PADANG, KOMPAS — Antrean kendaraan yang hendak mengisi solar bersubsidi atau Biosolar di sejumlah SPBU di Kota Padang, Sumatera Barat, meluber hingga ke jalan akibat terjadi peningkatan permintaan. Pemprov Sumbar telah meminta Pertamina untuk menambah suplai guna mengatasi persoalan tersebut.
Antrean panjang kendaraan pembeli Biosolar tampak di SPBU Air Pacah 14.251.525 pada Selasa (19/5/2026) siang. Truk mengantre hingga memakan sebagian badan Jalan Bypas di Kelurahan Air Pacah, Kecamatan Koto Tangah.
“Beberapa pekan terakhir saya semakin sulit mendapatkan Biosolar,” kata Hendra (40), salah satu sopir truk.
Hendra menjelaskan, sudah sejak pukul 10.00 WIB mencari solar bersubsidi. Mulanya dia antre di SPBU Pitameh. Namun, saat gilirannya hampir tiba, stok Biosolar di SPBU tersebut habis.
Hendra pun kemudian pindah ke SPBU Air Pacah usai mendapat informasi dari temannya bahwa stok Biosolar baru masuk. Sopir truk yang tiap pekan mengangkut CPO dari Bengkulu ke Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, itu bergegas memacu truknya ke SPBU Air Pacah.
Menurut Hendra, kesulitan mencari Biosolar tidak hanya terjadi di Padang, tetapi juga di Pesisir Selatan. “Di sana (Pesisir Selatan), kalau mengisi Biosolar Rp 800.000-850.000, kami juga harus mengisi Dexlite Rp 250.000. Kalau tidak, petugas tidak mau mengisi,” katanya.
Kesulitan mencari Biosolar berdampak signifikan pada Hendra. Waktunya banyak terbuang untuk mengantre. Biaya operasional juga membengkak. “Harusnya hari ini saya sudah muat DO (delivery order) lagi (di Bengkulu), tapi sekarang masih antre di Padang,” ujarnya.
Yuli Eka Putra, pengawas SPBU Air Pacah 14.251.525 mengatakan, stok Biosolar di tempatnya masih normal. Setiap hari SPBU ini mendapat suplai 16 kiloliter (KL) solar bersubsidi dari Pertamina.
“Stok SPBU normal. Kami pun bingung kenapa bisa terjadi antrean panjang. Padahal, tiap SPBU punya stok,” kata Putra.
Antrean panjang kendaraan pengisi Biosolar hingga memakan badan jalan juga terjadi di SPBU Khatib Sulaiman 14.2515.83 yang berada di pusat kota pada Selasa sore. Jika di Air Pacah didominasi truk, antrean di Jalan Khatib Sulaiman bervariasi dari truk kecil, bus, hingga minibus atau mobil pribadi.
Fadli (54), sopir travel Padang-Painan, mengaku sudah sejam mengantre Biosolar di SPBU Khatib Sulaiman 14.2515.83. Sebelum di SPBU ini, ia juga mencari solar bersubsidi di empat SPBU lainnya, tetapi stoknya kosong atau antrean terlalu panjang.
“Sekitar sebulan ini memang susah mencari solar (bersubsidi). Kadang sudah antre lama, pas giliran saya, stoknya habis,” kata Fadli.
Kesulitan mencari Biosolar membuat waktu Fadli habis untuk mengantre. Jumlah perjalanan travelnya pun berkurang. Dalam sehari, biasanya ia bisa dua kali pergi-pulang Padang-Painan. Sejak solar langka, keberangkatan mobilnya kadang hanya dua kali pergi dan sekali pulang.
“Harapan saya ketersediaan solar kembali normal. Kalau harganya mau dinaikkan, silakan dinaikkan. Tapi kalau digantung-gantung begini, masyarakat yang dibuat susah,” kata Fadli.
Kepala Operasional SPBU Khatib Sulaiman 14.2515.83 Asrul mengatakan, permintaan Biosolar di tempatnya memang meningkat sejak dua pekan lalu. Sementara itu, pasokannya masih seperti biasa, 16 KL per hari.
“Pengendara yang biasa isi Dexlite ada yang pindah ke Biosolar karena harga Dexlite naik,” kata Asrul.
Dia menjelaskan peminat Dexlite—harganya mencapai Rp 27.150 per liter—berkurang lebih dari separuh, berbanding terbalik dengan peningkatan peminat Biosolar—harganya Rp 6.800 per liter.
Secara terpisah, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar Helmi Heriyanto mengatakan, stok Biosolar di Sumbar masih aman dan tidak ada hambatan pengiriman. Cuma, memang terjadi peningkatan konsumsi sehingga memicu antrean panjang di SPBU.
“Setidaknya sepuluh hari terakhir ada peningkatan konsumsi sekitar 8 persen. Ini yang membuat stok di SPBU cepat habis. Sembari menunggu suplai tangki berikutnya, terjadi antrean kendaraan,” kata Helmi.
Helmi menyebut, Pertamina sudah berupaya menambah pasokan Biosolar sekitar 300-400 KL per hari dari rata-rata suplai harian di Sumbar sekitar 1.400 KL. Jadi, distribusi harian solar bersubsidi di Sumbar sudah mencapai 1.700-1.800 KL per hari. Namun, antrean kendaaran di SPBU masih terjadi.
“Jumat (15/5/2026) lalu, kami sudah bertemu Pertamina. Salah satu keputusan rapat, Gubernur Sumbar meminta Pertamina untuk menambah penyaluran dari kini 1.800 KL ditambah lagi sampai kondisi normal atau tidak terjadi lagi antrean,” ujar Helmi.
Kompas berupaya mengonfirmasi soal stok Biosolar dan antrean kendaraan di SPBU yang melimpah hingga ke badan jalan ini kepada Pertamina.
Section Head Communication and Relation Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut M Romi Bahtiar menyebut pihaknya sedang menyiapkan keterangan resmi terkait masalah ini.





