MEKKAH, KOMPAS – Sepekan menjelang puncak haji, tim Amirul Hajj Indonesia mulai berdatangan ke Kota Mekkah, Arab Saudi. Diawali Wakil Menteri Haji dan Umrah, yang juga Wakil Amirul Hajj, Dahnil Anzar Simanjuntak, pada Senin (18/5/2026), dijadwalkan Menteri Haji dan Umrah selaku Amirul Hajj Mochamad Irfan Yusuf juga tiba, Selasa (19/5/2026) sore waktu setempat.
Kedatangan Dahnil, bersama Wakil Menteri Perhubungan Komjen Pol (Purn) Suntana, Tim Monitoring Kementerian Pertahanan Brigjen Wira, dan pengusaha Yusuf Hamka, merupakan gelombang pertama tim Amirul Hajj. Amirul Hajj beranggotakan 13 orang lintas kementerian, tokoh agama, akademisi, dan unsur profesional.
“Amirul Hajj bertugas sebagai representasi negara dalam diplomasi dengan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sebagai tuan rumah haji,” ujar Dahnil kepada Media Center Haji (MCH) di Jeddah.
Selain fungsi diplomasi, Amirul Hajj juga memiliki tugas pengendalian pelayanan serta pemantauan penyelenggaraan ibadah haji Indonesia di Tanah Suci. Dahnil menjelaskan, Amirul Hajj dibagi ke dalam tiga kelompok kerja.
Pertama, kelompok KH Ahmad Dahlan dipimpin Amirul Hajj Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan. Kedua, kelompok KH Hasyim Asy’ari dipimpin Dahnil, dan ketiga, kelompok HOS Cokroaminoto dipimpin Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar. Tokoh lain yang tergabung di Amirul Hajj, antara lain yaitu mantan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Hasyim Syah Nasution dari Muhammadiyah, dan KH Asep dari Nahdlatul Ulama.
Setelah tiba di Jeddah, Senin sore, malam harinya Dahnil dan tiga anggota Amirul Hajj lainnya serta rombongan menunaikan ibadah umrah wajib di Masjidil Haram. Saat mereka umrah, suasana masjid tersuci bagi umat Muslim sangat padat. Beberapa anggota rombongan sempat terpisah, sebelum kemudian menyatu lagi.
Seusai umrah, Dahnil meninjau Terminal Syib Amir, satu dari tiga terminal bus jemaah Indonesia. Dalam keterangan pers di Jeddah, seperti dirangkum tim MCH, Dahnil menyampaikan evaluasi menyeluruh fase keberangkatan jemaah haji dari Tanah Air serta kesiapan layanan di Tanah Suci.
"Di Indonesia, alhamdulillah banyak perbaikan, tidak ada isu-isu yang krusial. Jadi, biasanya kan isunya adalah ada pergantian atau terpisahnya mahram atau anggota keluarga. Nah, sampai dengan hari ini pada saat keberangkatan, kami tidak menemukan ada pergantian atau perpisahan mahram," ujar Dahnil.
Selain sukses menekan angka keterpisahan keluarga atau mahram, Dahnil juga menyoroti kelancaran distribusi kartu Nusuk, yang dibagikan di Indonesia, bagi jemaah untuk beribadah di Masjidil Haram dan masya’ir muqaddasah (Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Namun, dari pengamatan Kompas, penanganan kartu Nusuk yang hilang milik jemaah berlarut-larut. Asep Suryana, jemaah Embarkasi Kertajati, mengaku sudah minggu melaporkan kartu Nusuk-nya. Bersama Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), ia sudah melaporkan ke syarikah atau perusahaan Arab Saudi yang menerbitkan kartu. Namun, hingga kini belum ada kejelasan dari syarikah.
Dari sektor logistik dan konsumsi jemaah, lanjut Dahnil, kementerian juga memastikan semuanya berjalan sesuai standar regulasi tanpa ada kendala medis maupun pemangkasan porsi. ”Isu konsumsi, alhamdulillah semuanya berjalan baik. Tidak ada isu misalnya keracunan, tidak ada isu makanan tidak sesuai gramasinya, dan seterusnya. Isu-isu lain tidak ada yang sensitif, semuanya berjalan dengan lancar," tambah Dahnil.
Dahnil menegaskan, pemerintah tidak mau lengah. Sektor kesehatan jemaah haji kini menjadi prioritas utama dan catatan evaluasi yang akan dipantau secara ketat, terutama saat jemaah sudah berada di Arab Saudi. Pihaknya bersama tim medis dan Amirul Hajj berkomitmen memonitor secara berkala guna mengantisipasi kerawanan kesehatan pada jemaah, khususnya lansia.
