Bisnis.com, BALIKPAPAN — Neraca perdagangan Kalimantan Timur diprediksi tetap surplus hingga akhir 2026. Namun, fondasi ekonomi yang masih bertumpu pada komoditas ekstraktif menimbulkan kerentanan struktural yang mengkhawatirkan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Jajang Hermawan menyatakan, meski surplus perdagangan Kaltim konsisten selama tujuh tahun terakhir, bahkan di tengah pandemi Covid-19 beberapa tantangan krusial mengintai di tahun 2026.
"Meski demikian terdapat beberapa tantangan yang diprakirakan akan berisiko mengurangi gap surplus neraca perdagangan LN Kaltim di tahun 2026," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (19/5/2026).
Data BPS Kaltim mencatat, neraca perdagangan Maret 2026 masih surplus US$886,53 juta. Kendati demikian, sektor nonmigas menyumbang surplus US$1,33 miliar, sementara sektor migas justru defisit US$446,99 juta.
Secara kumulatif Januari—Maret 2026, surplus total mencapai US$3,16 miliar dengan defisit migas US$948,65 juta yang ditambal surplus nonmigas US$4.107,82 juta. Kondisi ini diperparah oleh sejumlah risiko yang mengancam kelanjutan surplus.
Pertama, kebijakan penyesuaian kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) komoditas batu bara yang dipangkas dari 790 juta ton di 2025 menjadi sekitar 600 juta ton di 2026 oleh Kementerian ESDM.
Baca Juga
- Mobilitas Kian Positif, Bandara Sepinggan Gendong 77% Penumpang Udara Kaltim
- Hotel Kaltim Sepi, TPK Maret 2026 Cuma 45%
- Harga TBS Kelapa Sawit Kaltim Merangkak Naik Periode I Mei 2026
Langkah ini ditempuh untuk menjaga stabilitas harga dan permintaan batu bara global, namun dipastikan akan memangkas kinerja ekspor Kaltim.
Kedua, volatilitas harga batu bara internasional yang kini berada pada level US$131 per metrik ton atau meningkat 33% dibandingkan awal tahun.
Peningkatan ini dipicu disrupsi logistik komoditas migas di Selat Hormuz akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah yang memicu fenomena gas to coal switching.
Kendati demikian, sejumlah analis energi memperkirakan lonjakan harga ini tak akan bertahan lama karena bersumber dari guncangan sementara (temporary shock).
Ketiga, akselerasi transformasi energi terbarukan di Tiongkok yang kini memiliki pangsa pembangkit energi baru terbarukan (EBT) lebih dari 50% dari total bauran energinya.
Kondisi ini berpotensi menekan permintaan batu bara global mengingat Tiongkok merupakan konsumen terbesar komoditas tersebut.
Sementara itu, penurunan ekspor migas Kaltim dinilai bersifat sementara dan non-struktural.
Jajang menjelaskan, penurunan tersebut tak terlepas dari disrupsi logistik yang memicu penyesuaian rantai pasok energi domestik. Namun, optimisme masa depan industri migas Kaltim masih terjaga berkat sejumlah katalis.
Penemuan sumur migas baru oleh PT ENI yang berlokasi 70 kilometer lepas pantai Kaltim (North Ganal) dengan potensi 5 Tcf gas bumi dan 300 juta barel kondensat minyak, salah satu yang terbesar di Indonesia dan diprediksi mulai beroperasi pada 2027—2028.
Selain itu, peresmian mega proyek RDMP Balikpapan pada 12 Januari 2026 yang meningkatkan kapasitas kilang dari 260.000 menjadi 360.000 barel per hari dengan standar Euro V diharapkan mengubah gas alam yang sebelumnya diekspor mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Dia menambahkan, Pupuk Kaltim juga mencatatkan produksi 6,68 juta ton di 2025 atau 107,3% dari target, disertai revamping Ammonia Pabrik-2 yang meningkatkan efisiensi 16%.
Sementara itu, Sekretaris Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Kaltim Muhammad Reza Fadhillah mengingatkan, kualitas surplus perdagangan Kaltim masih rapuh.
"Kaltim tetap menjadi mesin devisa nasional. Namun, kualitas surplus tersebut masih rapuh karena ditopang oleh sektor nonmigas dan komoditas ekstraktif primer," tegasnya.
Data BPS memperkuat kekhawatiran tersebut, impor Kaltim didominasi bahan baku/penolong dengan kontribusi 96,62% (US$1.562,04 juta) selama kuartal pertama 2026, sementara barang modal hanya 3,31% (US$53,59 juta) dan barang konsumsi nyaris tak berarti di 0,07% (US$1,14 juta).
Pola ini mengindikasikan struktur ekonomi yang masih berbasis pada industri pengolahan dengan kandungan lokal terbatas.
Reza menekankan, devisa Kaltim saat ini sangat bergantung pada harga komoditas global. "Ketika Harga Batu Bara Acuan (HBA) naik, devisa Kaltim terlihat kuat. Sebaliknya, saat harga turun atau permintaan dari Tiongkok dan India melemah, surplus akan langsung tertekan," jelasnya.
Berdasarkan data Ditjen Minerba, HBA April—Mei 2026 memang kembali menguat di kisaran US$99 hingga US$116 per ton, namun volatilitas tinggi ini menegaskan urgensi diversifikasi ekonomi.
"Tantangan utama Kaltim ke depan bukan sekadar mempertahankan nilai surplus, melainkan meningkatkan kualitasnya. Ekspor Kaltim harus naik kelas dari bahan mentah menjadi produk antara atau produk akhir bernilai tambah," tegas Reza.
Sektor-sektor potensial yang harus didorong meliputi hilirisasi batu bara, petrokimia, pupuk turunan, oleokimia, agro-maritim (kakao, kopi, perikanan), serta industri kayu legal dan berkelanjutan.
Sektor jasa industri seperti logistik, Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO), serta pengembangan industri pendukung Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara juga perlu diprioritaskan.
Dia menyebutkan, transformasi ekonomi non-ekstraktif difokuskan pada tiga kota utama a.l Samarinda sebagai pusat jasa, perdagangan, pembiayaan UMKM, dan logistik dengan PDRB 2025 mencapai Rp106,62 triliun dan pertumbuhan 6,22%.
Balikpapan sebagai hub logistik, energi, kilang minyak, dan pintu gerbang utama IKN serta Bontang yang diarahkan pada pengembangan produk turunan gas, green ammonia, metanol, dan petrokimia.
Reza mengingatkan, penurunan ekspor migas Kaltim tidak boleh dianggap fluktuasi sementara.
"Selain faktor siklikal, terdapat tren struktural yang lebih serius. Produksi dari lapangan migas matang cenderung menurun, sementara konsumsi energi domestik terus meningkat. Akibatnya, impor BBM dan LPG tetap besar, ditambah tekanan transisi energi jangka panjang," paparnya.
Dia menuturkan tanpa intervensi komprehensif, seperti penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR), pembangunan infrastruktur kilang dan petrokimia, serta pengembangan energi terbarukan Kaltim berisiko mengalami paradoks sebagai penghasil energi dengan neraca migas defisit.





