Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman merespons pelemahan rupiah terhadap dolar AS ke sektor pangan, utamanya ke beberapa komoditas yang masih impor. Menurutnya, ia sudah berkoordinasi dengan importir, utamanya importir kedelai, untuk tak menaikkan harga secara semena-mena.
Adapun kedelai memang menjadi salah satu komoditas yang diimpor dari neraca pangan 11 komoditas. Dalam neraca 2026, jumlah impor kedelai ada pada angka 2.478.283 ton.
“Jadi jangan melihat item per item. Kami sudah berita tahu semua pengimpor, tolong jangan semena-mena mengambil keuntungan. Kalau dia melakukan semena-mena, aku bisa melakukan sanksi, yaitu izinnya aku cabut,” kata Amran kepada media di kediamannya di Jakarta Selatan pada Selasa (19/5).
Adapun dari 11 komoditas dari neraca pangan, 8 di antaranya telah masuk kategori swasembada bahkan beberapa memiliki potensi ekspor. Komoditas yang dinyatakan swasembada meliputi beras, cabai besar, cabai rawit, jagung, dan gula konsumsi. Selain itu, terdapat tiga komoditas yang surplus dan berorientasi ekspor, yakni daging ayam, telur ayam, serta bawang merah.
Sementara itu, tiga komoditas yang masih impor untuk memenuhi kebutuhan nasional adalah bawang putih, kedelai, dan daging sapi/kerbau.
Untuk itu, Amran juga mendorong adanya ‘subsidi silang’ menyikapi naiknya nilai tukar dolar. Adapun subsidi silang yang dimaksud adalah dengan mendorong ekspor komoditas-komoditas yang memiliki potensi ekspor.
“Betul. Iya, pasti berpengaruh (dolar ke harga kedelai), tetapi ini ada subsidi silang. Karena kecil porsinya kan? Kalau makan itu, yang paling besar apa porsinya? Apa lagi? Berapa persen kedelai? 1 persen, 2 persen? Itu yang dimaksud Bapak Presiden. Bahwa positifnya kita dorong, apa yang menguntungkan petani kita dorong. Kita dorong sebesar-besarnya,” ujarnya.
“Jadi ini kita tahan, kita bagaimana kedelai itu harganya jangan naik setinggi mungkin, tetapi komoditas ekspor kita naikkan setinggi-tingginya,” lanjut Amran menjelaskan.
Amran juga menunjukkan data bahwa nilai ekspor pertanian terbaru dari 2024-2025 tercatat naik Rp 166,71 triliun atau sekitar 28,26 persen dari Rp 589,98 triliun menjadi Rp 756,69 triliun. Di sisi lain impor justru mengalami penurunan sebesar Rp 41,6 triliun atau sekitar 9,66 persen dari Rp 431,63 triliun menjadi Rp 389,95 triliun.





