Duduk Perkara Penggerebekan Penulis Ahmad Bahar

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Penulis Ahmad Bahar mengungkap duduk perkara dugaan persekusi dan intimidasi yang dialami putrinya, Ilma Sani Fitriana, usai polemik video artificial intelligence (AI) yang menyeret namanya dengan Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules Rosario Marshal.

Dalam konferensi pers di Gedung PP Muhammadiyah, Bahar mengatakan, anaknya mengalami kekerasan verbal saat dipaksa mendatangi markas GRIB Jaya di Kedoya, Jakarta Barat.

“Untuk urusan anak saya yang dibawa tanpa izin dan dipaksa, kemudian ada kekerasan verbal, itu saya sungguh benar-benar enggak terima,” kata Bahar kepada wartawan, Selasa (19/5).

Dalam kesempatan yang sama, Ilma menceritakan persoalan bermula pada Kamis (14/5) saat waktu Magrib. Saat itu, ia menerima notifikasi OTP untuk akun WhatsApp miliknya secara tiba-tiba.

Tak lama setelah itu, akun WhatsApp milik Ilma keluar dan tidak bisa lagi diakses.

“Itu hari Kamis Maghrib. Tiba-tiba muncul notifikasi OTP ke akun WhatsApp saya. Beberapa saat kemudian akun WhatsApp saya logged out,” ujar Ilma.

Ia sempat mencoba masuk kembali ke akunnya, namun OTP tidak masuk ke nomor ponselnya. Ilma kemudian menghubungi provider untuk mencari solusi.

Setelah akses kembali didapat, Ilma mengetahui akun WhatsApp miliknya sempat digunakan pihak lain.

Ia mengetahui hal itu setelah seorang temannya menghubungi lewat Instagram dan menanyakan isi percakapan yang dikirim dari nomor Ilma.

“Dia bilang, ‘Loh ini barusan saya chat sama siapa?’ Dia kasih unjuk ada kata-kata kasar yang menurut saya enggak bagus,” ujarnya.

Ilma juga mendapat tangkapan layar berisi empat video yang berkaitan dengan ayahnya, Ahmad Bahar dari nomor tak dikenal yang sempat dihubungi oleh pihak yang meretas akun miliknya.

Menurut Bahar, video tersebut merupakan video AI yang menampilkan wajah dirinya, tetapi bukan dibuat olehnya.

“Wajahnya wajah saya, mulutnya mulut saya, tapi itu AI. Bukan saya dan bukan anak saya,” kata Bahar.

Ia menyebut video tersebut terkirim ke nomor Hercules, istrinya, serta dua pejabat GRIB Jaya akibat dugaan peretasan nomor dirinya dan Ilma.

Usai persoalan dugaan peretasan itu, anggota GRIB disebut mendatangi rumah Ahmad Bahar di Cimanggis, Depok pada Jumat (15/5) untuk meminta klarifikasi terkait pesan dan video yang terkirim.

Ilma mengatakan dirinya telah menjelaskan sejak awal bahwa akun WhatsApp miliknya diretas.

“Datang anggota dari GRIB untuk minta klarifikasi apa benar kita yang kirim. Saya jelaskan dari awal sampai akhir kalau memang akun saya di-hack,” ujarnya.

Ilma mengira persoalan selesai setelah pertemuan tersebut. Namun situasi berubah ketika anggota GRIB kembali mendatangi rumah keluarganya pada Minggu (17/5).

Pada Minggu (17/5), saat Bahar dan istrinya tidak berada di rumah, Ilma hanya bersama adiknya dan neneknya yang sedang sakit. Saat itu sejumlah orang datang mencari Ilma. Mereka tidak percaya bahwa Bahar tidak berada di rumah.

“Mereka mendesak anak saya untuk menunjukkan ke dalam rumah, masuk ke rumah, mencari saya di dalam rumah,” kata Bahar.

Ilma mengaku berada dalam situasi sulit karena saat itu belum ada aparat lingkungan maupun petugas keamanan.

