Rupiah dan IHSG Terpuruk, Otoritas Ramai-ramai Turun Gunung

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Pasar keuangan domestik kembali melemah pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan melemah 3 persen secara harian dan rupiah anjlok ke level Rp 17.700 per dolar AS.

Indeks Harga Saham Gabungan yang dibuka 6.599 melemah secara signifikan setelah pukul 10.00 WIB. Pada perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup di level 6.398 poin dan masih bertahan di sekitar posisi tersebut pada pembukaan perdagangan sesi kedua.

Mengutip situs RTI Business, 629 saham mengalami penurunan harga sehingga kapitalisasi pasar menjadi sebesar Rp 11.118 triliun. Dalam kondisi ini, investor asing mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp 321 miliar.

Saham-saham yang menjadi sumber pembelian bersih oleh asing antara lain saham terkait industri komoditas dan energi seperti MDKA, BUMI, DEWA, ADRO, MBMA, dan saham perbankan seperti BMRI.

Sementara, saham yang banyak dijual investor asing pada pertengahan perdagangan hari ini mayoritas masih terkait efek kebijakan lembaga penyedia indeks saham, MSCI, seperti BREN, DSSA, TPIA, CUAN, AMMN. Saham perbankan seperti BBCA dan BBRI juga masih disisihkan investor asing.

BRI Danareksa Sekuritas dalam ulasannya memprediksi tren penjualan saham masih akan mendominasi pergerakan IHSG. Batas bawah yang kemungkinan ditembus di 6.322 hingga rentang 6.100-5.900 sampai penutupan perdagangan hari ini.

Sentimen yang mendorong pelemahan antara lain, rumor regulasi ekspor satu pintu melalui entitas negara. Ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi kontrol harga dan margin eksportir, sehingga menekan saham-saham komoditas.

Selain itu, FTSE Russell kembali menunda full index re-ranking dan penambahan saham IPO hingga minimal September 2026 menjadi sentimen negatif tambahan.

Baca JugaGubernur BI: Rupiah Berpotensi Menguat pada Triwulan III-2026

Pada momen bersamaan, rupiah juga kembali mengalami depresiasi terhadap nilai tukar dolar AS. Rupiah Indonesia melemah ke posisi terendah baru mendekati Rp 17.730 per dolar AS, memperpanjang pelemahan sejak awal Mei.

Tekanan meningkat sementara Bank Indonesia (BI) memulai pertemuan kebijakan dua harinya. BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen setelah bertahan sejak Oktober, tetapi kekhawatiran semakin dalam mengenai dampak yang lebih luas dari penurunan mata uang.

Lampaui asumsi

Pengamat pasar uang dan Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, kepada wartawan hari ini, menilai, BI sudah berupaya keras melakukan intervensi di pasar. "Seharusnya pemerintah yang harus dapat teguran keras," ujarnya.

Ia menilai, pelemahan signifikan ini akibat komplikasi pada kebutuhan dolar AS yang cukup tinggi. Di APBN, rupiah dipatok Rp 16.500, sementara saat ini rupiah mencapai Rp 17.800.

Harga minyak di APBN juga masih dipatok 70 dolar AS per barel. Sementara, Kementerian ESDM sudah menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau ICP April di 117 dolar AS per barel.

"Kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel berkonsekuensi pada kenaikan anggaran Rp 4 triliun. Impor minyak kita mencapai 1,5 juta barel, tapi 85 persen masih disubsidi pemerintah," ucapnya.

Merespons kondisi pasar keuangan yang terus melemah, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyambangi Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Ia hadir bersama Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Danantara Rosan P. Roeslani, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Jasa (OJK) Friderica Widyasari Dewi, serta Direksi Bursa Efek Indonesia.

Dalam konferensi pers usai, Dasco,menyatakan, kehadiran parlemen di bursa adalah untuk memastikan adanya langkah mitigasi dari otoritas pasar modal dalam menghadapi volatilitas global ini. Fokus utamanya adalah menyempurnakan regulasi demi melindungi investor domestik.

"Kami banyak berdiskusi mengenai bagaimana Direksi Bursa dan OJK menyempurnakan regulasi-regulasi yang ada, yang bisa meyakinkan dan membuat para investor lokal atau ritel merasa nyaman," katanya.

Baca Juga”Rebalancing” MSCI Masih Jadi Pemberat Pasar Saham

Ia menanggapi bahwa pelemahan beruntun yang dialami IHSG belakangan karena dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Selain dipengaruhi oleh peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi suku bunga global yang tetap tinggi, pasar saham Indonesia tengah mengalami tekanan jual akibat pengumuman penyesuaian bobot (rebalancing) indeks global MSCI yang akan berlaku efektif awal Juni 2026.

"Mudah-mudahan setelah tanggal 29 Mei ini (tanggal efektif rebalancing MSCI), situasi mereda dan semua kerja keras menghadapi dinamika pasar global ini memiliki hasil yang baik," ujar Dasco.

Batas moderat

Friderica menjelaskan, meskipun IHSG terus melemah, penurunannya sejauh ini masih berada dalam batas moderat dan sejalan dengan tren bursa saham di Asia, di mana beberapa bursa regional bahkan terkoreksi jauh lebih dalam.

"Dinamika ini menunjukkan penyesuaian yang lebih berbasis fundamental. Penurunan ini merupakan konsekuensi logis dari berbagai transformasi struktur yang kita lakukan agar pasar bergerak lebih transparan," kata Friderica.

Di tengah tekanan jual asing akibat efek MSCI, Friderica mengatakan, pasar domestik masih ditopang oleh tingginya kepercayaan investor lokal. Sepanjang tahun berjalan (year to date), jumlah investor ritel baru justru bertambah hingga 7 juta investor. Ini menjadikan total investor pasar modal Indonesia kini menembus 27 juta investor.

Pada kesempatan sama, Rosan menekankan agar pelaku pasar tidak terjebak dalam kepanikan fluktuasi harian. Menurutnya, penurunan harga saham yang terjadi saat ini justru menciptakan valuasi yang sangat murah dan menarik untuk investasi jangka menengah-panjang, khususnya pada saham-saham BUMN.

"Secara fundamental, saham-saham BUMN kita di bursa, seperti perbankan Himbara dan emiten mineral, memiliki kinerja yang sangat baik dengan tingkat imbal hasil (dividend yield) di atas 10-11 persen. Bahkan saat ini, rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV) sektor perbankan ada yang di bawah 1 kali, padahal dalam kondisi normal biasanya di atas 2 atau 3 kali. Definitely there is a potential upside," tutur Rosan.

Optimisme tersebut didukung oleh data kinerja keuangan emiten. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, pada kesempatan sama menyampaikan, dari 957 perusahaan tercatat di bursa, hampir 85 persen telah merilis laporan keuangan 2025.

Hasilnya, secara akumulatif laba bersih (net income) emiten mengalami pertumbuhan solid sebesar 21,5 persen. "Dari sisi fundamental, ini relatif menarik," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Selangkah Lagi Jadi Juara, Manajemen Persiapkan Perayaan Juara Persib
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Terungkap Panggilan Sayang Pratama Arhan ke Inka Andestha
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Apindo: RI Berpeluang Masuk ke Rantai Pasok Semikonduktor Global
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Terdakwa Kasus Pembunuhan Kacab BRI Jalani Sidang Tuntutan
• 23 jam laludetik.com
thumb
Sudah 9 Jam Kebakaran Pabrik di Jakbar Belum Padam, Damkar Pakai Robot
• 17 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.