VIVA – Melalui Kisah Legendaris, VIVA Sport mengajak pembaca bernostalgia dengan berbagai cerita timeless dari dunia olahraga, mulai dari rivalitas panas, perjuangan atlet, hingga momen yang mengubah sejarah
Bagi pencinta olahraga tinju, Muhammad Ali bukanlah sosok yang asing. Meski kini, sang legenda telah meninggal dunia, prestasi-prestasinya tak lekang oleh waktu dan warisan semangatnya turun temurun
Muhammad Ali terlahir dengan nama Cassius Marcellus Clay Jr. Dia mulai mencuri perhatian setelah meraih medali emas Olimpiade 1960. Empat tahun berselang, ia sukses merebut gelar juara dunia tinju kelas berat usai mengalahkan Sonny Liston pada 1964. Kemenangan tersebut menjadi titik awal lahirnya legenda besar dalam sejarah tinju dunia.
Namun, perjalanan Ali tidak hanya soal sabuk juara dan kemenangan spektakuler. Ali, tidak hanya dikenang sebagai petinju hebat, tetapi juga simbol perjuangan, keberanian, dan keyakinan.
Selain itu, Ali juga dikenal sebagai figur kontroversial yang berani melawan arus. Salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya adalah memeluk Islam pada tahun 1964.
Keputusan itu langsung mengguncang Amerika Serikat. Ali mengumumkan dirinya sudah mengucap dua kalimat syahadat dan bergabung dengan Nation of Islam dan meninggalkan nama Cassius Clay. Ia kemudian memilih nama Muhammad Ali sebagai identitas barunya.
Langkah tersebut memicu pro dan kontra. Banyak media di Amerika tetap memanggilnya dengan nama lama selama bertahun-tahun. Namun bagi Ali, keputusan memeluk Islam adalah bagian dari pencarian jati dirinya.
Perjalanan spiritual Ali tidak lepas dari pengaruh Malcolm X. Keduanya bertemu pada awal 1960-an dan langsung menjalin hubungan dekat. Malcolm X bahkan menjadi sosok penting yang membantu Ali memahami ajaran Islam dan memperkenalkannya lebih dalam kepada Nation of Islam.
Tak lama setelah menjadi juara dunia, Ali secara terbuka menyatakan dirinya seorang Muslim. Momen itu menjadi salah satu titik paling bersejarah dalam perjalanan hidupnya.
Keberanian Ali kembali terlihat ketika ia menolak wajib militer Amerika Serikat pada era Perang Vietnam. Ia menegaskan keyakinannya sebagai Muslim membuat dirinya menolak ikut perang.