“Mereka terus mendesak saya, ‘coba dicek, dek, di dalam pasti ada Bapak’,” kata Ilma.

Akhirnya, Ilma mengantar satu orang masuk untuk memastikan ayahnya memang tidak berada di rumah.

“Dilihat satu orang saja sebenarnya. Terus sampai ke luar lagi bilang, ‘iya enggak ada’,” ujarnya.

Namun setelah itu, Ilma diminta ikut ke kantor GRIB Jaya di Kedoya, Kebon Jeruk. Ia sempat menolak karena merasa tidak memiliki kaitan dengan persoalan tersebut.

“Saya juga memang tidak mau ya. Yang dicari Bapak, kenapa saya harus ikut?” ujar Ilma.

Ilma akhirnya berangkat ke kantor GRIB Jaya, pada Minggu (17/5), setelah mendapat pendampingan dari Ketua RW setempat. Ia tiba di lokasi sekitar waktu Magrib dan menunggu kedatangan Hercules.

Menurut pengakuannya, Hercules tetap tidak percaya bahwa akun WhatsApp miliknya diretas.

“Pak Hercules masih tetap tidak percaya bahwa akun saya di-hack. Saya merasa tertekan, terintimidasi,” katanya.

Ahmad Bahar menyebut putrinya berada di lokasi dari sekitar pukul 18.00 hingga pukul 23.00 WIB. Ia mengaku baru mengetahui detail kejadian yang dialami Ilma setelah berbicara dari hati ke hati pada Senin (18/5) malam.

“Kalau saya tahu sebelum perdamaian itu dibuat, saya tidak akan mungkin berdamai,” ujarnya.

Ahmad Bahar menilai putrinya mengalami tekanan psikis dan kekerasan verbal saat berada di markas GRIB Jaya. Ia mengatakan tekanan terbesar dialami Ilma saat berhadapan langsung dengan Hercules.

“Yang paling membuat dia tertekan adalah oleh Bung Hercules itu sendiri,” kata Bahar.

Ia juga mengungkap adanya ucapan dari anggota GRIB Jaya yang disebut menyampaikan data pribadi Ilma, termasuk tanggal lahirnya.

Menurut Bahar, putrinya sempat menangis ketika data tersebut disebutkan.

“Dia nangis ketika ditanya, ‘Saya tahu datamu, data ayahmu saya juga tahu. Kamu lahir tanggal 17 kan?’” ujar Bahar.

Ia menyebut dugaan penyebutan data pribadi itu dilakukan tim hukum GRIB.

Atas peristiwa itu, Ahmad Bahar mengatakan keluarga akan menempuh jalur hukum terpisah dari persoalan video AI yang sebelumnya telah diselesaikan.

Ia menyebut pihaknya akan berkonsultasi lebih dulu ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komnas Perempuan, hingga pelaporan ke pihak kepolisian.

“Nanti kita konsultasi dulu ke LPSK, kemudian ke perlindungan perempuan, terus pada akhirnya mau tidak mau ke Polda Metro,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Riset dan Advokasi Kebijakan Publik LBH PP Muhammadiyah Ghufroni mengatakan pihaknya menargetkan pengaduan dilakukan dalam waktu dekat.

“Kita usahakan secepatnya, mungkin hari Kamis kita akan ke LPSK, termasuk ke Komnas Perempuan dan beberapa instansi yang terkait perlindungan perempuan,” kata Ghufroni.

Selain itu, LBH Muhammadiyah juga berencana meminta perlindungan hukum dan jaminan keamanan ke Mabes Polri.

“Jangan sampai peristiwa yang kemarin berturut-turut dua hari itu terulang kembali,” ujar Ghufroni.

Penjelasan Lengkap GRIB Jaya: Bantah Ada Pengepungan-Penyanderaan

Sementara itu, Kepala Bidang Humas dan Publikasi DPP GRIB Jaya Marselinus Gual membantah adanya narasi pengepungan terhadap rumah Ahmad Bahar.

