Menteri Pertahanan (Menhan) Taiwan Wellington Koo mengatakan pihaknya tetap "optimistis secara hati-hati" terkait penjualan senjata dari Amerika Serikat (AS), meski Presiden AS Donald Trump masih mempertimbangkan paket penjualan baru untuk Taiwan.
Pernyataan itu muncul usai pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan lalu yang turut menyinggung isu Taiwan.
Berbicara di parlemen Taiwan pada Selasa (19/5), Koo mengatakan AS telah berulang kali menegaskan kebijakannya terhadap Taiwan tidak berubah.
"Selama ini AS menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan melalui jalur penjualan senjata," kata Koo, seperti dikutip Reuters.
Ia menyebut kebijakan itu didasarkan pada Taiwan Relations Act, undang-undang AS tahun 1979 yang mengatur dukungan pertahanan bagi Taiwan.
Koo juga menuduh China sebagai pihak yang terus memicu ketegangan di kawasan.
"Pihak yang terus memprovokasi, menciptakan insiden, dan merusak status quo damai di Selat Taiwan adalah China, bukan negara kami," ujarnya.
Menurut Koo, jalur penjualan senjata AS menjadi counterbalancing force atau kekuatan penyeimbang penting untuk menjaga stabilitas di Selat Taiwan.
"Dalam situasi seperti ini, kami percaya mempertahankan jalur penjualan senjata itu sejalan dengan kepentingan AS," lanjutnya.
Pada Desember lalu, pemerintahan Trump menyetujui paket senjata senilai USD11 miliar (sekitar Rp 194 triliun) untuk Taiwan, yang disebut sebagai paket terbesar sepanjang sejarah.
Sementara itu, paket kedua senilai sekitar USD 14 miliar (sekitar Rp 241 triliun) hingga kini masih menunggu persetujuan resmi.
Pemerintah Taiwan kembali menegaskan hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan pulau tersebut, sekaligus menolak klaim kedaulatan China atas Taiwan.