"Di Tanah Suci juga kami akan memantau dengan ketat terkait dengan isu kesehatan. Misalnya isu demensia, isu penyakit menular, dan sebagainya. Itu menjadi perhatian khusus kami," ujar Dahnil.
Menurut dia, fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh jemaah dalam kondisi sehat dan siap menghadapi fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) yang menjadi inti pelaksanaan ibadah haji. Pemerintah terus memperketat pemantauan kesehatan jemaah, terutama kelompok lanjut usia dan risiko tinggi.
Terkait persiapan Armuzna, PPIH Arab Saudi membentuk Tim Khusus Mina beranggotakan para petugas haji bidang Pelindungan Jamaah (Linjam) yang sudah pernah bertugas sebelumnya. Koordinator Bidang Satuan Operasi (Satop) Armuzna dan Pelindungan Jamaah PPIH Arab Saudi, Harun Arrasyid, mengatakan, ”Timsus Mina ini akan bergerak sejak tanggal 7 Dzulhijjah tidak ke Arafah, tetapi langsung ke Mina.”
Tugas Timsus Mina, antara lain, adalah menyambut jamaah yang murur (tidak berhenti di Muzdalifah), memantau pergerakan jamaah dari tenda-tenda menuju Jamarat atau tempat melempar jamrah, serta memberikan pengawasan, pelindungan, dan bantuan saat jamaah melempar jamrah pada malam 10 Dzulhijah.
Pelayanan jemaah di Armuzna dikendalikan oleh satuan operasional Armuzna. Tahun ini, Satuan Tugas (satgas) Arafah menjadi tanggung jawab PPIH Daker Bandara, Satgas Muzdalifah di bawah koordinasi PPIH Daker Makkah, dan Satgas Mina diserahkan kepada PPIH Daker Madinah.
Harun juga mengimbau jamaah untuk selalu menjaga kesehatan, menjaga stamina, dan tidak terlalu banyak keluar dari hotel secara berlebihan. Hal itu disebabkan para jamaah akan bergerak selama kurang lebih tujuh hari saat operasional Armuzna.
"Jamaah harus mempersiapkan diri terutama kaitannya dengan stamina mengingat durasi Armuzna yang cukup panjang. Selain itu, jamaah juga diimbau untuk tetap berada di rombongan, jangan sampai terpisah, mengingat nanti jamaah akan berada di lokasi yang baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya," ujar Harun.
Kepala Satuan Operasional Armuzna, Surnadi, menyatakan bahwa persiapan puncak haji Armuzna nanti telah mencapai 95 persen. "Dari mulai tenda yang mana sudah digelar semuanya, kemudian sarana (prasarana) di dalamnya seperti kasur sudah digelar semuanya," ujar Surnadi usai acara pengarahan Kasatops Armuzna, Senin (18/5/2026).
Adapun sarana prasarana di dalam tenda di Armuzna di antaranya meliputi pendingin ruangan (AC), toilet, serta tempat shalat. Surnadi pun optimistis tiap jamaah tanpa terkecuali bisa memperoleh fasilitas tenda saat di Armuzna. Pihaknya pun sudah melakukan pengecekan terkait kesiapan tenda pekan lalu.
Terkait ibadah saat Armuzna, Musyrif Diny KH Abdullah Kafabihi Mahrus, Selasa (19/5/2026), mengingatkan jemaah untuk menghindari penggunaan telepon seluler. “Jadi ketika di Arafah nanti kita sudah menghindari dari main handphone pada waktu jam 12 siang sampai maghrib,” katanya kepada Media Center Haji di Makkah.
Kiai Kafabihi mengatakan, imbauan penggunaan handphone di jam tersebut bertujuan agar jemaah haji Indonesia dapat fokus dan mengoptimalkan waktu di Arafah dengan melakukan ibadah. “Yaumul Arafah itu supaya kita gunakan dengan sebaik-baiknya untuk doa, untuk berdzikir, atau baca sholawat,” kata Kiai Kafabihi yang juga menjabat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Kiai Kafabihi juga mengungkapkan, Arafah sendiri merupakan tempat dan waktu yang mustajab untuk bermunajat, sehingga ia mengingatkan jemaah untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk berdoa. “Kalau di Indonesia kan hanya waktu saja yang mustajab seperti seperti sepertiga malam, tapi kalau di Tanah Suci, ini ada waktu mustajab dan ada tempat mustajab yang bisa digunakan sebaik-baiknya mungkin,” ungkapnya.