Menurut Marselinus, anggota GRIB Jaya yang datang ke lokasi hanya berjumlah lima orang. Mereka bertujuan melakukan klarifikasi atas konten yang dinilai menyerang Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules Rosario Marshal.

“Tidak ada pengerahan massa, hanya lima anggota satgas,” tulis Marselinus dalam keterangan resminya yang diterima kumparan, Selasa (19/5).

GRIB Jaya juga menolak tudingan adanya tindakan melawan hukum, termasuk dugaan penyanderaan atau tekanan fisik.

Menurut mereka, proses yang berlangsung sejak kedatangan di rumah Ahmad Bahar hingga tahapan koordinasi dilakukan dengan pendampingan Ketua RW setempat dan disaksikan aparat kepolisian.

“Seluruhnya dikawal dan didampingi langsung oleh Ketua RW setempat serta disaksikan oleh aparat kepolisian,” ujarnya.

Dalam penjelasannya, DPP GRIB Jaya menyebut langkah klarifikasi dilakukan setelah tim hukum organisasi mengumpulkan bukti digital terkait dugaan doxxing dan intimidasi siber melalui sejumlah nomor WhatsApp yang disebut menyebarkan konten ofensif kepada pihak Hercules.

GRIB Jaya juga menyebut proses klarifikasi di rumah Ahmad Bahar awalnya berjalan kondusif. Namun, Ahmad Bahar disebut diminta hadir ke kantor DPP GRIB Jaya untuk memberikan penjelasan secara langsung.

Namun, Ahmad Bahar disebut tidak berada di lokasi dan telepon selulernya dalam keadaan tidak aktif.

“Ahmad Bahar justru sempat menghindar dan mematikan telepon genggamnya. Ia kemudian meminta putrinya untuk datang ke Kantor DPP GRIB Jaya murni untuk proses klarifikasi awal,” kata Marselinus.

DPP GRIB Jaya juga menegaskan polemik terkait video yang beredar sebelumnya telah diselesaikan melalui jalur damai.

Mereka menyebut pertemuan antara kedua pihak berlangsung di Polres Metro Depok pada 17 Mei 2026 dan menghasilkan kesepakatan damai yang dituangkan dalam surat pernyataan.

Selain itu, GRIB Jaya menyatakan Ahmad Bahar telah menyampaikan permohonan maaf kepada Hercules, keluarga, dan jajaran organisasi dalam pertemuan bersama tim hukum dan advokasi DPP GRIB Jaya pada Senin (18/5).

“Dengan tercapainya kesepakatan ini, GRIB Jaya dan Ahmad Bahar sepakat untuk mengakhiri segala kegaduhan ini secara kekeluargaan,” tulis Marselinus.

Meski demikian, secara terpisah, Ahmad Bahar menegaskan perdamaian tersebut hanya terkait persoalan video AI dan tidak mencakup dugaan intimidasi serta kekerasan verbal yang disebut dialami putrinya, Ilma.

“Untuk saya memang sudah berdamai dalam kaitan dengan video. Tapi persoalan yang dialami anak saya itu terpisah,” kata Ahmad Bahar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Truk Diduga Hilang Kendali Tabrak Sepeda Motor di Tangerang, 2 Orang Tewas
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Garuda Baru Cetak Sejarah! Indonesia Juara Boys Shield Street Child World Cup 2026
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
KSP Ungkap Kondisi WNI Ikut Misi Kemanusiaan ke Gaza, 5 Ditangkap Israel dan 4 Lanjut Berlayar
• 12 menit laluokezone.com
thumb
Musnahkan 200 Kg Ganja, Kapolda Sumsel: Peredaran Narkoba Merusak Generasi Bangsa
• 11 jam laluokezone.com
thumb
IHSG Lanjut Melemah ke Level 6.370, Saham LQ45 CUAN, PTBA, MBMA Berguguran
• 10 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.