Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Kondisi ini memicu spekulasi di media sosial bahwa tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia berkaitan dengan kepentingan asing dan komoditas strategis seperti nikel.
Pelemahan serentak tersebut menjadi sorotan netizen di media sosial X. Salah satu akun, @TradingDiary2, menduga tekanan terhadap IHSG dan rupiah bukan sekadar faktor pasar biasa.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Ambruk Lagi Gegara Efek Keputusan FTSE, BEI: Konsekuensi yang Mesti Diterima
“To think about. Venezuela dan Iran punya oil diapain sama USA? sekarang nikel is new oil. Indonesia punya nikel dah kaitkan deh,” tulis akun tersebut.
Ia juga menilai tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia merupakan bagian dari perang ekonomi modern.
“Tekanan terhadap Rupiah dan IHSG bukan sekadar kebetulan. Ini adalah refleksi dari perang asimetris modern, di mana senjata yang digunakan adalah tarif impor, sanksi tidak langsung, regulasi hijau, dan perang narasi. Indonesia sedang membayar ‘harga’ dari keberanian mengunci komoditas masa depan dunia,” lanjutnya.
Unggahan tersebut langsung memicu perdebatan di kalangan netizen lain. Sebagian mengaitkan tekanan pasar dengan kebijakan hilirisasi nikel Indonesia yang dinilai mengganggu kepentingan global.
“Artinya, ini semua imbas dari kita yang terlalu berani ambil risiko nge keep nikel kah? Apa karena kita terlalu berani nge cut off keuntungan negara-negara yang berkepentingan?” tulis salah satu netizen.
Namun, ada pula yang meragukan bahwa nikel menjadi faktor utama tekanan pasar.
“Nikel sebenarnya ga terlalu diperlukan dalam high volume,” balas netizen lain.
Komentar lain juga menyinggung persaingan geopolitik antara China dan Amerika Serikat dalam industri mineral strategis.
“Apakah masih tetap proxy China vs US di area nikel dkk? Bisa jadi ya Pak T karena beberapa tahun terakhir agak condong ke satu sisi,” tulis netizen lainnya.
Baca Juga: Rupiah dan IHSG Jeblok, DPR Desak BI Ambil Langkah Cepat
Di tengah spekulasi tersebut, tekanan terhadap pasar domestik memang terjadi seiring sentimen global yang memburuk, termasuk pelemahan rupiah, aksi jual asing, dan ketidakpastian ekonomi global.





