Oleh: Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ada satu hal yang sering tidak disadari ketika masyarakat melihat rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat: yang bergerak bukan hanya ekonomi, melainkan juga psikologi publik.
Begitu layar perdagangan menunjukkan angka kurs menembus batas tertentu, kegelisahan segera menyebar. Judul media menjadi lebih keras.
Baca Juga
Pakistan Kerahkan 8.000 Tentara dan 16 Jet Tempur ke Arab Saudi, Ada Apa?
Yang Ditutup-tutupi Israel di Balik Slogan Militer Paling Bermoral di Dunia
Terbunuhnya Sang Penggembala Kambing Seusai Bongkar Pangkalan Militer Rahasia Israel di Irak
Media sosial berubah seperti ruang kepanikan massal. Percakapan warung kopi mulai dipenuhi kekhawatiran tentang krisis. Seolah-olah nasib sebuah bangsa ditentukan hanya oleh satu angka yang bergerak di pasar valuta asing.
Padahal sejarah ekonomi dunia tidak pernah sesederhana itu.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dalam sistem ekonomi global modern, nilai tukar mata uang bukan hanya ditentukan oleh kekuatan fundamental ekonomi, melainkan juga oleh arus modal spekulatif, algoritma perdagangan, perang geopolitik, ekspektasi investor, lembaga pemeringkat, hingga psikologi ketakutan pasar dunia.
George Soros pernah menjelaskan melalui teori reflexivity bahwa pasar tidak sekadar membaca kenyataan, tetapi sering ikut membentuk kenyataan itu sendiri.¹
Ketika persepsi negatif dibangun terus-menerus, modal keluar, tekanan meningkat, dan kepanikan perlahan dapat berubah menjadi masalah ekonomi nyata.
Karena itu, ekonomi global hari ini bukan hanya perang produksi dan perdagangan, melainkan juga perang persepsi.
Karl Polanyi sejak lama telah mengingatkan bahwa pasar modern memiliki kecenderungan melepaskan dirinya dari realitas sosial masyarakat.²
Infografis pergerakan kurs rupiah per 29 April 2026. - (Infografis Republika)
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.