Krisis Hormuz Jadi Peluang Indonesia: Nasib Nikel Menembus Pasar Global

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang mengancam jalur distribusi minyak dunia menjadi alarm keras bagi ketahanan energi nasional. Sebagai negara importir neto migas, Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap fluktuasi harga energi global.

Namun, di tengah ancaman krisis tersebut, terdapat peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi dan mengukuhkan posisi nikel sebagai pilar ekonomi baru di kancah internasional.

Wakil Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), Ir. Resvani, M.B.A., membedah secara tajam bagaimana Indonesia harus bersikap. Ia menekankan ketergantungan pada energi fosil harus segera dialihkan dengan mengoptimalkan kekayaan mineral yang kita miliki.

Nikel, sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik, menjadi senjata utama Indonesia dalam menghadapi pergeseran peta energi dunia. Resvani menegaskan pentingnya momentum ini bagi masa depan pertambangan nasional.

"Jadi, sebetulnya krisis (di Selat Hormuz) ini adalah momentum buat kita untuk bisa melakukan transformasi. Karena kita punya banyak mineral yang bisa digunakan tidak hanya untuk sekadar konsumsi, tapi juga untuk renewable, yang kita sebut sebagai Climate Exchange Minerals,” ujar dia dalam program PODCAST LAB kumparan, Selasa (19/5).

Pernyataan ini menggarisbawahi nikel bukan lagi sekadar komoditas tambang biasa, melainkan instrumen penting dalam mitigasi perubahan iklim global.

Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Indonesia mulai mengadopsi standar pertambangan paling ketat di dunia, yakni Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).

Resvani menyoroti langkah progresif perusahaan tambang nasional, seperti Harita Nickel (PT Trimegah Bangun Persada Tbk), yang menjadi pionir sebagai perusahaan nikel terintegrasi pertama di Indonesia yang secara sukarela menjalani audit IRMA.

Selain Harita Nickel, perusahaan besar lainnya seperti PT Vale Indonesia Tbk juga telah mengambil langkah serupa, menunjukkan komitmen serius industri tambang tanah air dalam memenuhi tuntutan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) di level internasional.

Penerapan standar IRMA yang mencakup lebih dari 400 indikator ini bukan sekadar formalitas, melainkan strategi jitu untuk menembus pasar premium di Eropa dan Amerika Serikat.

Lalu, bagaimana langkah konkret selanjutnya agar nikel Indonesia benar-benar merajai pasar global dan tidak lagi dipandang sebelah mata terkait isu lingkungan?

Simak bedah strategi lengkap dan ulasan mendalam bersama Ir. Resvani, M.B.A dalam perbincangan eksklusif di PODCAST LAB kumparan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhan hingga Panglima TNI Rapat di DPR, Bahas Pasukan Perdaamaian
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Pena Petrofin Awards 2026 Dorong Kolaborasi Media dan Industri Energi di Makassar
• 59 menit laluterkini.id
thumb
Benarkah Nama Jawa Barat Diganti Jadi Tatar Sunda?, Dedi Mulyadi: Tidak Ada, Jawa Barat Tetap Jawa Barat
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Sinopsis JEJAK DUKA DIANDRA SCTV Episode 124, Hari Ini Selasa 19 Mei 2026: Diandra Hilang Misterius, Dimitri Terjebak di Sumur Gelap
• 3 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Dasco Sambangi BEI, Yakinkan Investor Tetap Tanam Modal di Indonesia | KOMPAS PETANG
• 1 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.