabdi

Pegawai yang menggantikan mereka didominasi tim sukses partai politik tertentu.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
TRENDING: Sikap Tegas Sherly Tjoanda soal Pinjol, Gubernur Malut Siapkan 100 Sapi, Dedi Mulyadi Minta Warga Jabar
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
5 dari 9 WNI Rombongan Global Sumud Flotilla 2.0 Ditangkap Israel
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Rupiah Terpuruk, Primus Yustisio Singgung Kredibilitas BI dan Minta Perry Warjiyo Mundur
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Timwas Haji DPR Apresiasi Pelayanan Haji Tahap Pertama di Madinah | KOMPAS PAGI
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Anton Solihin, Dinilai Jadi Figur Potensial Pimpinan DPRD Magetan
• 7 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.